Industrialisasi Dakwah

Ilustrasi

Oleh : Heni Nuraini

Flashback dua dekade ke belakang, ketika saya masih sering mencuri-curi ilmu dari para lulusan S2 S3 Universitas Madinah, saya sering dibuat terkagum-kagum oleh mereka yang bersedia berbagi ilmu, bahkan disertai dengan buku-buku, secara GRATIS. 

Artinya mereka benar-benar mengupayakan segala sarana dan prasarananya dari kocek pribadi. Itu belum dihitung dengan "biaya waktu" mereka yang tersita, mungkin mengorbankan family time, atau kalau waktunya digunakan untuk bekerja atau berbisnis, mereka sudah menghilangkan kesempatan mendapatkan sekian materi. 
Saya dibuat terkagum-kagum oleh pilihan jihad yang diambil oleh mereka, yaitu ingin berperan serta turut mencerdaskan saudara-saudaranya.

Semisal, agar ilmu yang mereka miliki lebih bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak orang, mereka akan menggunakan media internet untuk berbagi ilmu. 
Kalau di luar negeri, situs ini (wiziq dot com) cukup terkenal sebagai wadah bagi mereka yang ingin mengajar atau mencari guru secara gratis. Ada ribuan guru yang menyelenggarakan kelas-kelas online dan jutaan murid dari seluruh dunia bisa menghadiri kelas-kelas online tersebut. 

Di Indonesia, fasilitas yang disediakan situs ini tidak banyak dimanfaatkan oleh orang Indonesia untuk mengajar, saya mengira karena biaya internet yang memang mahal di Indonesia. Kalau gurunya bisa membuat sebuah kelas online, belum tentu masyarakat umum bisa menghadiri, karena wifi dengan kecepatan koneksi yang cukup baik belum secara merata bisa dinikmati masyarakat Indonesia.

Makin ke sini, orang-orang seperti mereka makin jarang ditemui, khususnya yang bermukim di kota-kota besar di negara manapun. Ketika industri sudah masuk ke semua sektor, dan orang pergi menuntut ilmu tujuan akhirnya hanya menyiapkan modal untuk mencari penghasilan, maka bidang dakwah pun tidak lepas dari industrialisasi.

Hari ini, kita harus mengeluarkan uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk bisa mendengarkan satu dua jam dari sebagian ilmu mereka. 

Karena memang yang dicari adalah profit, mereka akan memilih tempat-tempat berbayar, seperti hotel, convention hall sebagai tempat untuk berbagi ilmu, sehingga menjadi tidak murah lagi bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu mereka. Ini belum termasuk dengan industri tumpangannya, seperti jualan buku, pakaian, kosmetik, agen perjalanan haji/umroh dan produk-produk lain yang berhubungan dengan ilmu yang sedang dijual. 

Dan strategi marketing pun perlu dibuat sedemikian rupa agar bisa menjaring "pembeli" sebanyak-banyaknya. Kita sudah tidak bisa membedakan mana dakwah dan mana orang yang yang berjualan, karena semuanya sudah menjadi satu paket. Demikianlah era industrialisasi dakwah dimulai.

Bahkan ketika masyarakat bisa menikmati ilmu secara gratis, sebenarnya tidak benar-benar lepas dari industrialisasi. Para penyelenggara, termasuk di dalamnya para pemilik ilmu itu sendiri, dalam rangka meraih profit perlu menggandeng perusahaan-perusahaan industri untuk mensponsori acara-acara tersebut, dan perusahaan tetap akan mendapatkan keuntungan dari masyarakat audien.

Saya melihat fenomena yang sama terjadi di situs teaching online seperti wiziq dot com. Kalau dulu umumnya para pengajar menyelenggarakan kelas online secara gratis, sekarang rata-rata sudah menetapkan tarif. Publik sudah tidak bisa lagi sign kelas yang diinginkan secara gratis, kecuali harus mendaftar dulu dan mentransfer sekian uang kepada admin.

Bisa jadi fenomena ini merambah ke dunia online karena mereka para pemilik ilmu melihat peluang. Dalam era teknologi masa kini, dengan jutaan orang yang kini mencari ilmu lewat internet, mengapa harus memberi ilmu secara gratis, manakala bisa mendapatkan uang besar dari peluang pasar yang sangat besar ini.

Tidak ada yang salah dari industrialisasi dakwah, yang membedakan hanya outputnya saja. Seorang syaikh pernah berkata, output itu tergantung dari inputnya. Jika seseorang mencari ilmu tujuannya hanya untuk mencari penghasilan, maka hanya materi itulah yang didapat. Ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Ilmunya mungkin hanya bermanfaat bagi dunianya, namun tidak bagi akhiratnya. Inilah yang terjadi ketika seseorang menuntut ilmu tidak diniatkan karena Allah. 

Jadi membangun niat yang benar sejak dari awal proses akan sangat mempengaruhi output dari ilmu yang kita miliki.

Mungkin karena hal demikianlah, semakin mendekati akhir jaman, dunia ini menjadi semakin rusak. Bisa jadi dunia semakin banyak memiliki orang-orang berilmu, namun tetap tidak mampu mencegah kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi. Ilmu yang dimiliki manusia akhir jaman ibarat hanya sebatas pakaian yang menempel di badan, ia hanya mempercantik orang yang mengenakannya, namun tidak mencegah si pemakainya dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. 

Jadi sudah menjadi pemandangan umum, manusia sholat dan mengaji tapi tetap tidak jengah untuk melakukan korupsi, pungli, penipuan, yang pelajar melakukan contek mencotek ketika ujian, orang tidak merasa bersalah membuat hoax, fitnah dan ujaran kebencian di social media, dst dst dst... Bahkan pemandangan yang sangat memiriskan, ketika orang-orang yang kita panggil ustadz, satu demi satu menjadi penghuni rutan KPK.

Jadi benarlah, ketika Allah ingin menciptakan fitnah akhir jaman sebagai tanda-tanda kiamat sudah dekat, Allah cukup mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama pewaris Nabi, dan menyisakan manusia-manusia yang memperjualbelikan ilmu agama, sehingga tersesatlah para penduduk bumi, baik bumi datar maupun bumi bulat wkwkwk...

Ingin menambahkan lagi dengan ustadz seleb karbitan TV? Tidak usah lah ya, sudah menjadi rahasia umum bagaimana cara mereka menjadikan ladang dakwah sebagai sebuah industri. Ingin mengetesnya mudah saja, coba hubungi manajemen mereka (luar biasa, sudah persis seperti manajemen artis, tidak bisa sembarang orang bisa menghubungi para ustadz seleb ini, kecuali harus melalui manajer-manajer mereka), undang mereka untuk dakwah ke pelosok desa terpencil, yang belum memiliki infrastruktur jalan yang baik, belum ada penginapan apalagi hotel berbintang, dan lihat apakah mereka bersedia memenuhi undangan tersebut 

Sebagai perbandingan saya punya pengalaman menarik, dulu saya sempat punya nomor telepon beberapa ulama besar yang duduk di lembaga Ifta Kerajaan Arab Saudi, dan ulama besar lainnya yang tersohor di dunia. Nomor-nomor telepon tersebut sudah biasa tersebar di kalangan para penuntut ilmu dan menjadi keistimewaan tersendiri jika kita bisa memiliki nomor-nomor telepon tersebut. Karena ketika kita mengirimkan pesan pertanyaan kepada mereka, mereka sendiri yang akan langsung menjawabnya atau jika tidak sempat akan dijawab oleh istri, anak atau murid mereka, namun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita tetap dijawab langsung oleh mereka.

Sangat mengharukan bagaimana para ulama, yang benar-benar ulama, tidak pernah ingin merasa jauh dan berjarak dengan para jamaahnya. Semoga Allah memberkahi mereka Allahumma aamiin...

Dalam tulisan ini saya juga ingin memberikan apresiasi tinggi bagi para ustadz kampung, yang masih ikhlas mendedikasikan waktu dan materinya untuk berdakwah dari satu kampung ke kampung lainnya dengan berbagai rintangan di dalamnya. Semoga Allah memberkahi mereka Allahumma aamiin.

Kemarin ketika saya sempat mudik ke kampung halaman almarhumah ibu, mendengar banyak cerita mengharukan tentang para ustadz kampung yang bersedia mengajar setiap hari di madrasah-madrasah kampung hanya dengan bayaran 50 ribu sebulan, seringkali tanpa bayaran sama sekali, bahkan mereka harus nombok untuk biaya transportasi dan sarpra mengajar di madrasah-madrasah tersebut. 
Dalam hal ini pemerintah hanya memberi bantuan sebesar 100 ribu/pertahun (pertahun saudarah, bukan perbulan) bagi para guru-guru sekolah informal. 

Bandingkan dengan penghasilan para guru PNS yang tidak cukup digaji besar masih ditambah lagi dengan tunjangan kerja yang sekali cair bisa untuk berangkat umroh. Itupun mereka masih mengeluh tentang minimnya penghargaan terhadap mereka, padahal tidak sedikit yang berangkat mengajar cuma sekedar mengisi absensi.

Dibandingkan dengan para pengajar sekolah informal atau para guru honorer yang berada di pelosok kampung, yang jika bukan karena pengabdian, tanggung jawab dan kecintaan kepada pekerjaannya, sangat kecil sekali nilai pengabdian dan tanggung jawab para guru di perkotaan yang masih bisa bergagah-gagah dengan mobil berAC dingin dan hunian cantik di perumahan-perumahan yang asri. 

Tentu saja peningkatan kesejahteraan guru yang diupayakan oleh pemerintah patut disyukuri, dibandingkan dengan nasib guru di jaman orba dulu. Dengan catatan, peningkatan kesejahteraan ini berbanding lurus pula dengan tujuan peningkatan tersebut, yaitu meningkatkan pengabdian dan tanggung jawab terhadap profesi dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas, bukan hanya dalam hal intelektual, termasuk dalam kepribadian, iman dan takwa,

Sangat mengharukan sekaligus memprihatinkan ketika saya sempat menyaksikan beberapa ustadz kampung mencari bantuan ke sana ke mari untuk mensupport gaji para guru madrasah, minimal supaya mereka tidak nombok terus, agar terus memiliki semangat untuk mengajar. 

Lalu saya berpikir, mengapa lembaga-lembaga sosial besar yang berada di perkotaan, belum memberikan perhatian kepada mereka. Padahal mereka adalah para mujahid yang sebetulnya memiliki hak atas sebagian zakat yang kita keluarkan. Sepertinya lembaga-lembaga sosial ini juga kurang piknik ke pelosok-pelosok kampung, sehingga ada komunikasi yang terputus antara perkotaan dan daerah.

Semoga siapa saja yang membaca tulisan ini, dan memiliki akses demi terwujudnya harapan kita bersama ini, bisa mengupayakan jalan bagaimana agar yang di perkotaan bisa turut membantu perjuangan mereka yang berada di daerah.

Berikut saya lampirkan pesan menarik dari Syaikh Hasan Ali bagi para penuntut ilmu, how to build our intention agar kelak ilmu kita bermanfaat bukan hanya bagi dunia dan akhirat kita, namun juga bermanfaat bagi orang lain. Semoga bermanfaat....

Sumber : Status Facebook Heni Nuraini

Wednesday, October 11, 2017 - 15:45
Kategori Rubrik: