Ini Dada Antasari. Mana Dada SBY?

Oleh: De Fatah
 

Dimalam terakhir pencoblosan ada yang lagi meriang panas dingin,..sebenarnya SBY lah yang ikut pilkada DKI bukan AHY, AHY ibarat hanyalah orang pengambil nomor saja, oleh karena itu disaat elektabilitas AHY anjlok SBY panik bukan kepalang, SBY menuduh ada pihak pihak yang tidak menghendaki AHY menang Pilkada padahal bertanding saja belum, tapi serasa rasa sudah kalah

SBY menggambarkan dirinya sudah dizalimi sekian lama sejak November 2016 agar elektabilitas AHY turun, mungkin dibenak SBY begitu hebatnya AHY sehingga pantas diperhitungkan didunia politik kita, padahal bagi rakyat jakarta AHY hanya sekedar anak bawang saja, yang ikutan pilkada hanya untuk hore hore saja

 

SBY menggambarkan fitnah yang menderanya sekarang sama sadisnya dengan fitnah waktu pemilu 2004 dulu, SBY sepertinya pikun, lupa bagaimana fitnah terhadap Jokowi 2014 dulu, lebih sadis dan tidak berkemanusiaan bahkan tukang fitnahnya Obor Rakyat adalah orang yang akrab dengan lingkaran SBY, Jokowi difitnah komunis, anak komunis, antek Israel, antek Amerika, Syiah, Ahmadiyah, liberal, dan bukan Islam, tapi apa yang dilakukan Jokowi ?, Jokowi sabar dan tenang tenang saja, ngga twiteran, ngga konpres, ngga ngajak ngajak umat ngamukan

Begitu juga Ahok di fitnah, dikriminalisasi, diancam mau dibunuh, di demo tiap jum'atan, penggalangan massa seluruh nusantara, kurang puas dimasjid pindah ke monas demonya, seminggu sekali dicacimaki tiap sidangnya, siapa pendemonya? Orang orang yang selama ini berafiliasi dengan majelis pengajian SBY, orang orang yang dipelihara untuk kepntingan politik SBY. Lalu apakah Ahok kalah ? Belum tentu, bahkan elektabilitasnya nomor wahid karena Ahok anak muridnya Abdurrahman Wahid

Mungkin benar juga apa yang dikatakan Prof Mahfud MD, "Siapa yang berkuasa dahulu, sekarang akan menerima akibat dari kekuasaannya, apa yang dulu dilakukan seorang Presiden terhadap orang lain, sekarang juga menimpa dia," tuturnya

Tanpa tuduhan dari Antasari pun AHY akan sulit menang, karena pemilih Jakarta di dominasi pemilih rasional, dari setiap perdebatan AHY selalu melorot. Karena itu jangan jadikan alasan jika besok AHY kalah dalam Pilkada DKI. Antasari dituduh merencanakan pengakuannya supaya AHY kalah dalam pilkada DKI, padahal Antasari sudah sampaikan soal konspirasi ini ke publik sudah cukup lama sejak 2009

Sebenarnya masalah ini adalah dendam lama antara Antasari dengan SBY tidak ada hubungan dengan pilkada dan Istana apalagi Jokowi, seharusnya SBY berani berkata kepada Antasari, ini Dadaku SBY mana Dadamu Antasari ? Tapi yang SBY lakukan pengecut, mengajak semua orang dan menyangkut-nyangkutkan masalahnya keberbagai pihak, tujuannya cuma satu kambing hitam jika AHY kalah

Ketika kasus lebaran kuda, SBY konpres penegakan hukum kasus Ahok harus ditegakkan, harus adil terhadap siapapun juga, jika tidak diusut maka sampai lebaran kuda kasusnya tidak selesai. Tapi giliran sekarang ketika Antasari menuntut kebenarannya,..SBY tidak berani berucap seperti yang dia ucapkan kepada Ahok, SBY menilai Antasari disengaja untuk memojokkan pencalonan AHY dalam suasana Pilkada DKI

SBY secara serampangan mengkaitkan pemberian Grasi oleh Presiden Jokowi kepada Antasari. SBY menuduh pengakuan Antasari sebagai pesanan Istana untuk menyerang dan mendiskriditkan dirinya, tanpa bukti hanya sekedar praduga demi pilkada DKI, tuduhan SBY sangatlah keblinger dan pasti disikapi serius oleh Istana. Keseriusan Istana dalam menyikapinya mungkin saja dalam bentuk mendorong penegakan hukum terhadap kasus kasus yang terindikasi merugikan negara dimasa pemerintahan SBY

SBY ini seperti ungkapan "Cubitlah 1x saja orang yg suka menganiaya, maka amarahnya akan membuncah seolah kau merenggut kepalanya dan dia akan mengajak seluruh orang mengutukmu"

(Sumber: Status Facebook de Fatah)

Wednesday, February 15, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: