Indonesia VS Saudi

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Hubungan kedua negara sangat unik dan lucu. Mungkin karena saling cinta dan saling butuh.

Resminya negara kita sudah menghentikan pengiriman jasa TKI ke Saudi sejak beberapa tahun yang lalu. Namun aliran TKI ke Saudi lancar-lancar saja. Ternyata mereka masuk dengan visa ziarah.

Yang cerita bukan saya, tapi Duta Besar RI untuk Saudi sendiri. "Modus yang dipakai untuk memasukan TKI ke Saudi adalah dengan menggunakan visa ziarah. Faktanya enggak pernah ditutup, Saudi punya cara sendiri, punya cara untuk buka pintu itu. Modusnya begini, mereka masuk diberikan visa ziarah selama 90 hari, setelah sampai sana di convert jadi izin tinggal. Kalau sudah jadi izin tinggal ini bisa 5-10 tahun," jelas Agus Maftuh Abegebriel.

Dan ternyata akhirnya ketahuan bahwa TKI kita berangkat ke Saudi bukan semata-mata kita yang butuh devisa. Tetapi orang Saudi sendiri yang butuh TKI kita. Kira-kira seperti judul lagu : Benci Tapi Rindu.

Sebelumnya, Dubes Saudi untuk Indonesia, Osamah Mohammad Al Shuibi sempat meminta pada Pemerintah Indonesia agar segera kembali membuka kran pengiriman TKI ke Saudi. Nah, ketahuan kan siapa yang butuh?

Saya bilang hubungan kita dengan Saudi itu lucu, karena Pak Dubes kita untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, ketika ditanya berapa jumlah WNI kita yang ada di Saudi, Beliau hanya bisa menjawab : WAllahu a'lam. Hanya Allah SWT saja yang tahu berapa jumlah mereka.

"Jumlah WNI kita di Saudi seberapa banyak yang tahu hanya Allah," ujar Agus di ruang konferensi pers, Palapa, Kemlu, Pejambon, Jakarta Pusat.

Pemerintah Saudi tidak punya datanya, begitu juga dengan pemerintah kita. Sama-sama tidak punya datannya. Keren banget kan?

Jangan-jangan berapa warga Saudi yang ada di Indonesia, juga hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas kalau kita jalan-jalan ke Puncak Cisarua Jawa Barat, kita seperti lagi ada di Mekkah. Banyak orang Arab nggak tahu lagi pada ngapain.

Soale saya pernah diajak ngomong Arab sama penduduk lokal. Mungkin dikiranya saya orang Arab kali ya. Gara-garanya saya kebetulan pas lagi pakai gamis panjang dan parkir di warung makan.

Puncak itu kan dinging, jadi saya merasa nyaman pakai gamis. Ternyata saya ditawari : harim...harim...zuwaj...zuwaj...

Alamaaaak . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, February 19, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: