Ini Alasan Perlunya Rasionalisasi PNS

Oleh : Hilman Fajrian

Dulu orang ingin jadi ‪#‎PNS‬ karena menganggap sektor ini bisa memberikan jaminan rasa aman dalam jangka panjang dan bebas dari guncangan ekonomi. Nyatanya tidak lagi. Coba lihat kenyataan ini:

Ekonomi dunia yang makin terhubung makin menciptakan ketidakpastian. Ekonomi AS dan Eropa jatuh, akibatnya ekonomi China dan regional Asia ikut tersungkur. Bagi daerah di Indonesia yang merupakan pusat produksi komoditas ekspor, pendapatan atas pajak akan turun. PAD (penerimaan anggaran daerah) meleset. Akibatnya APBD defisit karena penerimaan tidak seimbang dengan belanja.

Peristiwa lain: harga minyak jatuh yang diikuti harga komoditas tambang seperti batu bara. Untuk daerah yang bergantung pada pajak dan royalti hasil tambang dan migas, PAD-nya meleset jauh karena royalti didasarkan pada asumsi harga migas dan komoditas tambang (yang asumsinya ternyata meleset). Akhirnya APBD defisit. Ketika defisit yang paling mudah adalah menghapus anggaran pembangunan atau kegiatan lain dari APBD. Karena alokasi gaji pegawai atau PNS tak mungkin dihapus. Tapi tidak sedikit daerah-daerah ini yang punya PNS dalam jumlah raksasa sehingga perlu alokasi lebih dari 50% APBD untuk gaji mereka. Bahkan ada daerah di Kaltim yang APBD-nya sedemikian defisit sehingga bukan hanya tak bisa membangun tahun ini; APBD 2016 digunakan untuk membayar utang proyek tahun lalu yang APBD-nya defisit.

Di sisi lain, tak mungkin pula hal seperti ini terus dijalankan dimana APBD hanya untuk menggaji PNS dan daerah tak bisa membangun. Pembayar pajak tak akan terima uang mereka hanya dipakai untuk menggaji PNS, bukannya membangun daerah. Akhirnya opsi PHK PNS harus diambil dan 'seleksi alam' dijalankan: hanya mereka yang terbaik yang bisa dipertahankan. Bahasa halusnya 'rasionalisasi'.

Stability is dead!

Sumber : facebook Hilman Fajrian

Monday, May 23, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: