Ini Alasan Ahok Bakal Menang Pada Pilgub DKI

Oleh : Muhammad  Histiraludin

Akhirnya secara resmi ada 3 pasangan calon yang bakal bertarung dalam Pilkada Provinsi DKI Jakarta pada 2017 mendatang. Pasangan pertama yakni Basuki Purnama dengan Djarot Saeful Hidayat yang didukung PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura, kemudian pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno didukung partai Gerindra dan PKS serta pasangan Agus Harimurti dengan Sylviana yang diajukan oleh Demokrat, PAN, PKB serta PPP.

Dua pasangan penantang petahana dipilih jelang hari terakhir pendaftaran ke KPU dan hampir tidak ada kepastian siapa bakal diajukan. Koalisi kekeluargaan yang digadang-gadang bakal menghadang petahana runtuh bubar jalan. Nama-nama yang sering disebut sebelumnya bahkan sudah keliling ke masyarakat seperti H Lulung, Ahmad Dhani, Wanita Emas, Prof Yusril atau yang sempat deklarasi yakni Mardani hilang tak berbekas.

Nama Agus Yudhoyono dengan Sylviana Jum’at (23/9) dini hari diumumkan oleh Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Sementara nama Anies Baswedan – Sandiaga diumumkan setelah sholat Maghrib.

Dua pasangan penantang petahana yang benar-benar mengejutkan. Secara subyektif 2 penantang ini bakal kesulitan mengalahkan Ahok dan Jarot yang dilihat dari berbagai sudut lebih moncer. Meski politik itu bukan hitam putih namun realitas lapangan tidak bisa diabaikan. Apalagi masa kampanye sangat singkat dan masyarakat Jakarta akan benar-benar sulit beralih bila penantangnya mereka. Prediksi penulis, Ahok Jarot bakal memenangkan pertarungan Pilgub DKI 2017. Ini alasannya :

Pertama, Jumlah kursi partai pengusung yang terpaut jauh. Bayangkan pasangan Ahok Jarot didukung oleh PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura dengan jumlah kursi di DPRD sebanyak 52 kursi. Lihat partai pengusung Anies dan Sandiaga hanya 26 kursi dan pasangan Agus dengan Sylviana mencapai 28 kursi. Ini memang bukan hitung-hitungan matematika namun jauhnya selisih tentu menjadi tugas berat mesin partai.

Kedua, Figur pasangan calon memang dari sisi nama sudah dikenal tetapi mereka belum teruji di pemerintahan. Yang agak bisa dipegang mungkin calon wagub Sylviana namun pengalamannya belum cukup dilihat atau apakah pemilih mengetahui bagaimana model manajemen pegawai yang sudah banyak dirasakan masyarakat.

Ketiga, negosiasi koalisi kekeluargaan yang akhirnya terpecah membuat masyarakat meragukan keseriusan mereka. Mereka semua bukan partai baru, agenda Pilkada juga ditetapkan jauh-jauh hari tetapi penentuan nama dilakukan di injury time pendaftaran. Nama penantang incumbent yang sudah cukup lama melakukan kampanye hanya Sandiaga. Sementara nama Agus Harimurti, Sylviana dan Anies Baswedan disebut pada hari nama mereka ditetapkan.

Keempat, para pemilih yang notabene warga Jakarta faham bahwa Jakarta butuh pemimpin tegas bahkan cenderung keras untuk menata Jakarta. Bukan hanya pegawainya namun juga lalu lintas, PKL, kebersihan dan sector lainnya harus ditangani dengan baik. Masyarakat tahu betul bila si pemimpin tak tegas tentu Jakarta tidak akan seperti saat ini.

Kelima, proses sulitnya menentukan nama pasangan calon makin menunjukkan bahwa Parpol pendukung tidak punya lawan yang benar-benar sepadan dengan petahana. Bandingkan dengan PDIP yang tinggal memilih apakah akan mengajukan Jarot, Risma atau mendukung Ahok. Dan yang didaftarkan bukan nama lain.

Keenam pasangan calon lawan Ahok mayoritas bukan kader Parpol. Bahkan pasangan Agus dan Sylviana merupakan aparat pemerintah. Di mata masyarakat hal ini makin menurunkan kredibilitas para partai pendukung. Bukankah parpol itu wadah bagi pengkaderan dan menggodok kader partai untuk diajukan sebagai pemimpin? Sedangkan kubu PDIP jelas memiliki Jarot yang tidak hanya mantan Walikota Blitar namun juga masuk dalam pengurus DPP PDIP. Betul bahwa Sandiaga pengurus Gerindra namun kiprahnya sebagai kader partai selama ini tidak terlihat.

Ketujuh, akibat mendadaknya lawan petahana ditentukan pada menit akhir batas pendaftaran kita tidak tahu program apa yang menarik yang ditawarkan. Jargon Jakarta untuk Rakyat yang diusung oleh Agus – Sylviana terkesan “normative”. Sementara Anies dengan tipologi kalem, santun serta tenang juga menyatakan hal-hal mendatar.

Jadi, saya tidak melihat factor kuat untuk menumbangkan petahana pada Pilgub DKI 2017 mendatang.**

Sumber : kompasiana.com

 

 

Saturday, September 24, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: