Inefisiensi Pada Dana Hibah dan Bansos DKI 2017?

Ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Serapan anggaran memang penting karena menjadi salah satu tolak ukur kinerja sebuah pemerintahan. Tapi, perlu diingat bahwa dalam membelanjakan anggaran juga harus diperhatikan faktor efisiensi dan manfaatnya. Jangan karena mengejar angka serapan lantas tutup mata terhadap pemborosan karena bagaimanapun itu dana milik masyarakat.

Salah satu mata anggaran yg sering jadi sorotan adalah mengenai dana hibah dan bansos. Dan salah satu inefisensi yg akan saya bahas terjadi pada pos ini, menyusul dikeluarkannya SK Gub DKI tentang pemberian dana hibah dan bansos yg ditandatangani Anies pada 27 Okt 2017 sebagai revisi SK sebelumnya pada awal 2017.

Pemberian dana ini sebetulnya wajar, namun menjadi tidak wajar jika terjadi lonjakan luar biasa. Kenapa disebut luar biasa? Karena jika dibandingkan tahun2 sebelumnya yg relatif tidak berubah, stabil, tiba2 dinaikkan hampir 9 kali lipat. Ini terjadi pada item bantuan keuangan untuk DPW partai politik.

Sejak 2014-2017 awal, di masa kepemimpinan sebelumnya, kisaran jumlah dana yg diperolah parpol tidak banyak berubah. Ada yg naik, ada yg turun namun rata2 tetap. Kalaupun ada kenaikan, paling jauh sekitar 3x. Jika di awal tahun ditetapkan sekian, maka di penghujung tahun jumlahnya relatif sama. Tapi tidak berlaku untuk tahun ini.

Seperti yg bisa dilihat pada gambar dibawah, terjadi kenaikan kurang lebih 16 M dari yg awalnya 1.8 M menjadi 17.7 M. Melonjak signifikan karena kenaikan untuk mayoritas parpol hampir 9x lipat. Sesuatu yg tidak pernah terjadi di tahun2 sebelumnya.

Saya tidak peduli maksud kenaikan itu apakah karena menjelang KUA-PPAS 2018 pd awal November, sekedar itikad baik menjalin keharmonian yg sempat retak atau entah apapun alasannya, saya tidak peduli. Tapi tolong berikanlah angka yg rasional karena angka 17.7 M inilah yg kemungkinan jadi patokan untuk APBD di masa mendatang.

Silahkan dinaikkan, parpol pun perlu dana. Tapi kenaikan sedrastis itu bukan hal yg bijak saat situasi ekonomi global tengah lesu. Bahkan jika memasukkan faktor inflasi pun tidak akan sampai setinggi itu kenaikannya. Dan bukan seperti itu cara menggenjot kinerja yg masyarakat harapkan.

Jumlah 16 M memang kecil dibanding APBD DKI yg berkisar 70 T. Padahal tahukah anda bahwa uang sebesar itu bisa sangat berarti untuk pos lain, misalnya untuk membeli mobil fortu**r bekas jika sewaktu2 perlu menerobos one way, iya kan?

Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Monday, November 20, 2017 - 16:30
Kategori Rubrik: