Indonesia Terserah: Pegari dan Covid-19

Oleh: Sahat Siagian

 

Saya punya grup WA beranggotakan 7 orang. Tiap hari ada saja yang kami bincang. Tapi dalam 45 hari terakhir, tentu saja, kami berbincang soal Covid-19 selain pekerjaan yang sedang kami rancang.

Seseorang secara teratur memasok data Covid-19. Saya juga dengan teratur menganalisisnya. Analisis saya gak pernah salah, satu kali pun tak meleset. Apa itu? “Sampai dengan saat ini tak ada model yang bisa digunakan untuk memroyeksikan data-data ini bagi perkiraan berapa jumlah kasus positif, sekaligus juga berapa taksiran jumlah korban kelak, di akhir pandemi.”

 

Bukan cuma itu. Bahkan untuk membangun model baru pun saya tak sanggup. Setiap hari kesimpulan itu saja yang saya sampaikan.

Tak ada pola tertemukan. Tak ada bangunan bisa dikaitkan dengan data dari negara-negara yang sudah berada di masa akhir pandemi (Cina, Italia, Vietnam, dll). Gak ada. Betul-betul boncos.

Pernah satu kali saya mengira sedang melihat sebuah pola dari data 10 hari terakhir. Di grup saya tulis: “kalau polanya menetap seperti ini hingga satu pekan ke depan, saya sudah sanggup menghitung taksiran korban dan jumlah kasus di akhir pandemi.”

Apa yang terjadi? Meleset. Dua hari kemudian terjadi spike beruntun selama 2 hari dan deep-fall di hari berikut. Pola tersebut rusak.

Satu-satunya yang bisa saya simpulkan adalah bahwa fatality rate sedang bergerak turun menuju 1%. Itu pun masih muncul spike di hari-hari tertentu. Karenanya, saya masih belum dapat menghitung kapan 1% terengkuh. Akan ke sana? Ya. Kapan? Belum tahu.

Seorang saintis harus berani berkata jujur dan terbuka. Kalau belum ada yang bisa disimpulkan, katakan dengan tegas. 

“Belum ada kesimpulan” adalah kesimpulan ilmiah.

Sejak dua bulan lalu perkiraan yang saya maksud bersemburan, dari kampus anu, dari kampus ini. Dari Jakarta, dari Bandung, dari Yogyakarta, dari Surabaya, dari Singapura, dari London, dari Australia. Macam-macam.

Isinya blangsak. Sebagian meramal, ya dengan sadar saya gunakan istilah ini, jumlah kasus positif sedang bergerak ke 300,000. Ada yang bilang bergerak ke 1.000.000. Sri Mulyani sendiri—pasti dia dapatkan dari staf ahli—meramal 100,000 kasus. Demikian Mendagri Tito. Angka mereka berdua sama. Kapan itu tercapai? Di akhir Mei, kata mereka.

Saya pusing dan merasa mendadak tolol. Matematika yang saya pelajari sampai berusia 40 tahun ternyata gak ada gunanya. Saya ternyata blo'on di depan mereka karena tidak bisa menemukan model untuk memroyeksikan data. Jangankan membangun model sendiri, memilih regression model yang sudah ada pun saya gak becus. Mereka sanggup menelurkan angka-angka, saya kayak kerbau ternganga.

Beberapa dari mereka saya hubungi, saya tanya model apa yang mereka gunakan. Sebagian menjawab. Ada yang menggunakan model distribusi pasokan, ada yang menggunakan model deployment tentara, macam-macam.

Tentu sodoran mereka saya pelajari, saya kalkulasi, saya kaji. Itu bukan model baru, sudah sering digunakan bagi berbagai keperluan. Tapi bukan untuk pandemic modelling. Gak pernah. Belum pernah.

Sebagai sesama ilmuwan saya berharap kajian mereka tepat sehingga karenanya pemerintah republik Indonesia punya perkiraan terukur untuk menanggapi pandemi. Soal saya tak bisa mengkaji apa-apa, nasib sayalah itu.

Waktu berlalu, satu per satu model tersebut berguguran. Kajian mereka rontok. Saya geleng-geleng kepala. Mereka ini ilmuwan atau penjual tahu Sumedang?

Belum lagi ustadz-ustadz gagah-peong. Mereka kutip kajian-kajian itu seolah para pengaji dikirim Tuhan bak Nabi untuk menguak Covid-19. Karena berasal dari kampus ternama, pastilah kajian tersebut punya dasar.

No, brotha. Terlampau banyak ilmuwan odong-odong. Mereka hidup buat titit, buat tetek, dan buat bokong. Mereka menyihir dunia dengan argumen ketakutan, kajian kepanikan, agar semua orang mendengar solusi mereka dan karena itu mereka kelak dibayar agar bisa ngegigit-gemes tetek dan menjilat pussy, atau mengisap dan mengemut titit.

Terlalu banyak orang jual diri di negeri ini. Ya politikawan, ya ilmuwan, ya akademiman, dan bahkan teologiman. Terlampau, dan sekarung luber, orang-orang berusaha memanfaatkan pandemi demi popularitas.

Rakyat dicekam kepanikan, ketakutan, kecemasan, kegelisahan. Lahan produktif bagi pengembangbiakan virus Corona tersaji dengan megah dan gemebyar. Angka-angka memang naik. Tapi tetap jauh dari perkiraan para lonte.

Sampai sekarang saya bergeming: belum ada model matematika bisa digunakan untuk memroyeksikan data perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. 

Barangsiapa di hari ini berani tunjuk tangan, mendaku sanggup memperkirakan angka final jumlah kasus positif, orang-orang itu pendusta. Mereka bajingan. Ke leher mereka harus dikalungkan batu besar, lalu dicemplungkan ke Samudera Hindia.

Para lonte mengeluh di berbagai media: pemerintah tak mau mendengar kami. Kajian kami dianggap angin lalu. Pemerintah bekerja bak orang buta, tak punya pegangan. Kami sajikan tapi tak dihirau.

Woi, siapa mau mendengar badut yang pantatnya tepos? Gak beres kau kutengok.

Ada yang lebih lucu lagi. 

Sejak akhir Februari saya nerima 7 undangan untuk bergabung ke grup WA mereka. Orang-orang ini punya tujuan untuk menyodorkan solusi ke pemerintah serta melakukan beberapa agenda aksi guna menolong masyarakat papa.

Saya sanggupi dengan syarat: saya tak bersedia memimpin gerakan itu. Saya hanya bergabung sebatas pengaji, problem solver, dan solution shooter. Saya sedang kapok memimpin gerakan. Masih sakit. Belum sembuh. Entah kapan.

Saya ulang, undangan tersebut datang dari 7 kelompok berbeda. Saya penuhi semuanya.

Sebelum mulai, saya tanya angka proyeksi mereka. Itu perlu agar kita tahu size persoalan dan seberapa besar gerakan perlu dibangun untuk menanggapinya. Apa jawab mereka satu per satu?

Ratusan ribu kasus positif. Ada, bahkan, yang berani menyebut bahwa pada saat itu jumlah kasus positif sebenarnya sudah berada di ratusan ribu. Pemerintah kita tertutup, kata mereka. Itu bencana, susul mereka lagi.

Semua. Tujuh kelompok punya perhitungan serupa.

Apa reaksi saya?

Begitu saya dengar angka-angka itu, tak sekalipun saya nulis di grup tersebut lagi. Tak satu kali pun. Saya berdiamdiri, membaca saja lintas percakapan berlangsung, tak mengeluarkan tanggapan apa-apa, tak menyodor usulan.

Apa yang berikutnya terjadi?

Grup tersebut kempes satu demi satu. Riak percakapan turun, melandai, dan akhirnya tiba di flat-line: 0.

Mereka lihat sendiri bahwa realitas berkhianat dari perhitungan mereka. Tidak ada kepanikan di kalangan penyelenggara kesehatan. Tak terlihat satu pun rumah sakit mengalami lonjakan pasien. Tangis haru-biru di Bergamo tak terjadi di Jakarta, atau di Surabaya, atau di Bandung, atau di Medan.

Sebagian dari mereka dengan nada frustrasi menuding kelambanan pemerintah menyelenggarakan swab test sebagai penyebab belum terpetakannya jumlah kasus positif.

Woi, jembut Yudas, sini kuajari kau:

Jumlah test tidak ada hubungannya dengan jumlah kasus positif. Kalau pun dipaksakan ada, pengaruhnya kecil sekali, bisa dikesampingkan.

Rapid Test atau apa pun bertujuan untuk menegakkan prosedur pengurungan. Kalau kita tahu siapa berpotensi terpapar, maka BIN bisa menelusuri siapa saja yang sehari-hari berhubungan dengan orang itu. Dari sana bisa kita tentukan berapa orang ODP dan PDP. Dengan cara itu, siapa pun yang berpotensi jadi spreader, bisa dikurung.

Tapi hasil test tidak menaikkan jumlah kasus positif. Dalam jangka panjang, hasil test malah meminimalkan jumlah pasien terpapar. Yang berpotensi jadi penyebar, dikurung. Yang berpotensi terpapar karena pernah berhubungan langsung dengan potensial penyebar, diawasi agar tidak positif dan selanjutnya tidak jadi penyebar.

Kemasivan jumlah test tidak berkorelasi dengan jumlah kasus positif. Emangnya kalau gak ditest, orang yang sudah terpapar gak jadi terpapar? Bego lu! (Martin L. Sinaga, dia sayang dan peduli banget sama saya, pasti langsung ngasih tausiyah: be generous to others).

But, Hell No. Ketololan ini harus dihentikan. Kekacauan dan kesengajaan harus dibasmi. Saya ulang: dibasmi. 

Mereka yang sudah terpapar tapi belum ditest, suatu saat pasti sakit. Setidaknya, koit. Sila periksa, adakah lonjakan angka kematian dilaporkan taman pemakaman? Tidak.

Adakah lonjakan jumlah pasien datang ke klinik dengan tri-keluhan: demam, batuk, pilek? dr. Mamoto Gultom membantahnya. Dia tak menemukan lonjakan di klinik yang ditanganinya mau pun di klinik-klinik lain yang ditangani koleganya. Semua berlangsung biasa-biasa saja.

Lalu darimana kepanikan ini bermula?

Dari para lonte. Dari para pelacur. Dari para sundal.

Sejak semula saya tegaskan kepada diri saya, pandemi ini harus sudah punya bentuk dalam 3 bulan. Itu sebabnya tulisan serial ini saya beri tajuk #Kisah60Hari. Sekarang sudah hari ke-53. Tujuh hari lagi selesai.

Apa yang sudah bisa saya simpulkan? Belum ada kecuali satu: fatality rate sedang bergerak ke angka 1%. Karena itu, pekan lalu saya berusul ke Presiden Joko Widodo: jika kecenderungan tersebut menegas di dua pekan mendatang, hentikan PSBB. 

Hapus seluruh aturan tentang itu. Tapi peringatkan masyarakat tentang bahaya yang masih terjumpa. Ingatkan mereka mengenakan masker (jangan diwajibkan), nasehati mereka agar jaga jarak (jangan dilarang dan diawasi), juga beritahu mereka tanpa lelah untuk menegakkan pola hidup sehat. 

Selanjutnya, biarkan Indonesia hidup kembali.

Ini bukan Indonesia terserah. Kesehatan adalah hak dan kewajiban masyarakat. Anda tidak berhak secara menerus untuk meminta orang tidak keluar rumah. Anda sanggup. Tabungan Anda segunung. Mereka tidak. 

Ini bukan sekadar untuk makan apa hari ini tapi juga tentang apa yang dinikmati saat perayaan harijadi mendatang, atau Lebaran tahun depan dan Natal tahun ini. Kalian punya setumpuk agenda yang bisa dieksekusi saat pandemi berahir. Mereka tak punya apa-apa selain hajatan kecil.

Hidup adalah menjalani setumpuk kebergunaan. Kalau terus-menerus jadi orang pasif, kita sedang bergerak menuju kematian. Karena itu, sekali lagi Pak Jokowi, bubarkan PSBB. Orang-orang sanggup menangani hidupnya sendiri.

Kalau kalian takut tertular, jaga jarak. Tapi jangan paksa pengelola bank mempersiapkan peralatan dan mekanisme jaga-jarak buat kenyamanan kalian. Orang-orang miskin di sebelah sana tak peduli. Mereka punya hak untuk tak peduli.

Kalau bagimu hidup adalah kepanjangan masa 100 tahun, buat mereka cukup 50 tahun asalkan bisa ngerokok, berWA dan berFB, nonton drakor, ke bioskop sekali sebulan, pacaran di gang senggol, mudik dengan bawa bekal foya-foya sepekan. Jangan bilang itu ketololan. Bisa saja mereka mengira kamu rakus karena berharap hidup 100 tahun.

Hidupmu pegari. Tubuhmu pegari. Kemarin ia tak mengenal Corona. Sekarang atau bulan depan, organ tubuhmu bercengkerama dengan Corona. Semua baik-baik saja sebagaimana tiap hari virus influenza bertahan dalam tubuh sejak kamu lahir hingga sekarang.

Jagad raya memuncratkan benda-benda langit. Sebagian tertahan lapisan bumi, sebagian molos, nyemplung ke laut, atau membentur permukaan bumi. Dari sana muncul virus dan bakteri. Mereka bermutasi. Mereka bukan anasir iblis. Mereka datang dari Allahmu.

Kamu pegari. Itulah tanda illahi dalam dirimu. Sekian juta tahun dari sekarang, oleh virus, bakteri, dan anasir lain yang masuk ke tubuhmu, kamu berkemampuan melesat ke planet lain tanpa butuh wahana.

Virus datang bukan untuk membunuhnu. Allahmu melihat segala sesuatu sungguh amat baik.

Hidupmu jauh lebih perkasa daripada ribuan virus dan bakteria. Sila baca tulisan serial saya #MariPulihkanDunia, tayang Oktober tahun lalu.

Sejahteralah kamu. Damailah jiwamu. Sebab hanya dalam damai-sejahtera kamu sanggup bercengkerama dengan Corona.

 

(Sumber: Facabook Sahat Siagian)

Thursday, May 21, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: