Inikah Alasan Prabowo Tak Siap Kalah?

Ilustrasi

Oleh : Jessica

Melihat perjalanan kampanye hingga Desember 2018, sepertinya kubu Prabowo Sandiaga harus siap-siap menelan ludah. Bukan hanya dari berbagai survey mereka kalah namun serangan-serangan yang mereka lancarkan juga tak “dimakan” baik oleh publik.

Beberapa aktivis pendukung Prabowo yang juga aktif di media sosial gagal membangun bahwa mereka siap berkompetisi secara sehat. Lihat saja orang-orang seperti Nanik Deyang, Ahmad Dhani, Mustofa Nahra, Haikal Hasan hingga dedengkot yang mengaku ulama Tengku Zulkarnain melakukan upaya kampanye dengan konyol.

Yang terakhir ketika merespon tantangan La Nyalla Mataliti tentang sholat, Tengku Zulkarnain melakukan pembelaan dengan konyol. Dia malah menyuruh bertanding terjun payung. Logika macam apa yang dipakai orang ini? Bukankah harusnya sebagai seorang muslim yang baik membaca Al Qur’an atau sholat merupakan kebutuhan dasar? Kalau menantang sesuai dengan keahlian sebelumnya ya kenapa ga bertarung membuat almari, meja atau hasil meubel lainnya?

Kemudian yang baru saja hangat soal kotak suara dari kardus yang ikut dikomentari oleh Gerindra, PAN maupun PKS. Bagaimana bisa mereka kaget dengan pengadaan kardus tersebut? Apakah mereka tidak sadar saat pembahasan anggaran dilakukan bersama wakil-wakil mereka di komisi II? Tentu mereka tahu anggaran berapa dan wujud barang berupa apa.

Rapat dengar pendapat antara KPU, Mendagri dan DPR terbukti sudah dilakukan Maret 2018. Mereka semua tahu dan faham, mengapa sekarang koar-koar mempertanyakan pengadaan kardus? Di berbagai Negara dipenjuru dunia seperti Belanda, Australia, Iran, Palestina hingga Argentina dan sebagainya juga menggunakannya. Tidak ada masalah dengan itu.

Belum lagi tentang nama ganda atau DPT ganda yang hanya melandaskan kesamaan nama. Di Indonesia pada suku-suku tertentu menemukan nama yang sama akan banyak sekali. Sebut di Jawa Barat orang bernama Asep Kamaludin, Supriyatna, Suryani, Mardhani, atau nama jawa seperti Joko Widodo, Budi Setiawan, Agus Supriyanto dan lainnya. Harusnya mereka melihatnya berbasis NIK sehingga tidak ada kesamaan.

Itu hanya sekelumit isu-isu remeh yang menandakan bahwa sang lawan tidak berusaha cari isu yang memang strategis untuk melumpuhkan petahana. Mereka gagap melihat mengkilatnya kinerja petahana akibatnya hanya isu-isu murahan yang mengandung ujaran kebencian yang “dijual” kesana-kemari.

 

Wednesday, December 19, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: