Inilah Tips Menghadapi Penjarahan Pasca-Bencana

 Polisi akan menindak tegas pelaku penjarahan di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Apa pun itu, bagi Polri, penjarahan melanggar hukum.

"Ini situasi dalam kondisi darurat bencana. Kalau keterlaluan, ditindak!" ucap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2018).

Dia menyebutkan keterlaluan yang dimaksud seperti menjarah produk yang bukan kebutuhan pokok, seperti barang elektronik.

Dia pun mengimbau warga tidak melakukan penjarahan. "Iya ini kan ada undang-undangnya. Kami mohon dengan sangat kepada masyarakat, jangan melakukan itu karena itu pelanggaran hukum," sambung Setyo.

Oleh : Purnawan Kristanto

Aksi rebutan bahan makanan di sejumlah minimarket hingga rebutan BBM di SPBU marak terjadi di Kota Palu pasca-gempa bermagnitudo 7,4 pada Jumat (28/9/2018). Salah satu warga, Abdullah, mengaku terpaksa berebut makanan di minimarket karena tak ada lagi makanan untuk bertahan hidup (Kompas). 

Penjarahan pada masa tanggap darurat ini kemungkinan didorong oleh insting untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian. Aksi seperti ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah. Hal yang mirip juga terjadi paska gempa Mei 2006 di DIY dan Jateng. 

Beberapa hari setelah gempa, para penyintas menghentikan paksa mobil pembawa bantuan yang melintas karena respons bantuan yang kurang cepat. Mereka mencegat kendaraan pembawa bantuan dari masyarakat untuk diturunkan dengan paksa. Karena tidak mau terlibat konflik, maka pembawa bantuan tersebut akhirnya terpaksa membongkar bantuan mereka.

Akibat aksi ini, maka distribusi bantuan menjadi tidak merata. Yang paling kasihan adalah para penyintas yang berlokasi jauh dari jalan raya karena mereka tidak segera mendapat bantuan. 

Saya mendapati praktik seperti ini dilakukan saat bencana banjir pasca siklon Cempaka di Klaten. Ada sekelompok orang sengaja membangun tenda menutupi jalan masuk di sebuah desa supaya mobil pengangkut bantuan terhenti dan terpaksa membongkar muatan di situ. Padahal desa tetangga juga menggunakan jalan itu.

Kembali ke gempa tahun 2006. Karena kondisi demikian, mobil boks GKI Gejayan sempat rusak diamuk oleh massa. Ceritanya begini: Saat itu, situasinya memang semrawut. 

Di kalangan relawan ada rasa kekhawatiran mobil mereka dihentikan paksa para penyintas. Sementara itu di kalangan penyintas sedang tersiar desas-desus bahwa ada mobil boks beroperasi malam hari untuk mencuri ternak dan harta benda warga yang ditinggal mengungsi. Jadi di kedua belah pihak sudah ada perasaan gelisah.

Suatu siang, posko GKI Gejayan Yogyakarta mengirim bantuan menggunakan mobil boks. Dengan pengawalan polisi yang menumpang di kabin depan. Di Bantul, mobil terpaksa berhenti karena dihadang portal yang dibangun seadanya. Karena khawatir akan dijarah maka sopir mobil boks itu segera balik kanan. 

Sementara itu, penyintas yang melihat bahwa ada mobil box buru-buru putar balik, mereka curiga bahwa mobil ini berniat jahat. Maka amarah mereka langsung tersulut. Mereka mengejar mobil box itu dan memecah kaca depannya. Kesalahpahaman seperti ini mudah sekali tersulut pada masa bencana karena banyak sekali ketidakpastian dan desas-desus yang simpang siur.

Sharing Siasat

Untuk menghadapi situasi seperti ini Relawan harus memutar otak untuk menyiasati keadaan. Berikut ini sharing beberapa hal yang pernah dilakukan oleh relawan tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (tim GKI):

1. Kamuflase

Saat terjadi bencana banjir di Jakarta, penyintas juga mencegati bantuan. Relawan dari GKI Rawamangun menyiasatinya dengan melakukan kamuflase. Mereka mengangkut bantuan, utamanya bahan makanan, menggunakan mobil jenazah. Karena tidak menyangka bahwa mobil tersebut membawa bantuan, maka mobil jenazah tersebut diloloskan dari penghadangan sehingga selamat sampai tujuan.

2. Pengawalan Penyintas

Beda lagi cara yang ditempuh oleh relawan GKI Klaten. Mereka biasanya meminta pengawalan dari penyintas yang akan menerima bantuan. Mereka yang menjemput mobil bantuan, selanjutnya mereka mendahului mobil untuk jadi pembuka jalan. 

Saat ada penghadangan, penyintas ini yang akan bernegosiasi dengan penghadang. Biasanya di antara mereka sudah lama saling mengenal sehingga akhirnya mobil diberi jalan.

3. Pengawalan Polisi

Ini yang dilakukan oleh GKI Gejayan. Mereka meminta bantuan polisi untuk ikut serta di dalam mobil pembawa bantuan.

4. Penyintas Mengambil Bantuan

GKI Klaten membuka posko kemanusiaan di jantung lokasi bencana. Bantuan ditampung di tempat itu. Selanjutnya penyintas diminta mengambil sendiri bantuan untuk desanya masing-masing menggunakan sepeda motor. 

Monday, October 1, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: