Inilah Jawaban Atas Keraguan Tito sebagai Calon Kapolri

Oleh : Suci Handayani

Saya rasa rakyat mengakui karier cemerlang Komjen Tito Karnavian saat membaca rekam jejaknya. Dengan kecerdasan dan kepiawaianya serta ‘ sudah temoto’ jiwanya, ditambah sederet prestasi yang telah ditorehkan, rasanya pilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang sudah tepat.

Meskipun demikian ada saja orang-orang yang mengkritik kebijakan Jokowi tersebut dengan berbagai alasan. Berikut alasan mengada-ada yang masih diperbincangkan sejumlah kalangan , yang sebenarnya bisa dimaknai keberatan atas terpilihnya Tito sebagai calon tunggal Kapolri.

Pertama, Komjen Tito dianggap terlalu muda. Meskipun masih ada yang ‘ tidak terima’ lantaran Tito dianggap terlalu muda, tetapi saya kira itu bukanlah suatu yang penting. Kenapa? Karena sependek pengalaman saya, tidak ada aturan yang mengharuskan usia tertentu untuk menjabat sebagai Kapolri. Jika hanya kerana berdasarkan kebaisaan saja, bahwa Kapolri diangkat dengan usia sekian, saya kira itu hanya kebetulan saja. Jika kita runut, sebelum Tito, ada Jenderal Polisi (purn) Hoegeng yang saat menjabat sebagai Kapolri bahkan usianya lebih muda dibandingkan dengan Komjen Tito. Jenderal polisi (purn) Hoegeng Imam Santoso , kelahiran 14 Oktober 1921, menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 pada tahun 1968 – 1971. Artinya Hoegeng saat itu masih berusia sangat muda yaitu 48 tahun. Sementara Komjen Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D. atau Tito kelahiran 26 Oktober 1964. Artinya Tito jika nantinya benar-benar menjabat sebagai Kapolri dalam usia 52 tahun. Masih muda alm Hoegeng

Kedua, Komjen Tito dianggap melompati 4 generasi. Alasan yang ini juga terbantahkan. Meskipun selama ini jabatan Kapolri identik dengan urut kacang/berdasarkan urutan senioritas, kepangkatan, jabatan plus usia , tetapi saya kira bukan hal yang mutlak dan HARUS di taati. Selama ybs memang kompeten, mempunyai kapasitas dan kapabilitas, integritas serta dipandang memenuhi syarat sebagai Kapolri, tentu saja ia tak masalah ditunjuk menjadi Kapolri . Menurut saya, jabatan Kapolri bukan seperti arisan yang menunggu giliran saat di kopyok (dibuka/diundi), sehingga tinggal ditunggu saja nanti juga dapat giliran. Tidak serta merta semua pejabat tinggi di Polri akan mendapatkan jatah saat waktunya sudah tiba, berurutan. Meskipun senior tetapi jika tidak kompeten, tidak mempunyai kapasitas yang mumpuni ya tidak layak menjadi Kapolri.

Ketiga, pengangkatan Komjen Tito bisa menimbulkan gejolak di internal korp bhayangkara Diakui atau tidak memang kadang yunior akan merasa sungkan, tidak enak hati dengan seniornya yang kebetulan ada di bawah jabatannya. Sehingga bisa jadi tidak lagi bisa bersikap dengan obyektif. Tetapi rasanya hal ini tidak berlaku dengan Tito jika menjabat Kapolri. Untuk meredam kekhawatiran ada gejolak, Tito berupaya ‘tahu diri’ dan menjaga suasana internal polri agar tetap kondusif meskipun ia masih dicalonkan menjadi Kapolri. Ia telah bergerak cepat dengan ‘sowan’ menemui para seniornya di Polri. Tito berupaya merangkul para seniornya tersebut sehingga gejolak yang dikhawatirkan muncul tidak akan terjadi. Budaya santun dan rela merendah untuk merangkul masih kuat sampai saat ini, sehingga cara yang dilakukan Tito cukup efektif. Dan saya kira Tito akan terus melakukan upaya seperti itu dan upaya lainnya.

Keempat, terpilihnya Tito karena balas budi Presiden Joko Widodo Saya kira itu pendapat yang asbun (asal bunyi) , terkesan sangat mengada-ada dan hantam kromo. Satu lagi, statement tersebut justru terlihat statement orang yang sakit hati kepada Jokowi. Seperti diketahui, Tito pernah menjabat sebagai Kapolda Papua, kebetulan saat Pilpres 2014, Jokowi- JK menang mutlak di Papua. Itulah yang dianggap seorang Tito berjasa kepada Jokowi. Jokowi tidak akan gegabah dan asal-asalan dalam mengusulkan orang yang ia percayai memimpin Polri. Dengan tugas, tanggung jawab yang berat, seorang Kapolri pilihan presiden tidak akan asal-asalan atau hanya karena orang yang telah berjasa/dekat dengan Jokowi. Untuk memimpin Polri yang mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakkan hukum; dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, masa iya Jokowi hanya kepikiran sol balas budi. Sungguh itu hanya akal-akalan orang yang ingin menyudutkan Jokowi.

Jadi, saya rasa Jokowi sudah tepat dan pas menunjuk Tito untuk menjabat sebagai Kapolri. Begitulah, ulasan singkat ini, semoga sedikit mencerahkan. Salam **

Sumber : kompasiana.com

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *