Ini Kalimat Halus Tapi Mendobrak

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Kita diajak memaknai hijrah tidak sekedar pemaknaan sempit (seperti hijrah dari tidak berjilbab ke berjilbab), tapi makna lebih mendasar. Perubahan kesadaran. Dan di titik-titik pertarungan ide yang gak mudah. Seperti antara monopoli dan persaingan bebas.

Ini bukan tipe kandidat yang mau main aman di eksploitasi simbol-simbol identitas dan hitam putih. Kalau mau main aman dan mudah, dia akan sandingkan kata hijrah dengan kata: mari bersedekah, mari sholat tepat waktu, dst. Tapi tidak. Malah dipilih diksi sulit macam: monopoli vs persaingan sehat.

Nilai personal saya untuk sosok Jokowi selalu naik turun sejak tahun 2014, antara kisaran 5,5 sampai 6,8. Nilai untuk personal beliau selalu cukup tinggi, kisaran 6-8, terutama membaca dari gestur beliau. Nilai untuk beberapa policy sulitnya juga lumayan, seperti cabut subsidi BBM, investasi di infrastruktur yang ‘gain’nya baru bisa dipetik jangka panjang, merombak dana riset, perbaikan data beras dsb. Tapi nilai beliau sering jeblok lagi setiap berhadapan dengan medan politik yang memang super predatoris atau isu HAM. Jadi ya rata-rata 6,5 lah.

(Sayangnya pihak oposisi jeblok aja nilainya sekitar 2,5 untuk Prabowo dan 3,5 untuk Sandy. Masa kampanye gak akan impor total, yang bener aja)

Tapi setiap bersirobok dengan sinyal-sinyal seperti hijrah gini, nilai beliau naik lagi di mata saya.

Halus, tapi menikam. Sangat cerdas karena pakai terminologi ‘hijrah’.

To some extent pakde memang mengingatkan pada sosok Lantip dalam buku Priyayi Priyayi-nya Umar Khayam. Tepat di paragraf terakhir. Mereka yang berdarah biru, kaya harta, disebut priyayi tapi justru kelakuannya gak mriyayi. Sebaliknya anak angkat rendahan, miskin harta, tapi perilakunya ‘mriyayi’. Alias pengetahuan dan perilakulah yang akan mengangkat derajat diri seseorang.

PS: baru sadar ini untuk menjawab Prabowo yang bilang “gak akan mengimpor apapun”. Rupanya ini meant to be: jawaban.

Hijrah..

Dari pesimisme ke optimisme (ada yang trade marknya pesimis melulu)
Dari marah-marah ke sabar (ada yang gak sabaran)
Dari individualisme ke kolaborasi (terutama refer ke trade war mungkin ya)
Dari monopoli ke persaingan sehat (jelas menjawab klo import eksport alias trade itu fitrah-nya bangsa2 dalam perekonomian global 

I like the way the word “hijrah” was choosen here.

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

Tuesday, November 6, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: