Ini Bukti yang Teriak Listrik Naik Kurang Piknik

Ilustrasi

Oleh : Suci Handayani

“Kok listrik sekarang mahal ya?”
“Kok, tiap bulan naik?”
Pertanyaan seperti itu kerap sekali dilontarkan orang-orang saat membayar tagihan listrik. Saya sendiri berkali-kali mendengar rasan-rasan , lontaran kekecewaan saat ibu-ibu mengetahui tagihan listrik yang melonjak hampir 100% dari biasanya. Ya, terhitung sejak bulan Janauari 2017 lalu, orang-orang secara bertahap tiap bulannya merasakan biaya listrik naik dari biasanya. Saya sendiri biasanya bayar listrik antara Rp 79 rb-90 rb sekarang menjadi Rp 170 rb.

Biaya listrik bagi penguna 900 VA TIDAK NAIK, tetapi mengalami penyesuaian secara bertahap tiap dua bulan dari Januari sampai Mei 2017. Penyesuaian dilakukan terhadap rumah tangga mampu sebanyak 19,0 juta rumah tangga dari total 23,1 juta rumah tangga pelanggan daya 900 VA. 

Penerima listrik yang masih di subsidi masih banyak yaitu masih ada sekitar 27,26 juta pelanggan listrik rumah tangga kategori tidak mampu yang tarifnya tidak naik dan tetap disubsidi. Yaitu 4,1 juta pelanggan 900 VA dan 23,16 juta pelanggan 450 VA.

Ini yang KURANG DISADARI oleh masyarakat secara umum. Tahunya listrik naik dan ini gara-gara pemerintah Jokowi yang tidak memihak kepada rakyat kecil. Ini memang wajar karena rakyat selama puluhan tahun selalu di manjakan dengan subsidi , salah satunya subsidi listrik sehingga bayar listrik tiap bulan murah.

Pemerintah mengalihkan subsidi listrik bagi rakyat yang masuk kategori tidak mampu agar subsidi tepat sasaran. Masak sih, rakyat yang PNS, pengusaha, punya rumah , mobil, punya kost-kostan masih pingin dapat subsidi terus. Masih pingin hidup nyaman dan enak dengan bayar listrik murah. Pengalihan subsisi tersebut akan dialihkan untuk belanja yang lebih menyentuh rakyat, seperti pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah Timur Indonesia.

Tahukah teman, jika sekarang ini masih ada lebih dari 2.500 Desa tanpa listrik di tanah air kita ini? Bayangkan, di tahun 2017 saat ini masih ada saudara-saudara kita yang belum teraliri listrik PLN. Buat sekedar penerangan di malam hari saja mereka belum bisa apalagi buat nyetel TV, nge-cash HP, bekerja dengan computer, nge-game seperti teman-teman dan keluarga. Gak mungkin. Saya sendiri tahu persis di salah satu desa di Kabupaten Kupang NTT, Desa di Solok Selatan Sumsel , Desa di Jambi yang belum teraliri listrik dari PLN. Sukur-sukur mereka yang punya uang bisa mengakses listrik dari tenaga surya atau listrik dari genset. Lha , bagi warga yang kurang mampu, ya hanya puas dengan lampu pelita saja.

Kita patut dan wajib bersyukur karena sejak puluhan tahun bahkan sejak lahir ceprot sudah bisa menikmati aliran listrik. Rumah dan lingkungan padang jinglang. Bisa nge-cash HP, bisa pakai kipas angin, bisa nyetel AC , nyetel TV, main game dll sepuasnya. Nah , kalau ‘kenikmatan’ itu di bebani dengan biaya tarif listrik yang semestinya memang di bayarkan , ya jangan ngedumel, jangan marah-lah.

Kalau masih belum terima, protes, ngedumel, pemerintah fair kok, teman-teman dipersilahkan mengajukan keberatan agar tetap dapat subsidi. Gampang saja, datang ke kantor kelurahan untuk melapor. Nanti akan di verifikasi apakah teman-teman termasuk keluarga mampu atau tidak mampu. Nanti adukan akan diteruskan ke kecamatan. Melalui website, pengaduan tersebut akan diteruskan ke posko pusat di Ditjen Ketenagalistrikan. Terus aka nada petugas yang melakukan verifikasi. Gampang bukan?

Tapi , menurut saya, kalau mampu jangan mengaku tidak mampu. Apa nggak malu, mengaku tidak mampu tetapi bisa beli pulsa buat ngenet puluhan ribu per bulan? Apalagi kalau diijabahi Gusti Allah, jadi nggak mampu beneran. Apa nggak menyesal nantinya.

Yuk, jangan mengeluh karena subsidi listrik dialihkan kepada yang berhak menerima. **
#ListrikRakyatMiskinTidakNaik

(ket foto : salah satu rumah di Kupang yang belum pernah merasakan aliran listrik)

Sumber : Status Facebook Suci Handayani

Friday, June 16, 2017 - 16:00
Kategori Rubrik: