Indonesia Yang Makin Baik

ilustrasi

Oleh : Rinny Mirari Ermyanti

Saya tuh pernah banget mengalami:

1. Kirim surat lamaran bekerja lewat pos, tetapi ketika akan dipanggil untuk interview, ngga punya ongkos. Ngga usahlah berikut uang makannya, masih bisa koq tahan lapar seharian. Cukup ongkos bus aja. Tetapi apa daya, uang seribu aja, ngga punya.

Saya pernah melamar kerja untuk menjadi QC Lab perusahaan snack di daerah Kampung Bandan. Sebelum berangkat, saya pergi ke binatu untuk menggadaikan kain batik Ibu. Dapat uangnya dibagi dua. Sebagian untuk makan orang di rumah, saya kebagian cuma cukup untuk ongkos naik bus berangkat aja.

Dengan penuh harap dan berbekal doa ibu, saya pun menjalani interview hari itu.

Untuk pulangnya, saya numpang-numpang mobil losbak ke arah Priok. Akhirnya dari Perempatan Gunung Sahari jalan kaki sampai Tanjung Priok, karena ngga dapat tebengan. Bisa bayangin jaraknya?

Tapi saya gagal diterima di perusahaan ini gara-gara SHIO saya ternyata berbeda dengan shio yang cocok dengan bosnya.

2. Beberapa minggu kemudian, saya diterima bekerja di perusahaan kosmetik Mustika Ratu. Tetapi setiap pagi untuk berangkat bekerja saya degdegan. Karena bingung mau cari utangan kemana lagi buat ongkos ke tempat kerja. Ongkos bus Tanjung Priok-Kampung Rambutan, plus angkot Kampung Rambutan-Cimanggis, PP.

Sejak usia 18 tahun, saya menjalankan puasa Nabi Dawud selama bertahun-tahun. Apakah karena keimanan saya tinggi?

Bukan!
Tetapi karena itu adalah ‘cara elegan’ untuk tidak perlu beli makan siang setiap hari di tempat bekerja.

Lah, kalau ada teman ngajak makan siang bareng, lalu terus-terusan saya tolak dengan alasan ngga punya uang makan, ya malu tho. Tapi kalau saya bilang, ‘saya sedang puasa’, koq kesannya anak solihah, gitu.

Kedua hal itu juga dialami adik-adik saya dengan versi yang jauh lebih lumayan. Kan ada Kakak yang bisa kasih subsidi. Meski dia harus berhemat. Karena biasanya subsidi kakak sangat ngepas.

Lalu masalah lain bagi saya adalah baju kerja. Saya mulai bekerja sejak tamat SMA. Sebagai orang miskin, koleksi baju saya yang bagus-bagus udah ditukar menjadi uang di tukang loakan baju, lalu ditukar lagi menjadi Indomie di warung tetangga.

Akibatnya, ketika akan bekerja, koleksi baju di lemari saya cuma seragam putih abu-abu, dan beberapa kaos dan rok lusuh.

Maka sebelum bekerja, Ibu membelikan saya 2 blus putih dan 2 rok hitam di Pasar Permai. Dipakai bergantian. Satu stel dicuci. Satu stel dipakai. Saat musim hujan, tak jarang malam-malam saya harus menyeterika baju lembab yang dicuci tadi pagi hingga kering.

Untuk beli baju itu, Ibu harus cari utangan ke rentenir. Bayar 3x plus bunga 30%.

Terus sekarang, ada orang yang menghujat Santunan Prakerja. Mungkin yang bersangkutan tidak pernah mengalami pengalaman pahit seperti yang saya alami dulu. Alhamdulillah ya, Om, Tante. Semoga anak cucu turunanmu ngga ada yang ngalamin hal tersebut sehingga ngga ketulah omonganmu.

Coba tolong perluas bacaanmu, Sayang. Lihat ke sekeliling dunia, negara mana saja yang sudah memberikan santunan tersebut. Bahkan ada yang hingga 3 tahun. Bukan cuma negara di Eropa, Australia dan Amerika, beberapa negara ‘berflower’ (menurut istilahmu), ada loh yang memberikan tunjangan bagi pengangguran. Googling gih.

Tentu ngga sekedar mak nyoh nih duit. Seperti halnya KJP, KIP, pemerintah pasti akan membuat regulasi kriteria dan syarat-syarat penerima Tunjangan Prakerja ini.

Khawatir akan ada pelanggaran?

Yaelah, kamu tuh ada rambu dilarang memutar balik aja dilanggar. Tetapi berapa banyak yang melanggar vs yang patuh?

Negara tercinta ini sedang berbenah. Termasuk sedang berbenah tentang mental korupsi dan mental merasa miskin.

Insya Allah akan semakin baik.

Setidaknya sekarang rakyat miskin tidak lagi punya alasan tidak bisa sekolah karena tidak sanggup bayar SPP. Atau rakyat yang sakit tidak lagi takut berobat karena tidak bisa bayar rumah sakit.

(Kalaupun ada yang masih mengalami hal tersebut, biasanya karena masalah di administrasi kependudukan.)

Dan semoga nanti tidak ada lagi pekerja yang tidak bisa berangkat ke tempatnya bekerja dengan alasan tidak punya ongkos.

Karena eksesnya akan panjang: Sering ngga masuk kerja bisa di PHK — Jadi pengangguran — Ngga ada pemasukan — Susah buat beli bahan makanan —Kelaparan — gizi buruk. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Sumber : Status Facebook Rinny Mirari Ermiyanti

Friday, June 28, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: