Inilah Mulut Fahri Hamzah Pasca Teror Mako Brimob

Oleh : Arman Dhani

Fahri Hamzah, politikus PKS yang tak diakui partainya sendiri itu, memberi komentar buram tentang tragedi yang sedang terjadi di Mako Brimob.

Menurut Fahri, para narapidana teroris iri dengan perlakuan khusus pemerintah terhadap salah seorang narapidana yang mantan pejabat. Bagi saya ini menarik karena dua hal. Pertama, ia menganggap narapidana teroris yang sudah menyerahkan hidupnya untuk jihad ini masih terpikat pada kenikmatan duniawi sehingga masih bisa iri. Kedua, ia menganggap bahwa fasilitas si narapidana mantan pejabat ini istimewa.

“Kita tahu kemarin itu ada peristiwa seorang pejabat yang tidak mau dipindahkan ke LP (Lembaga Pemasyarakatan) kan. Itu gitu. Ada perasaan-perasaan tidak adil itu kadang-kadang memancing orang untuk melakukan tindakan perlawanan,” ujarnya.

“Karena itu saya sering mengulang-ulang kata-kata ini ya. Tidak cukup menjadi adil terutama bagi penegak hukum, tapi dia harus nampak adil. Keadilan itu harus kasat mata supaya dia memberikan keinsafan, memberikan kepuasan kepastian.”

Fahri Hamzah jelas tahu kondisi sel narapidana korupsi dengan narapidana kejahatan umum sangat kontras di Sukamiskin. Narapidana kejahatan umum hanya punya satu alas tidur, menyatu dengan bak mandi kecil dan kloset jongkok yang bau. Sejauh ini belum ada kerusuhan di Sukamiskin akibat makanan ataupun karena adanya mantan pejabat yang punya kamar istimewa.

Tuduhan bahwa kerusuhan yang membunuh beberapa polisi di Mako Brimob melulu karena ketidakadilan jelas luput, bila tak mau disebut dungu. Bukan hanya menafikan bahwa para pelaku teror ini adalah narapidana yang terlatih sebagai serdadu dan berbahaya, tapi juga menganggap masalah fasilitas adalah persoalan bagi manusia-manusia yang telah membaiat diri pada organisasi teror dunia.

Berdasarkan kronologi yang diberikan polisi, sosok yang menjadi pemicu kerusuhan adalah Wawan Kurniawan alias Abu Afif. Ia merupakan tahanan di Blok C dan merupakan pimpinan Jamaah Ansharut Daulah Pekanbaru, Riau. Wawan ditangkap lantaran terlibat dalam latihan militer di Jambi dan Riau.

Pada Oktober 2017, Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Rikwanto mengatakan Wawan punya peran memotivasi kelompoknya untuk menyerang kantor polisi. Kelompok ini kemudian dilatih persiapan teror (i’dad) dan latihan menembak di Bukit Gema, Kabupaten Kampar, Riau. Salah satu peserta latihan adalah Beni Samsu Trisno (BST) alias Abu Ibrohim. Beni bahkan diduga terlibat perencanaan aksi teror dengan target kantor polisi di Pekanbaru. Ia kemudian ikut dicokok polisi pada Oktober 2017.

Dari penelusuran sederhana di beberapa media online, diketahui, Narapidana Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, mengamuk karena dipicu oleh titipan makanan yang dibawa keluarga napi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Argo Prabowo Yuwono mengungkapkan peristiwa berawal setelah waktu salat Magrib.

Saat insiden terjadi, beberapa simpatisan ISIS di Indonesia langsung bereaksi dengan memberikan dukungan dan sumpah serapah kepada polisi yang gugur. Tentu hal yang semacam ini luput dari komentar Fahri hamzah. Saat yang lain fokus pada bagaimana ISIS memanfaatkan kerusuhan untuk melakukan teror, Fahri sibuk menyindir mantan pejabat  yang kita tahu sebenarnya adalah Ahok.

Tapi ya sejak kapan Fahri bisa berkomentar dengan baik dan benar? Jika bisa, tentu ia sudah menjadi Presiden PKS.

Sumber : geotimes

Friday, May 11, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: