Ini Cara Ideologi Terorisme Pengaruhi Hati dan Pikiran

Ilustrasi
 
Oleh: Indra Apriansyah
 
 
Kelompok radikal terorisme sebenarnya tidak memiliki ciri-ciri fisik tertentu. Bukan berarti orang berjanggut panjang dan memakai celana cingkrang itu adalah teroris. Pendapat itu hanya stereotip atau penilaian yang sempit dan tidak mendasar sama sekali. Yang perlu diketahui, terorisme itu terkait dengan ideologi.
 
Nah, salah satu ciri bahwa seseorang terbilang mulai radikal adalah ketika ia dengan mudahnya menyebut kafir orang lain. Kemudian, menginginkan khilafah dengan cara kekerasan dan bertentangan dengan demokrasi, bahkan menyimpangkan makna jihad. Kelompok radikal terorisme melakukan tindakan dengan memiliki akar keyakinan, doktrin dan ideologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat. Mereka memiliki sikap yang memimpikan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan cara-cara keliru dan salah.
 
Mereka berusaha menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan dan aksi-aksi yang ekstrem. Adapun beberapa ciri kelompok radikal terorisme yang bisa dikenali dari sikap mereka, yaitu pertama, intoleran atau tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain. Kedua, fanatik yaitu selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah. Ketiga, eksklusif yaitu membedakan diri dari umat Islam umumnya. Keempat, revolusioner yaitu cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan. Nah, memiliki sikap dan pemahaman radikal saja tidak mesti menjadikan seseorang terjerumus dalam paham dan aksi terorisme.
 
Ada faktor lain yang memotivasi seseorang bergabung dalam jaringan terorisme. Motivasi tersebut disebabkan beberapa faktor. Pertama, Faktor domestik, yakni kondisi dalam negeri seperti kemiskinan, ketidakadilan atau merasa kecewa dengan pemerintah. Kedua, faktor internasional, yakni pengaruh lingkungan luar negeri yang memberikan daya dorong tumbuhnya sentimen keagamaan seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yg arogan, dan imperialisme modern negara adidaya. Ketiga, faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit dan leksikal (harfiyah).
 
Sikap dan pemahaman yang radikal dan dimotivasi oleh berbagai faktor di atas seringkali menjadikan seseorang memilih untuk bergabung dalam aksi dan jaringan terorisme. Karena itulah, penyebaran ideologi sangat berbahaya karena dapat merasuk pada pikiran dan hati seseorang. Pada hal ini perlu mendapat perhatian lebih. Maka kita harus melakukan berbagai cara dan upaya agar dapat mencegah dan menangkal segala bentuk propaganda, ideologi dan paham yang mengajak pada kebencian dan kekerasan.
 
Sumber tulisan: Kompasiana
Sunday, November 22, 2015 - 07:30
Kategori Rubrik: