Inilah Fakta Perjuangan Etnis Cina Di Jakarta Ratusan Tahun Lalu

Pilgub atau Pilpres dan segala pesta demokrasi untuk memilih pemimpin itu sejatinya mempertarungkan gagasan, menawarkan ide-ide, dan menjauhi isu-isu yang memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat. Mestinya pesta demokrasi itu berjalan menyenangkan, wong namanya saja pakai PESTA semestinya penuh canda tawa bahagia menyenangkan suka ria penuh kedamaian, sebab itulah cara yang benar berpolitik dalam mengespresikan integrasi sosial kita.Politik tidak semestinya mengkotak-kotakkan masyarakat dalam sekat kelompok, mengadu domba antar warga dengan isu agama dan berlanjut untuk saling membenci, bagaimana kita bisa memberikan rakyat pelajaran politik yang menyenangkan jika Pilkada Jakarta penuh kebencian seperti itu?

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Pilgub DKI Jakarta ini sebenarnya mengenaskan, tidak memberikan permainan politik yang sehat tapi malah sarat aroma kebencian yang dikemas dalam kata SARA, padahal kita semua sebenarnya membenci kebencian itu tapi kenapa justru ada yang selalu menebarkan kebencian?

Pilgub atau Pilpres dan segala pesta demokrasi untuk memilih pemimpin itu sejatinya mempertarungkan gagasan, menawarkan ide-ide, dan menjauhi isu-isu yang memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat. 

Mestinya pesta demokrasi itu berjalan menyenangkan, wong namanya saja pakai PESTA semestinya penuh canda tawa bahagia menyenangkan suka ria penuh kedamaian, sebab itulah cara yang benar berpolitik dalam mengespresikan integrasi sosial kita.

Politik tidak semestinya mengkotak-kotakkan masyarakat dalam sekat kelompok, mengadu domba antar warga dengan isu agama dan berlanjut untuk saling membenci, bagaimana kita bisa memberikan rakyat pelajaran politik yang menyenangkan jika Pilkada Jakarta penuh kebencian seperti itu?

Cina Jakarta

Dan etnis keturunan Tionghoa atau Cina yang sudah berada di Indonesia ratusan tahun lampau, bahkan etnis ini banyak yang membantu dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Tak segan-segan mereka menggunakan berbagai komunitas etnisnya di luar negeri untuk membantu pejuang Indonesia dalam memperoleh senjata dari luar negeri dengan cara menyelundupkannya dan diberikan kepada para pejuang Indonesia waktu zaman perang kemerdekaan dulu.

Kalau Anda pernah membaca buku PKN anak kelas 6 SD, disitu disebutkan bahwa ada perwakilan etnis Cina dalam Badan Persiapan Kemerdekaan. Itu sudah bukti bahwa etnis Tionghoa punya peran dalam memerdekakan Indonesia dari kaum penjajah itu. 

Kalau soal jahat, pelit, dan konotasi negatip lainnya, SEMUA SUKU itu memiliki oknumnya, bukan orang Cina saja. Orang Cina korupsi kalau tidak ada PEJABAT PRIBUMI yang membantunya, apa bisa mereka korupsi besar-besaran uang negara?

Dan kiprah etnis Tionghoa di Jakarta salah satunya tidak lepas dari sejarah Kali Angke yang menyimpan aliran darah nenek moyang mereka dalam membesarkan kota Jakarta.

Sejarah Angke

Saya kutipkan dari berbagai sumber bahwa Nama Angke sebenarnya sudah ada jauh sebelum terjadi pembantaian Tionghoa di Batavia di tahun 1740. Dalam sejarah kota Jakarta disebutkan pada abad ke 16 dan awal ke abad 17, penguasa Jayakarta (nama Jakarta dahulu) ketika itu bernama Pangeran Tubagus Angke (1570-1600 ?), sebagai Adipati Jayakarta kedua dan bawahan (vasal) kesultanan Banten serta penerus Fatahillah. 

Anak dari Pangeran Tubagus Angke ini adalah Pangeran Jayakarta yang disebutkan oleh orang Inggris dan Belanda sebagai "Regent of Jakarta" atau "Koning van Jacatra". (A. Heuken SJ, "Tempat-tempat bersejarah di Jakarta").

Pada jaman Pangeran Jayakarta inilah orang-orang asing Eropa seperti Inggris dan Belanda (Hoesein Djajadiningrat, “Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten " , 1913), mulai berdatangan yang kemudian harinya pecah konflik dengannya.Penduduk Tionghoa sendiri juga sudah ada sebelumnya di kota ini, dan kemudian harinya bertambah lagi dengan orang-orang Tionghoa yang berdatangan dari Banten dan terutama sesudah Banten dikuasai oleh Belanda. (Claude Guillot , “The Sulanate of Banten”)

Nama Pangeran Tubagus Angke sendiri disebutkan sebagai "Ratu Bagus Angke". Sampai kini para sejarawan pada umumnya seperti Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, Dr. Uka Tjandrasasmita, Dr. Nina Lubis, Drs. Halwany Michrob, A. Heuken SJ dan yang lainnya  sependapat dengan Hoesein Djajadiningrat bahwa "Ratu Bagus Angke" adalah menantu dari Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten (1552-1570) yang menikah dengan salah satu puterinya (Ratu Pambayun). (Denys Lombard , “Nusa Jawa: Silang Budaya 1”)

Sultan Hasanuddin sendiri adalah putera dari Sunan Gunung Jati, yang didalam Sejarah Banten disebut sebagai Sultan pertama Banten.yang juga adalah menantu dari Sultan Hasanuddin, penguasa Banten yang dinikahkan dengan putrinya Ratu Pembajun.(H.J. De Graff & TH. Pigeaud  , “Kerajaan Islam Pertama Di Jawa”)

Dia disebut Ratu Bagus Angke, karena ditempatkan didaerah dekat kali Angke di Jakarta. Ketika itu kali Angke merupakan perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Jayakarta sebelum dipindahkan dikemudian harinya ke sungai Cisadane. 

Nama Pangeran Tubagus Angke kini dijadikan nama jalan di Angke yang dahulunya bernama "Bacherachtsgracht".Versi resmi sejarah kota Jakarta juga menyebutkan hal yang sama seperti yang ditulis di "Jakarta Dari Tepian Air Ke Kota Proklamasi" yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kusus Ibukota Jakarta, Dinas Museum Dan Sejarah,1988 serta buku kumpulan makalah diskusi yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI, Jakartaditahun 1997 ("Sunda Kelapa Sebagai Bandar Jalur Sutera").

Angke Dalam Bahasa Hokkian

Berawal dari pertanyaan apakah sungai Angke itu berasal dari kata Hongxi yang berarti Sungai Merah ataukah yang berarti sungai yang sering banjir? Dan apakah disebut Ang Kee karena dahulu terjadi pembantaian 1740 sehinggai banyak mayat orang Tionghoa yang dibuang kedalam sungai tersebut sehinggai memerahkan warna air sungai. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa Ang Kee itu karena sungai sering meluap ketika terjadi hujan besar. Mana yang benar ?

Dalam bahasa Hokkian, kata 'Ang' dari Angke bisa berarti Merah (紅) atau Banjir (洪) . Ang yang berarti banjir ini sama dengan marga Ang Chit Kong (tokoh dalam Sia Tiao Eng Hiong). Dalam bahasa Mandarin, keduanya diucapkan 'Hong'. Selama ini teori yang sering kita dengar adalah Angke berarti kali merah. Rupanya terdengar juga kabar ada yang mengatakan bahwa Angke berarti Kali Banjir , bukan Kali Merah . Karena huruf (洪) dalam bahasa Hokkian juga diucapkan ‘Ang’.

Sulit untuk menentukan mana yang benar antara Ang Kee yang berarti Sungai Merah atau Ang Kee yang berarti sungai yang sering banjir. Ada kontingensi bahwa Angke berarti Kali Merah terkait peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa 1740. 

Dugaan ini muncul karena lebih banyak orang-orang  yang berpendapat Angke adalah Kali Merah . Kali Angke berhulu di daerah Semplak (Bogor Barat Laut), melalui Parung, Pamulang, Ciledug, Angke, Muara Angke. 

Kali Angke relatif pendek jika dibandingkan dengan Ciliwung atau Cisadane, sehingga dulu kali ini seharusnya tidak sering banjir. Di sepanjang kali Angke sampai ke daerah Semplak, banyak bermukim orang-orang Tionghoa peranakan seperti Tionghoa Benteng (yang berbahasa Melayu dan kaum perempuannya berkebaya, umumnya mereka adalah petani). Ada teori yang mengatakan bahwa mereka ini adalah orang-orang Tionghoa yang melarikan diri ke daerah hulu kali Angke, waktu terjadi pembantaian 1740.

Dalam bahasa Hokkian , huruf (洪) dan (紅) sama-sama bisa dibaca Hong (bunyi wenyan) dan Ang (bunyi baihua). Tetapi, dalam frasa-frasa yang berarti banjir, huruf (洪) dibaca Hong. Misalnya  洪水 dalam bahasa Mandarin adalah Hongshui sedangkan dalam bahasa Hokkian adalah  Hong Sui atau Hong Cui. Kemudian  分洪 dalam bahasa Mandarin adalah Fenhong, sedangkan dalam bahasa  Hokkian adalah Hun Hong. Dan 洪流 dalam bahasa Mandarin adalah Hongliu, sedangkan Hokkian adalah Hong Liu.

Cina Membantu Pribumi

Pembantaian etnis Cina oleh Belanda di Kali Angke itu karena ketahuan mereka membantu pribumi, membantu para pejuang kemerdekaan dengan mengorbankan nyawa leluhurnya. Darah leluhur mereka membanjiri sepanjang sungai Angke demi kemerdekaan Indonesia.

Begitu besar jasa etnis Tionghoa ini namun tidak terekspose di masa Orde Baru hingga sekarang, malah dituduh kaum yang tidak jelas perjuangannya untuk Indonesia itu apa. Seolah-olah etnis Cina tidak ada kontribusinya bagi negeri ini tapi selalu dijadikan KAMBING HITAM (Escape Goat) bila terjadi sesuatu.

Konon menurut seorang Belanda, Dr de Haan, dalam bukunya "Oud Batavia" menulis bahwa pada tahun 1621 seorang sekretaris Souw Beng Kong,  yaitu Gouw Tjay alias Jan Con , seorang tukang kayu Tionghoa Muslim dari Banten yang kaya, memperoleh tanah di kampung Bebek, yang terletak disebelah utara Angke. Ia hendak mendirikan masjid diatas tanahnya. Kalau informasi ini benar, maka inilah mesjid pertama di Batavia. 

Bertindaklah adil, semua etnis dibutuhkan di negeri ber-Bhinneka Tunggal Ika ini, bukan dinista dengan dalih agama, namun dirinya tidak jelas perjuangan leluhurnya bagi bangsa ini selain hanya koar-koar paling benar sendiri. Kepada kaum berhati iri dengki itu saya hanya bisa mengatakan SALAM DUNG DUNG PRET saja, mereka sedungu-dungunya kampret!

 

Friday, March 17, 2017 - 21:00
Kategori Rubrik: