Ini Penjelasan Soal Tidak Jum'atan Lebih dari 3 Kali

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Tidak Mengapa Meninggalkan Shalat Jumat 3 Kali Berturut-turut Karena Madharat Covid19.

Siapa sih yang tidak sedih kalau harus meninggalkan shalat Jumat?

Bagi kita muslimin, khususnya yang laki-laki, baligh, sehat, muqim, dan waras, shalat Jumat itu hukumnya fardhu 'ain. Tidak shalat Jumat pasti lah berdosa besar.

Apalagi ada ancaman dari Nabi SAW bahwa siapa yang meninggalkan shalat Jumat 3 kali dengan meremehkannya, maka Allah SWT akan mengunci mati hatinya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Siapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allâh akan mengunci hatinya. (HR. Muslim)

Tentu hadits ini jadi bikin kita bingung saat ini. Hari ini Jumat 2 April 2020 terhitung sudah jadi hari Jumat yang ketiga bagi kita di Indonesia tidak shalat Jumat. Dan hadits ini nampaknya sangat mengerikan, sebab Nabi SAW pas banget menyebut angka 3 kali tidak shalat Jumat.

Tidak shalat Jumat sekali atau dua kali, mungkin bisa dimaklumi, tapi hari ini hari Jumat yang ketiga. Ada ancaman dari Nabi SAW sampai mau ditutup hatinya.

Lalu apakah kita hari ini akan 'melanggar aturan' gara-gara baca hadits ini? Apakah kita akan shalat Jumat juga?

Jawabnnya jelas, KITA TETAP TIDAK JUMATAN

Kok gitu? Nanti ditutup hatinya oleh Allah SWT lho?

Coba perhatikan teks matan hadits di atas. Nabi SAW tidak asal ngomong. Makanya juga jangan salah paham. Nabi SAW mengatakan tiga kali tidak shalat Jumat itu benar, tapi beliau juga menyebutkan kata TAHAWUNAN yang artinya dengan meremehkan.

Apa maksudnya meremehkan disini?

Ya kalau tidak ada udzur apa-apa, cuma karena ogah, males, menggampangkan, dan sejenisnya lah.

Sedangkan kalau ada misalnya orang sakit selama dua bulan, pastinya tidak shalat Jumat bukan hanya 3 kali, tapi 8 kali, apakah hatinya akan ditutup oleh Allah? Tentu saja tidak. Kenapa, karena ada uzdur syar'i.

Memang ada yang ngeyel bilang bahwa mencegah wabah itu belum termasuk udzur syar'i, yang udzur syar'i itu kalau sakit. Lha ini kita sehat kok tidak sakit. Seharusnya kan kita tidak mendapat keringanan meninggalkan shalat Jumat.

Oke, jadi begini. Memang Anda tidak sakit sekarang ini. Tapi berikut fakta-faktanya :

1. Virus ini mematikan orang banyak dalam waktu yang amat singkat. Sayangnya masih belum ada obatnya secara langsung. Namun bisa dihindari dengan cara menghindari kontak fisik.

2. Shalat Jumat itu kontak fisik nya sangat ekstrem, karena semua masjid yang biasanya menyelenggarakan shalat jamaah 5 waktu diliburkan dan semuanya kumpul di satu titik, yaitu masjid jami' untuk shalat Jumat. Maka shalat jumat itulah titik penyebaran wabah yang mematikan.

3. Kalau anda bilang secara fisik anda bukan orang sakit, itu benar. Tapi kalau anda berkumpul untuk shalat Jumat, sebenarnya anda sedang jadi pembunuh atau siap dibunuh.

4. Gugurnya kewajiban shalat jumat dalam kasus covid-10 tidak bisa pakai fiqih biasa, bahwa yang tidak wahjib shalat Jumat itu sebatas hanya wanita, orang sakit, musafir, anak kecil dan orang gila saja.

5. Dalam hal ini ada masalah yang tidak biasa, yaitu ancaman kematian masal dalam waktu singkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat Islam selama 15 abad ini.

Wabah-wabah yang pernah terjadi dalam sejarah Islam tidak bisa disamakan begitu saja hukumnya dengan wabah Corona ini. Ini wabah yang menjadi madharat nomor wahid sepanjang sejarah.

Pembandingnya adalah ketika lagi Jumatan terjadi tsunami atau gempa bumi dahsyat, apakah tetap wajib Jumatan? Tentu saja tidk. Menyelamatkan diri dari bencana massal itu lebih utama, bahkan meski Jumatan sedang berlangsung sekalipun.

Wassalam

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Friday, April 3, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: