Ini yang Sudah Dilakukan China di Indonesia

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Dalam lima tahun ini..., investor China di Morowali sudah membangun beragam infrastruktur untuk mendukung kawasan industri...: dari prasarana jalan..., pembangkit listrik..., hingga smelter.

Bandingkan dengan Freeport di Papua...; berapa juta hingga milyar kilogram emas yang dihasilkannya selama 55 tahun beroperasi.

Sudah berapa Milyar Dolar US yang dihasilkannya selama itu..., tapi sampai saat ini belum juga membangun smelter seperti yang disyaratkan oleh pemerintah Jokowi.

Selama ini..., perusahaan AS ini memang tidak mau membangun smelter di indonesia.

Mereka hanya mengeruk hasil tambang berupa pasir..., lalu di angkut ke negara tujuan untuk menjadi barang setengah jadi hingga barang jadi.

Oleh karena itu...; smelter yang dibangun investor China di Morowali harus kita apresiasi positif..., dan kita dukung keberadaannya.

Karena..., keberadaan smelter ini sarat dengan transfer teknologi.

Dengan adanya smelter ini..., kita bisa mengetahui teknologi tinggi yang digunakan dan produk produk apa saja yang dihasilkan dari turunan pasir tambang tersebut.

Misalnya...: nikel nya berapa persen..., cobalt nya berapa persen..., dan Lithium nya berapa persen..., dan lain sebagainya.

Jenis turunan yang di hasilkan..., mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi industri masa depan.

Infonya..., smelter yang dibangun China ini sungguh teknologi tinggi luar biasa..., yang mampu mengolah pasir tambang dengan kadar nikel di bawah 1,7%.

Selain itu..., smelter yang dibangun ini padat modal..., dengan nilai investasi trilyunan rupiah dan ongkos produksinya pun tinggi.

Untuk melelehkan pasir alam menjadi cair..., smelter membutuhkan energi listrik yang optimal dan terjamin kelangsungannya.

Untuk itu..., maka insvestor membangun Pembangkit Listrik sendiri untuk memasok kebutuhan energinya.

Bayangkan saja...; panas yang dibutuhkan untuk melelehkan pasir atau biji nikel alam..., membutuhkan 1.000 - 4.000 derajat Celsius dalam posisi stabil.

Dari proses ini..., diperoleh hasil turunan berupa Nikel..., Cobalt..., dan Lithium yang baik secara kuantitas maupun kualitas.

Jika smelternya di luar Indonesia..., kita pasti tidak pernah tahu secara pasti hasilnya apa saja..., dan berapa ton jumlah yang dihasilkannya.

Secara ekonomi...; negara tidak mempunyai nilai tambah..., dan ini merugikan dari segi pendapatan.

Smelter ini juga merupakan sarana transfer teknologi dan keahlian dari tenaga kerja China..., ke tenaga kerja Indonesia.

Tetapi kita juga jangan hanya melihat dari sisi tenaga kerja saja...; nilai strategis industri ini mempunyai pengaruh besar bagi industri dunia...; dan ini dimulai dari Morowali..., kota kecil di Sulawesi Tengah yang jaraknya ribuan KM dari Jakarta.

Kota ini akan menjadi sumber utama bahan baku batere..., yang diperlukan untuk kendaraan bermotor maupun peralatan teknologi maju lainnya di dunia..., sebagai sumber energi masa depan.

Dan yang jelas..., smelter ini akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja Indonesia.

Kita jangan terjebak pada adu domba pihak oposisi dan pihak lain..., yang menyatakan bahwa kedatangan tenaga kerja asal China itu merampas hak tenaga kerja kita..., padahal itu adalah untuk transfer teknologi..., know how.

Sebagai warga dunia..., kita harus saling mengisi kekurangan dan kebutuhan antar bangsa.

Kita harus obyektif...: bukan soal pro China atau pro AS..., anti China atau anti AS...; kita ini warga dunia yang tidak ada lagi sekat pembatas.

Ini bukan soal idiologi...; bukan soal komunis..., kapitalis..., maupun muslim.

Ini adalah murni soal bisnis dan transfer teknologi..., yang tujuannya untuk kemakmuran rakyat.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Tuesday, May 12, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: