Infrastruktur Langit

ilustrasi

Oleh : Dinar Kusuma

Jaringan backbone telekomunikasi yang lain adalah satelit. Indonesia saat ini memiliki setidaknya tujuh satelit khusus telekomunikasi. Ini adalah infrastruktur langit yang sungguh ada di langit dan sangat besar manfaatnya. Mari kita bahas satu per satu satelit ini:

=============================================

Istilah infrastruktur langit mendadak jadi topik hangat. Ada juga yang menyebut tol langit.

Istilah ini jadi trending setelah Cawapres nomor urut 1, Ma'ruf Amin, menyebut infrastruktur langit merupakan salah satu infrastruktur yang paling berhasil dikembangkan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Infrastruktur ini merujuk pada pembangunan jaringan tulang punggung (backbone) telekomunikasi agar masyarakat bisa mengakses internet dan layanan digital.

Ada dua jaringan backbone telekomunikasi secara umum. Yang pertama adalah jaringan serat optik. Pada era Jokowi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, melaksanakan pembangunan jaringan serat optik Palapa yang terbagi dalam tiga paket pembangunan, yaitu paket Barat, Tengah, dan Timur.

Jaringan backbone telekomunikasi yang lain adalah satelit. Indonesia saat ini memiliki setidaknya tujuh satelit khusus telekomunikasi. Ini adalah infrastruktur langit yang sungguh ada di langit dan sangat besar manfaatnya. Mari kita bahas satu per satu satelit ini:

Telkom 2

Telkom 2 diluncurkan pada 16 November 2005 dan diproyeksi beroperasi selama 15 tahun. Ia dirakit oleh Orbital ATK Inc. dengan model GEOStar-2. Satelit ini membawa 24 C-Band transponder untuk menyediakan layanan TV, telepon, dan Internet wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan Asia Selatan sekitar India.

Lokasi peluncuran berlangsung di Guiana Space Center, Guyana Prancis, memakai roket Ariane 5 ECA.

Telkom 2 berada di ketinggian 35.888 kilometer di atas Bumi. Pada awalnya mengorbit di 118 derajat bujur timur, tetapi kemudian slot orbit itu dipindahkan ke 157 derajat bujur timur.

Keberadaan Telkom 2 kelak bakal terganti oleh Telkom 3S yang dioperasikan perusahaan telekomunikasi Telkom Indonesia.

Palapa D

Palapa D atau juga disebut dengan Palada D1 merupakan satelit komunikasi geostationer yang dioperasikan oleh Indosat Ooredoo yang kini mengorbit di slot 113 derajat bujur timur. Ini merupakan satelit pengganti dari Palapa C2 yang mengorbit lebih dulu.

Indosat menunjuk Thales Alenia Space sebagai perakit satelit Palapa D, dengan dasar menggunakan platform tipe Spacebus-4000B3. Ia memiliki bobot 4.100 kilogram dan daya elektrik mencakup 6 kilo watt.

Satelit dibawa ke luar angkasa dengan roket Long March CZ-3B di area peluncuran milik Xichang Satellite Launch Center yang berlokasi di China pada 31 Agustus 2009.

Palapa D membawa kapasitas total 40 transponder yang di antaranya terdiri dari 24 standar C-Band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-Band. Transponder tersebut sanggup mencapai wilayah Indonesia, Asean, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.

BRIsat

BRIsat membawa BRI mencatat sejarah dunia. Bank Rakyat Indonesia (BRI) jadi perusahaan bank pertama di dunia yang meluncurkan dan mengoperasikan satelit.

BRISat yang berbobot 3.500 kilogram ini diproduksi oleh Space Systems/Loral (SSL), dengan peluncurannya difasilitasi oleh Arianespace melalui roket Ariane 5 ECA yang diluncurkan di Guiana Space Center, Guyana Prancis.

Satelit model LS-1300 ini membawa 9 transponder Ku-Band dan 36 C-Band transponder. Semuanya itu digunakan untuk memberikan peningkatan keamanan komunikasi perbankan untuk lebih dari 10.600 cabang operasional, serta 237.000 saluran outlet elektronik, dan 53 juta pelanggan di seluruh Tanah Air.

BRISat yang mengorbit di slot orbit 150 derajat bujur timur ini diklaim memiliki masa hidup selama 15 tahun lebih untuk melayani kebutuhan BRI dalam melakukan operasional perbankan.

Telkom 3S

Telkom 3S sukses diluncurkan pada 15 Februari 2017 dari Guiana Space Center, Guyana Prancis, dan sukses mengorbit di posisi 118 derajat bujur timur atau tepatnya di atas pulau Kalimantan, pada ketinggian sekitar 35.000 dari Bumi.

Ia dirakit oleh perusahaan Thales Alenia Space, Prancis. Membawa total 42 transponder, yang terdiri dari 24 transponder C-Band untuk wilayah Asia Tenggara, 8 sambungan transponder C-Band untuk wilayah Indonesia, Kalimantan Utara, dan Papua Nugini, serta 10 transponder Ku-Band untuk wilayah Indonesia. Satelit ini juga menjangkau seluruh wilayah Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur.

Teknologi pita frekuensi C-Band cocok dimanfaatkan di Indonesia untuk menghadapi cuaca buruk. C-Band bisa digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan data tinggi, seperti mesin ATM. Sementara pita frekuensi Ku-Band, yang lebih rentan terhadap gangguan cuaca, dipakai untuk kebutuhan siaran televisi, telepon, dan komunikasi bisnis.

Telkom Merah Putih

Satelit ini juga disebut Telkom 4. Telkom Merah Putih kini mengorbit di posisi 108 derajat Bujur Timur (108 BT), tepat di atas Selat Karimata.

Diluncurkan oleh roket SpaceX Falcon 9 di Cape Canaveral, Air Force Station, Florida, Amerika Serikat, pada 7 Agustus 2018. Ia membawa 60 transponder aktif yang terdiri dari 24 transponder C-Band dan 12 transponder Extended C-Band yang akan melayani wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta 24 transponder C-Band yang akan menjangkau kawasan Asia Selatan.

Pembangunan Satelit Merah Putih bisa terlaksana berkat kerjasama dengan SSL (Space Systems/Loral). Perusahaan asal AS ini berhasil menuntaskan pembangunan satelit selama 2,5 tahun sejak 2016, atau lebih cepat dari jadwal. Satelit Merah Putih mengandalkan platform SSL 1300, yang didesain memiliki daya ketahanan 16 tahun.

Satelit Merah Putih ditargetkan akan memperkuat bisnis telekomunikasi dan satelit Telkom yang dioperasikan terlebih dahulu, yaitu satelit Telkom-2 dan Telkom 3S.

Satelit Nusantara Satu

Satelit terbaru yang diperuntukkan untuk telekomunikasi Indonesia meluncur pada 22 Februari 2019 dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Sekarang posisinya ada di slot orbit 146 derajat Bujur Timur, tepat di atas Papua.

Satelit ini nantinya akan dioperasikan dan dikelola oleh anak usaha PSN, yaitu PSN Enam Indonesia dan dikendalikan di Satellite Control Center yang berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta. Diharapkan mulai berfungsi pada April 2019.

Kapasitas Nusantara Satu saat ini sudah terpakai sebanyak 70 persen, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjadi pengguna terbesarnya. Dengan kontrak penggunaan yang telah dipegang Kominfo, satelit Nusantara Satu bisa dimanfaatkan untuk menyambungkan puskesmas, sekolah, kantor desa, dan kantor kelurahan di wilayah Indonesia yang minim konektivitas broadband.

Nusantara Satu menggunakan platform SSL-1300 140 dengan usia yang didesain bertahan selama 15 tahun. Ia memiliki 52 transponder yang terdiri dari 38 transponder C/Ext-C Band dan 8 spotbeam Ku-Band dengan total kapasitas hingga 15 Gigabits per second (Gbps).

Cakupan C/Ext-C Band satelit Nusantara Satu meliputi wilayah Asia Tenggara, sementara Ku-Band meliputi seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari 8 spot beam pada sistem HTS.

Bedanya dengan satelit konvensional, satelit berteknologi high throughput, dapat menangkap dan mengirimkan seluruh frekuensinya ke daerah yang sangat luas berkali-kali menggunakan sejumlah spot beam.

#InfrastrukturLangit
#PalapaRing
#SatelitNusantaraSatu
#JokowiLagi
#JOIN
#JokowiAmin
#JokowiSekaliLagi
#SatuIndonesia
#IndonesiaSatu

Sumber : Status Facebook Dinar Kusuma

Wednesday, March 20, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: