Ini Tanda-Tanda PKS "Karam"

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Gerakan tagar ganti presiden yang digalang oleh PKS melalui Mardani Ali Sera ternyata bukan hanya melempem namun justru malah membuat tenggelam partai itu. Meski saat ini baru tengah tahun 2018, tanda-tanda karamnya sekoci PKS jelas-jelas terlihat. Mereka bukannya berpadu dengan sekutunya Gerindra dan PAN, tetapi justru dikaramkan oleh perilaku mereka sendiri.

Kita tahu bahwa partai kader itu melakukan kesalahan fatal dalam alam demokrasi yang bukan menjunjung adab atau nilai-nilai keIslaman. Mereka justru melanggar banyak yang tercantum dalam Al Quran maupun hadits. Akibatnya ya, seperti senjata makan tuan. PKS melalui pasukan cyber army tidak hanya menyebar hoax namun juga melakukan fitnah bukan hanya pada pemerintah tetapi juga Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar penyangga NKRI.

Lantas tanda-tanda apa yang bisa kita lihat saat ini sebagai karamnya PKS?

  1. Diakui atau tidak, salah satu motor kader-kader PKS diwilayah adalah Fachri Hamzah. Buntut pemecatan FH sebagai kader dilawan dengan mengajukan PK ke MA. Nah kemenangan FH atas keputusan DPP PKS mengakibatkan kader-kader lebih mendengar apa yang disampaikan FH dibandingkan struktural partai. Apalagi baru saja FH menyatakan Prabowo dan partai pendukungnya tidak kreatif sehingga diprediksi bakal kalah telak dengan petahana
  2. Meski masih rumor nampaknya Anis matta akan segera mendirikan partai baru. Hal itu terlihat dari tidak pernah muncul lagi di publik paska Shohibul Iman diangkat menjadi Presiden PKS. Konfirmasi niat Anies mendirikan partai baru dibenarkan oleh Mahfudz Shiddiq.
  1. Ngototnya PKS menjadi Cawapres Prabowo menandakan bahwa gelagat makin tidak populernya PKS ditangan pemilih baru maupun bukan kader partai. Karena jika tidak menduduki Cawapres, PKS makin tidak bisa bertahan di kancah perpolitikan Indonesia. Adanya 9 kandidat Cawapres usulan PKS jelas-jelas membuktikan bahwa mereka tidak siap dengan kader yang benar-benar diunggulkan. Bagaimana bisa seorang Mardani, Tifatul, Hidayat diusulkan menjadi bakal Cawapres sementara prestasi mereka ketika menjadi pejabat tidak ada.
  2. Ramai-ramainya caleg PKS mundur bahkan Fachri Hamzah tidak diajukan sebagai calon legislative dari partai yang turut dibesarkannya. Jika FH maupun kader-kader muda nan potensial itu mundur, apa yang diharapkan dari PKS? Akan dapat suara dari mana? Belum lagi nyaris pada periode 2014 – 2019 PKS tidak terlihat sebagai partai oposisi yang berjuang membela rakyat.
  3. Adanya kader-kader PKS yang terang-terangan mendukung Jokowi serta pendiri partai yang merapat ke partai lain. Sebut saja Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar yang terang-terangan menyatakan Joko Widodo, layak melanjutkan jabatannya. Atau aktivis 212 yang juga dekat dengan PKS yang juga Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi. Ditambah pendiri PKS, Yusuf Supendi pada pemilu 2019 maju sebagai calon legislative berasal dari PDIP.

Setidaknya 5 hal itulah yang menandakan bahwa apa yang PKS suarakan benar-benar tidak berefek kepada lawan politik dan justru mereka sendiri yang harus bekerja lebih keras mempertahankan keberadaan mereka. Shohibul Iman harus mampu memperlihatkan bahwa dia orang yang mumpuni mempertahankan eksistensi partai.

Penulis lebih mempercayai apa yang disampaikan Fachri Hamzah yang memprediksi usia PKS hanya 20 Tahun. Ya 2018 inilah tahun dimana PKS runtuh bukan karena diruntuhkan oleh pihak luar namun oleh apa yang mereka lakukan selama ini. Mengklaim sebagai partai Islami tetapi banyak bukti bahwa mereka sebenarnya oportunis sejati dan tidak menunjukkan menjaga marwah Islam.

Wednesday, July 18, 2018 - 21:00
Kategori Rubrik: