Ini Lemahnya Kesaksian Idham Amirudin

ilustrasi

Oleh : Tiara Aini

Sesumbar, "Saya sudah menemukan akar permasalahannya, yaitu NIK rekayasa!"

Gayanya persis seperti junjungannya.
Merasa paling benar, paling pinter.

"Jadi, digit ke 5 dan 6 dari NIK kita itu harus diisi angka kode kecamatan. Tidak boleh kode angka yang lain. 
Saya ambil contoh dari DPT Kabupaten Bogor. 
Di Kabupaten Bogor ada 40 kecamatan, 
jadi, digit ke 5 dan 6 NIK para pemilih di Kabupaten Bogor, maksimal harus angka 4 dan 0, karena hanya ada 40 Kecamatan.
Tapi ini kita lihat, di DPT Kabupaten Bogor ada pemilih yang digit ke 5 dan 6 NIK nya 41, ada yang 60, bahkan ada yang 100.
Berarti itu semua NIK rekayasa. 
Karena di Kabupaten Bogor harus maksimal 40."

Penuh percaya diri, dia memaparkan hasil analisa pribadinya dihadapan rakyat se-Indonesia.

Sampai akhirnya ada seorang anak muda, anggota KPU, yang bertanya,
"NIK itu kan tetap, sampai mati kita tidak akan ganti NIK. Walaupun kita pindah daerah tempat tinggal.
Nah, kalau saya berasal dari daerah yang punya 70 Kecamatan, maka, mungkin saja digit ke 5 dan 6 NIK saya diisi angka 66, kan?

Lalu, kalau saya kuliah di Bogor, lalu mendaftar untuk nyoblos di Kabupaten Bogor, maka, NIK saya yang ada angka 66-nya itu, akan masuk dalam DPT Kabupaten Bogor kan?"

Akhirnya, yang tadinya sombong, langsung ijin kencing. "Yang Mulia... Saya ingin pipiz..."

Sumber : Status Facebook Tiara Aini

Thursday, June 20, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: