Ini Bukan Kesalahan Pak Jokowi

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Saat mengawali penyampaian visi misi dari kubu 02 hampir membuat penulis mules, karena bicaranya tak beranjak dari 'Larinya uang ke luar negeri' yang mana itu sudah berulang kali dijelaskan telah terjadi puluhan tahun, dan di era Jokowi justru dicoba untuk ditekan melalui 'Tax Amnesty' dan menandatangani 'Mutual Legal Assistance' dengan Kementerian Luar Negeri Swiss, dan akan dilanjut dengan negara lain.

Makin heran ketika memunculkan program 'Referendum Ekonomi' yang entah maksudnya kemana. Lalu 'Deindustrialisasi, tapi tanpa difikirkan aspek pendukung, baik infrastruktur, SDM, pasar, dan lain sebagainya. Kecuali untuk usaha kecil melalui program Oke Oce, dengan pelatihan dan penyediaan rumah siap kerja. Lebih aneh lagi saat Prabowo ingin membuat industri sebanyak mungkin agar dapat menghapus impor berbagai komuditas.

Prabowo pun mengatakan bila hal ini 'Bukan Kesalahan Pak Jokowi,' tapi kesalahan masa lalu, yang berarti kesalahan era orde baru yang berkuasa selama 32 tahun. Ya tentu saja, karena di era Jokowi sedang mengarah kesana, bahkan sedang mengsingkronisasi ke arah 'Revolusi Industri 4.0," karena semua aspek dipacu ke sektor digitalisasi agar dapat mempermudah, mempercepat, dan menekan biaya operasionalnya.

Prabowo juga lupa bila mengatakan industri Indonesia mandeg. Padahal BUMN telah menghasilkan pengembangan yang justru luar biasa. Di sektor penerbangan, PT DI setelah tersendatnya proyek N-250 yang kala itu dihantam krisis moneter yang berdampak pada krisis ekonomi, kini dilanjutkan dengan pesawat N-219, yang kemudian oleh Jokowi dinamai Nurtanio.

Lalu PT Pindad menghasilkan pruduk Alutsista yang dapat dibanggakan, begitupun PT PAL yang sudah ikut membuat kapal selam bekerja sama dengan Korea Selatan yang sedianya paska Pilpres akan diresmikan oleh Presiden Jokowi. Dan tentu saja masih banyak lagi, termasuk membuat gerbong kereta yang di export ke Bangladesh.

Baru kemudian penulis jadi tertarik ketika Prabowo mulai mengatakan betapa pentingnya teknologi dan komputerisasi secara nasional. Sayangnya kemudian, menjadi rancu ketika Prabowo kembali mengatakan akan fokus pada lapangan kerja, dan lainnya, bukan digitalisasi, unicorn, atau online-online.

Banyak hal yang ingin penulis bahas, tapi rasanya semua sudah basi, dan para sahabat pun sudah paham semua. Misalkan Sandiaga yang selalu memberi contoh individual seperti yang sebelumnya. Kali ini muncul lagi nama Nurjannah, Rahman, dan Mia. Seolah Sandi ini tak paham bahwa pendekatan ekonomi mikro jauh berbeda dengan ekonomi makro atau ekonomi negara, terlebih kebijakan fiskal.

Yang paling konyol bahwa Prabowo salah menangkap ucapan Wakil Ketua KPK, yang dikatakan ada kebocoran 2000 trilliun. Padahal selain Wakil Ketua KPK tak bisa dijadikan rujukan terkait kebijakan fiskal, juga yang dikatakan Wakil Ketua KPK hanya sebuah 'Prediksi' semata, halmana dikatakan bahwa Indonesia 'Berpotensi' ngumpulin pendapatan sebesar 4000 trilliun atau 2x lipatnya APBN.

Hal yang membuat tak menarik, Prabowo sangat garang ketika orasi di depan para pendukungnya, bahkan kadang berani berucap yang tak patut sebagai calon pemimpin negara. Dari memperkosa ibu pertiwi, bajingan, menteri utang, dan lain sebagainya, hingga antek aseng asing. Sementara saat debat justru kebalikkannya. Misal ia katakan bila Indonesia harus belajar dari China. Sebelumnya Prabowo hadir pula di Hari Kemerdekaan Tiongkok, serta curhat dan merendahkan Indonesia di Singapore.

Yang paling lucu, Sandiaga dengan pedenya merasa diuji saat ditanya masalah e-Sport, tapi jawabannya tak nyambung. Begitupun saat ditanya PUBG, Prabowo jawab ke pertanian

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Sunday, April 14, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: