Inilah Fakta Tentang Premium Yang Katanya Langka

Oleh : Kajitow Elkayeni

Ada banyak yang mengeluh soal langkanya premium terutama di Jawa Timur. Sebelum memahami soal kelangkaan itu, perlu dipahami juga fakta tentang premium itu sendiri.

1. Premium itu bahan bakar yang kotor, beracun, boros. Karena oktannya hanya 88, akan menimbulkan knocking (terbakar dan meledak) yang tidak sesuai dengan arah piston. Produksi gas buang Nox dan Cox-nya juga tinggi, ini berbahaya bagi lingkungan. Di seluruh dunia sudah tidak digunakan, kecuali hanya Indonesia.

2. Karena di dunia sudah tidak ada yang jual, BBM dari luar itu diturunkan kualitasnya agar setingkat premium (ron 88). Istilahnya dioplos lagi. Ini sebenarnya biayanya lebih mahal kalau dihitung.

3. Premium tetap dipertahankan khusus untuk golongan yang tidak mampu, karena disubsidi. Kalau situ termasuk mampu, sebaiknya gunakan bahan bakar dengan kualitas yang lebih baik. Sayangi lingkunganmu, sayangi kendaraanmu.

4. Untuk wilayah Jawa-Madura-Bali, SPBU tidak diwajibkan menjual premium, karena memang ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014. Tujuan Perpres itu agar orang beralih ke bahan bakar yang lebih baik dan mengurangi beban subsidi.

5. Karena di Jawa-Madura-Bali tidak diwajibkan menjual premium, SPBU mengambil inisiatif sendiri sengaja tidak menjual premium. Ada sekitar 1900 SPBU yang melakukan hal itu. Alasannya, karena peminat premium mulai menurun dan beralih ke pertalite.

6. Kabar terbaru tentang Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014, kementerian terkait (Jonan) sedang membuat draft revisi terhadap Perpres itu, sehingga premium wajib dijual kembali oleh SPBU.

7. Kendaran terbaru tidak cocok jika diisi premium. Karena kompresinya sudah di atas 9. Ron 88 hanya cocok untuk kompresi 8, motor lama. Jika dipaksa premium akan berpengaruh pada keawetan mesin, sekaligus justru lebih boros karena knocking tadi. Sebagai perbandingan, Honda Beat kompresinya 9,2:1. Honda New Megapro 9,5:1.

Jadi sebenarnya kelangkaan premium itu bukan karena tidak ada stoknya, tapi yang jual sengaja tidak menyediakannya. Padahal BPH Migas sudah menganjurkan untuk tetap menjualnya. Maka aturan itu sedang direvisi untuk memaksa mereka jualan premium lagi.

Tapi bagaimanapun, yang salah tetep Jokowi kok, tenang saja....

 

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Monday, July 9, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: