Ini Buat Kamu yang Masih Bingung Hidupmu Mau Kemana

ilustrasi

Oleh : Dyah Novita

Ok, yuk kita bahas masa depan.

Ini menjadi dilema sendiri bagi generasi Millenial pada fase remaja dewasa 17-20, dan menjelang dewasa diawal usia 20an.

Pernah nggak sih merasa takut pada waktu yang akan datang?
Semacam phobia masa depan?

Selepas SMA banyak yang dilema pendidikan apa nanti yang akan ditempuh, fakultas dan lainnya. Sedangkan di usia dua puluhan, banyak yang binggung profesi yang akan digeluti, persoalan financial dan lain sebagainya. Banyak yang terjebak disini.

Tentu, dalam hati kecil yang terdalam kita di bayangi banyak penasaran dan ketakutan.

Itulah yang menjadikan gue sendiri merasa was-was terhadap masa depan. (sekarang udah enggak, gue udh nemu jurusnya dan tau jalan mana aja yang harus gue lewati)

Belum lagi bayang-bayang akan ketakutan tidak bisa meraih mimpi. Gue, kalian, dan kita semua memiliki ketakutan yang sama, atau minimal pernah memiliki ketakutan itu.

Tenang, ini wajar. Tandanya kita masih layak hidup karena masih ingin memiliki tujuan.

Pertanyaannya adalah, "Setinggi apakah mimpi kita boleh digantungkan?"

Apa hanya sekedar digantung atau bagaimana cara meraihnya?

Kalo kita ketemu motivator atau leader MLM, maka jawabannya adalah setinggi-tingginya. Benar, mereka mengajak kita menggantungkan mimpi setinggi langit. Nanti jatuh kan di awan. And ya, oadahal awan nggak empuk kaya di film kartun.

Mereka menggambarkan sebuah kesuksesan yang jika ditelaah secara logika, terdengar sebagai omong kosong.

Kalo kita ketemu sama Si Pesimis, maka jawabannya adalah "Mimpi lo ketinggian, jatoh sakit lho." demikian katanya. Atau "apaan cita-cita, gue aja bingung sekarang mau ngapain."

"Terus gimana dong Dyn?"

Mimpilah yang realistis. Jangan asal tinggi!

Gue pernah baca buku antologi milik Jack Canfield, kemudian gue nemu satu kalimat emas, yaitu: "Keberuntungan adalah persiapan yang bertemu dengan peluang."

Yak, tidak ada manusia yang benar-benar beruntung. Semua sudah teratur dan tidak ada suatu kebetulan yang terus menerus. Dalam artian, tidak ada yang sistematis!

Misal, ada anak muda yang passionya dibidang otomotif.

Skg seandainya dia bertanya-tanya, mungkinkah mimpinya dibidang otomotif berhasil bisa tercapai?

Mari kita lihat apa yang sedang dilakukannya saat ini?

Buku apa yang dibacanya, teman bergaulnya, dan juga bagaimana lingkungannya.

Dia bercita-cita demikian atau memiliki bengkel, tetapi bahkan di usia transisi dari remaja ke dewasa saja dihabiskan bersama game online.

Gue nggak bilang nge-game itu negative, ini hanya perumpaan pada suatu hal yang tidak hubungannya dengan mimpi tersebut.

Mimpi tersebut bisa menjadi tercapai misal sekarang, kalopun dia bandel masih ada hubungannya dengan otomotif. Sering ikut balap liar dan memodif motor atau mobil sendiri misalnya. Ini masih nyambung, atau bisa juga dia dnegan sengaja membawa pergaulannya dnegan hal berkaitan.

Jangan lupa, tempuh pendidikan secara tulus. Dalam hal ini, tidak ada keterpaksaan. Banyak generasi baik yang dulu maupun sekarang, menempuh pendidikan hanya karena paksaan orang tua. Sebagian lainya demi gengsi.

Memilih fakultaspun nggak main-main. Banyak sekali gue temui orang-orang yang asal nilih jurusan asal dasar "keren". Ini termasuk Temen deket gue, memilih hukum karena alasan sepele, "temen-temen banyak di fakultas itu."

Gue cukup gondok ketika denger hal itu. Untung saat itu gue belum kenal dia. And yah, ini kekonyolan yang banyak terjadi pada calon mahasiswa.

Segera ubah mindset tersebut. Pendidikan itu penting sebagai syarat dasar bersaing. Ini bagi yang bermimpi mencapai sesuatu di bidang akademis. Atau profesi seperti Dokter, bidnag Hukum dan lainya yang membutuhkan pendidikan formal.

Lalu bagaimana jika malas sekolah dan tidak suka pada pendidikan formal?

Nah, gue salah satunya. Gue nggak terlalu menganggap penting pendidikan akademis. Toh, nyatanya gue bisa hidup dan bekerja layak tanpa selembar ijazahpun. Sekarang mulai ada perusahaan yang lebih melihat kualifikasi dan jam terbang alih-alih ijazah atau nilai. Kabar buruknya, Perusahaan seperti ini masih jarang di Indonesia.

Ada banyak sekali ilmu yang bisa kita pelajari secara otodidak. Gue dua tahun terakhir menggeluti usaha kuliner. Tapi sejak usia 18 tahun, gue sudah membekali diri dengan buku-buku kewirausahaan. Gue nggak bisa masak, tapi sambil jalan gue sambil ikut kelas-kelas online yang tersedia gratis di internet.

Dulu semasa kerja pun gue mengikuti passion. Yak, Marketing. Gue suka bgt bidang ini, walupun sebagian org justru menjauhi profesi ini. Padahal jika menemukan perusahaan yang tepat, tentu kita tidak kesulitan mendapat sallary yang lebih. Dan pengalaman sebagai marketer ini juga menyumbang modal besar di usaha gue ini. Bukan modal financial, tapi mental, ilmu advertising, dan juga public speaking.

Intinya, sedini mungkin, bekali diri kita dengan sesuatu yang sekiranya akan kita raih dikemudian hari. Sedini mungkin juga, perbaiki lingkunganmu. Perbanyaklah teman yang sekiranya menyukai bidang yang sama.

"Kamu adalah seperti apa teman bergaulmu dan buku apa yang kamu baca." demikian kata pepatah.

Benar adanya. Jika lingkungan saat ini dipenuhi orang-orang pesimis, maka untuk melangkah maju sedikitpun akan sulit.

Tapi jangan berkecil hati, tetap besarkan mimpimu sekalipun berada di lingkungan yang berpikir kecil.

Terus belajar dan lakukan yang terbaik.

Kunci keberlangsungan hidup dan prinsip yang harus kita miliki adalah:

-HARGA DIRI

-KEJUJURAN

-OPTIMISME

-RASA HAUS ILMU

Selagi kita masih memiliki empat poin di atas, kita masih layak menjadi pemimpi yang realistis.

Yap, bukan manusia yang duduk berpangku tangan tetapi mengharapkan hasil lebih. Karena bahkan hidup itu sendiri, tidak seenteng seperti yang gue tuliskan.

Jadi, udah nggak jaman lagi mimpi menjadi Mega bintang padahal nggak punya talenta apa-apa.
Nggak jaman lagi mimpi setinggi langit, tapi nanjak dikit udah ngeluh capek.

Keep fight for your dream.

Sumber : Status Facebook Dyah Novita

Saturday, July 11, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: