Ini Alasan Kenapa Pimpinan FPI Atau MUI tak Layak Disebut Ulama

provokasi

Oleh : Alif Kholifah

Ulama’ di Negara Indonesia difahami menjadi sosok panutan bagi umat, khususnya umat Islam. Namun kini banyak umat muslim kebingungan dengan orang-orang yang disebut Ulama’ atau mengaku-aku Ulama’ namun tingkahnya justru bertolak belakang dengan keulamaan seseorang. Lihat saja dalam demonstrasi FPI pada hari Jum’at (14/10) lalu.

Pengertian Ulama’ sendiri harus dilihat dari beberapa segi karena kata Ulama’ merupakan kata serapan. Ulama' Menurut bahasa adalah orang orang yang mengetahui. Kata Ulama' adalah kalimat jama' dari 'aalim عالم ada yang berpendapat bukan dari 'aalim akan tetapi dari 'aliim. عليم
عليم adalah isim fail mubalaghah dari عالم yang mempunyai arti yang sangat mengetahui. Ulama' menurut istilah adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam mengenai Al Qur'an dan Al Hadits dan Menerapkan Al Qur'an dan Al Hadits dalam kehidupannya.

Sehingga Ulama' adalah orang mengetahui Al Qur'an (baik bacaannya maupun kandungannya) dan mengajarkannya. Mereka adalah tidak hanya orang pilihan namun yang jauh dari nafsu duniawi. Ulama' adalah orang yang mendapat ilmu Rasulullah SAW dan setiap harinya hanya disibukkan dengan ilmunya. Mereka setiap harinya hanya bertabligh, mengajar dan mengarang Kitab. Serta masih banyak lagi yang lain namun pada dasarnya tetap sama yaitu orang yang bukan hanya sangat memahami ilmu agama islam namun juga mengamalkan ilmunya.

Ulama' adalah orang yang mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi setelah para Nabi dan Rasul dan Ulama' adalah pewaris para rasul. Maka dari itu, dijaman sekarang banyak sekali orang-orang mengaku ulama namun tingkah lakunya jauh dari makna Ulama’ itu sendiri. Kita bisa simak rekaman video saat demonstrasi di Jakarta yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) salah satunya Habib Rizieq Shihab. Mereka berdiri diatas truk namun kata-kata yang diucapkan justru bertentangan dengan makna Ulama’ itu sendiri. Berkali-kali mereka melontarkan kata Bego, Selain itu Rizieq mengeluarkan ancaman pada simbol-simbol negara.

Kata-kata yang keluar justru kata-kata kotor. Yel-yel yang dilakukan penuh kata-kata yang jangankan diucapkan oleh Ulama’, diucapkan seorang muslim saja tidak baik. Kita tahu siapa saja mereka. Termasuk mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais yang turut berpidato dan mengungkapkan kata-kata yang justru malah merendahkan martabatnya.

Pun demikian dengan perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang datang saat ada acara Indonesian Lawyer Club (ILC) yang bertajuk “Setelah Ahok Minta Maaf” pada 11 Oktober 2016 pukul 19.30. Saat itu, MUI diwakili oleh KH Tengku Zulkarnain dalam posisinya sebagai Wakil Sekjen MUI. Ketika diberi kesempatan mewakili MUI, Tengku Zulkarnain malah menyatakan “seharusnya Ahok itu di Bunuh, Di salibkan, Di Potong Kaki Tangannya Bersilangan atau diusir dari Indonesia” kata Zulkarnain berapi-api.

Jika dikembalikan pada terjemahan diatas, maka mereka (bila disebut Ulama') bisa saja memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Al Quran dan Al Hadits. Memiliki pengetahuan saja tidak cukup namun apakah mereka mengamalkannya?

Seperti dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kini umat Islam di Indonesia diluar NU dan Muhammadiyah atau yang tidak meneladani Al Quran, hadits maupun mencontoh kehidupan Rasulullah adalah manusia-manusia jahiliyah. Manusia-manusia yang jaman dahulu diperangi oleh Nabi Muhammad. Sudah puluhan tahun sejak Indonesia merdeka, kaum jahiliyah sembunyi-sembunyi dalam kelompok-kelompok ekslusif. Kini mereka muncul kembali dan bukan malah memberikan tauladan keUlamaa’an diri namun malah menuruti hawa nafsu.

Makanya, mereka tak layak disebut sebagai Ulama’

Sunday, October 23, 2016 - 19:30
Kategori Rubrik: