Indonesia pada Suatu Era

Oleh: Sunardian WIrodhono

 

Dari hari pencoblosan hingga pengumuman hasil Pemilu, sungguh luaama buangeti. Makin terasa lama, ketika disuguhi tontonan tak bermutu babar-blas. 

Pada satu sisi kita melihat sekelompok orang merasa kebohongannya tak bakal ketahuan. Sisi lainnya kita melihat sekelompok orang menikmati kebohongan itu bagian dari hiburan, yang lebih lucu dari lawakan para pelawak. Yang kita dapatkan kemudian serangkaian masturbasi. Persis ketika kita toleran pada intoleransi.

 

Upaya-upaya yang dilakukan kubu Prabowo, terasa makin berlebihan. Mengklaim dan mendeklarasikan kemenangan (beberapa kali dan tempat). Namun senyampang itu, berencana menemui kantor-kantor media nasional dan lembaga-lembaga asing, untuk melaporkan berbagai kecurangan Pilpres. Bukan ke Bawaslu. 

Berencana membuat Tim Pencari Fakta Kecurangan Pilpres, tapi di sisi lain, menggerakkan massa dengan berbagai nama dan bendera. Tiap hari demo di depan KPU, yang sedang fokus menyelesaikan penghitungan suara secara manual. Vibrasinya, beberapa elite yang mengaku pejuang Demokrasi dan HAM, mengkili-kili dari sisi lain. Haris Azhar nimbrung pembentukan TGPF kecurangan Pemilu. ‘Ormas’ Advokat mengais-ais UUD 1945 pasal 6. Makin banyak orang cari-cari orderan. 

Praksis politik mengabaikan aspek hukum dan etika, karena beda kepentingan. Upaya partisipasi warga, seperti lembaga survei dan Kawal Pemilu, coba dihalangi, direduksi, dan dinihilkan. Tapi upaya penghitungan manual sesuai aturan dan prosesnya, tak dipercaya. Padahal proses itu menyertakan semua pihak yang berlaga, termasuk media dan siapapun untuk bisa turut mengontrolnya. Terus maunya apa? Siapa di balik semua ini? Nafsu kuasa Prabowo, atau para yang mengaku ulama dari Kelompok PA-212, di mana bau Rizieq Shihab dan HTI tercium di sana, dengan dalih ini capres hasil ijtima ulama? Ulama yang mana?

Akibatnya sungguh tragis. Agama menjadi bahan ledekan. Bukannya menjadi bagian penyelesai masalah, tetapi bagian dari (pembuat) masalah. Demikian pula dari sisi elite lainnya di bidang politik dan ilmu-pengetahuan. Yang ngerti agama menyalahgunakannya. Yang menguasai ilmu menyelewengkan keilmuannya. Yang memahami politik, justru memakainya untuk melawan kemanusiaan. 

Politics is a pendulum whose swings between anarchy and tyranny are fueled by perpetually rejuvenated illusions, ujar Albert Einstein. Politik adalah pendulum yang ayunan antara anarki dan tirani didorong ilusi yang terus-menerus diremajakan. Walhal, Mbah Kyai Google sudah menyimpan pelakunya. Mbak Youtube sudah merekamnya. Puluhan atau ratusan tahun, hal itu akan terus berulang dibaca dan dilihat generasi selanjutnya. 

Bahwa pada suatu era di Indonesia, di mana orang-orang yang mestinya mulia dan dimuliakan, pernah melakukan hal-hal paling dungu dari yang pernah dilakukan manusia. Persis sebagaimana ditulis Reinhold Niebuhr; The whole art of politics consists in directing rationally the irrationalities of men. Seluruh seni politik terdiri dari mengarahkan secara rasional irasionalitas manusia.

Dan kita hanya bisa tersenyum kecut. Persis seperti bagaimana kita sekarang menertawakan Ken Arok, Kebo Ijo, Kertanegara, Sunan Amangkurat II, dan para penjahat kekuasaan masa lalu. Tapi tak pernah bisa belajar dari sejarah. 

Bagaimana jikalau mereka meminta kepemimpinan yang lebih tegas, apa katamu seandainya Jokowi memerintahkan Panglima TNI dan Polri, menjebloskan penghina konstitusi ke dalam bui? Buru-buru kalian akan bilang “itu tiran!” 

Padahal, dalam berprasangka pun, engkau ‘selalu sudah’ tirani itu sendiri. Melampaui tuhan bahkan. Lebih tuhan dari tuhan. Padahal belum jadi Presiden! Bagaimana jika sudah, wahai Mr. Bobby the Cat, sebagai Vice President?

 

(Sumber: facebook Sunardian W)

Monday, April 29, 2019 - 07:15
Kategori Rubrik: