Indonesia Zero Coronavirus, Luck or Bad Screening?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Beredar berita-berita memprihatinkan tentang pejabat-pejabat negara yang berkomentar ngasal di media massa. Mulai dari berenang bisa hamil, anjuran orang kaya menikahi org miskin untuk memutus rantai kemiskinan, hingga perwakilan kemenkes yang fatal menganggab kasus COVID-19 tidak sama dengan SARS-CoV-2.

Padahal COVID-19 adalah nama penyakitnya, dan SARS-CoV-2 adalah nama virusnya. Akibat kesalah pahaman ini jadi muncul berita seolah turis yang terdeteksi COVID-19 sehabis liburan dari Bali disebabkan strain virus yang berbeda dari virus corona yang mewabah saat ini.

Bedain nama penyakit saja tidak bisa gimana mau mendeteksi? Tentu ini menimbulkan skeptisme yang lebih besar terhadap kemampuan pemerintah Indonesia dalam mendeteksi kasus COVID-19 yang sampai sekarang masih 'zero case', padahal negara di sekelilingnya terkena semua.

Bahkan virus ini sudah sampai tidak hanya ke negara yang lebih jauh seperti Eropa dan USA, namun juga Bahraen dan negara-negara timur tengah, sampai Saudi memblokade jamaah umrah dari negara kita. Lihat, negara lain saja rela kehilangan pemasukan umrah dr jamaah terbesar di dunia, bagaimana bisa negara kita justru mau gelontorin milyaran buat influencer demi menarik wisatawan?

https://tirto.id/dana-rp72-miliar-buat-influencer-pemerinta…

Herannya di negeri kita, entah mungkin kebiasaan bercanda saat merasa layanan pemerintah tak lagi bisa diharapkan, atau memang masyarakatnya mudah terpengaruh hoax. Yang ada justru kebanggaan biasa hidup jorok, makan makanan sembarangan, hingga konsumsi micin yang diajukan sebagai alasan paling mungkin kenapa Indonesia masih zero case.

Padahal di India yang terkenal lebih jorok, pedagang makanan biasa mengaduk kaldu dagangan dengan tangan di depan pembeli, tetap mereka dapati adanya kasus. Apalagi China yang konsumsi micin-nya jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Demikian juga alasan virus tidak bisa hidup di lingkungan tropis terbantahkan dengan kondisi Singapura yang justru masuk siaga 'orange' karena banyaknya kasus, demikian juga Malaysia yang juga beriklim tropis.

Tadinya saya sempat terpikir dibandingkan hipotesis hidup jorok dan makanan tak sehat, lebih mungkin adanya mutasi, misal varian yang menyebabkan orang Indonesia lebih kebal terhadap virus ini akibat histori menghadapi wabah mematikan di masa lalu. Sebagaimana mutasi pada gen CCR5 yang dikaitkan dengan resistensi terhadap HIV yang menyebar di populasi Eropa sebagai respons terhadap seleksi alam dari wabah (Black Death) atau smallpox di masa lalu.

Namun, dugaan inipun kandas ketika terdapat laporan 9 WNI juga positif terkena COVID-19 di kapal pesiar Diamond princess.

Jadi dibanding berbangga diri karena kebal SARS-CoV-2, lebih mungkin untuk skeptik aadanya potensi virus ini tengah menyebar diam-diam tidak terdeteksi di negara kita.

Apalagi pada 22 Februari, Pemerintah Metropolitan Tokyo mengumumkan pria Jepang yang didiagnosis positif COVID-19 setelah kembali dari liburan di Bali. Pria ini sebelum ke Bali tanggal 15, pada tanggal 12 sempat memeriksakan diri dengan gejala common cold biasa, besar kemungkinan dia telah tertular ketika di Jepang dan berada di Bali saat virus mengalami masa inkubasi tanpa menunjukkan adanya gejala (asymptomatic), sehingga bisa lolos dari pemeriksaan bandara. Masalahnya meski tanpa gejala, virus corona ini masih tetap bisa menular.

Bandingkan dengan kasus serupa di Jerman, ketika seorang wanita China berkunjung ke Jerman beberapa hari dalam kondisi asymptomatic dan sekembalinya ke China positif mengidap COVID-2019, segera setelahnya 5 orang yang pernah bertemu di Jerman ikut positif terinfeksi. Namun herannya di Indonesia hingga kini belum ada laporan.

Apalagi Bali adalah salah satu top destinasi turis yang terhubung dengan pesawat dari Wuhan secara langsung. Bahkan peneliti dari Harvard menganalisa korelasi antara jumlah penerbangan dengan deteksi SARS-Cov2 yang diharapkan muncul, maka untuk Indonesia yang tergolong tinggi, sepatutnya infeksi SARS-Cov2 juga diantisipasi akan tinggi.

https://www.medrxiv.org/conte…/10.1101/2020.02.04.20020495v2

Menkes menyebut penelitian ini 'insulting' dan bersikeras bahwa Indonesia memang seberuntung itu bisa 'zero case'. Padahal berdasar data statistik:

https://bali.bps.go.id/…/jumlah-wisatawan-mancanegara-yang-…

Tahun 2019, terdapat 1.196.497 turis China yang ke Bali, termasuk pesawat langsung dari Wuhan.

Tidak hanya Jepang yang meragukan, sebelumnya media massa Australia, Sydney Morning Herald, juga meragukan testing kit yang dimiliki Indonesia untuk mendeteksi SARS-CoV2 belum memenuhi syarat:

https://amp.smh.com.au/…/that-s-a-problem-indonesia-s-coron…

Indonesia baru mendapatkan primer untuk sequencing spesifik baru 4 Februari, agak terlambat.

Yang dikhawatirkan adalah kasus asymptomatic yang menjadikan lebih sulit untuk terdeteksi, namun penderita tetap memiliki peluang untuk menyebarkan di sekelilingnya berdasarkan penelitian ini:

https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMc2001737

Apalagi berdasarkan penelitian, demam terjadi hanya pada 43,8% pasien. Penelitian juga mencatat tidak adanya demam lebih sering dijumpai pada COVID-2019 ini dibandingkan pada kasus infeksi SARS dan MERS. Pasien seperti ini mungkin terlewatkan jika surveilan sangat terfokus pada deteksi demam.

Mengingat masa inkubasi virus ini berkisar 14 hari menurut WHO, bahkan bisa sampai 24 hari menurut laporan dari pemerintah lokal China, meskipun hanya ditemukan pada satu pasien dan belum terkonfirmasi lebih lanjut di penelitian.

https://www.thailandmedical.news/…/alarming-news-new-chines…

Namun bila tidak terdeteksi dalam jangka waktu 14 hari bisa-bisa begitu terdeteksi sudah telanjur mewabah. Semoga saja tidak, aamiin.

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Friday, February 28, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: