Indonesia Hebat Bukan Tentang Saya dan Anda Tapi Kita

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Bagi anda yang masih marah dan tak sepakat dengan diundangkannya UU Ciptaker karena alasan UU ini berpihak pada pengusaha dan pemerintah tak peka terhadap rakyat banyak, itu adalah wilaiyah bebas anda. Tak akan pernah saya cela pilihan anda apalagi meminta anda membacanya terlebih dahulu baru kemudian berpendapat.

Meminta setiap orang terlebih dahulu harus membaca UU setebal 812 halaman itu dan kemudian baru boleh komentar, sepertinya, terlalu berlebihan. Bukan cara benar kita memulai perdebatan.

Yang saya tahu, sebelum UU Ciptaker ini berlaku, 1% penduduk Indonesia adalah penguasa atas 50% aset negara ini.

Yang saya tahu, penguasaan areal hutan hanya untuk 30 orang super kaya adalah seluas 40.463.103 hektar dan namun masyarakat banyak, hanya mendapatkan porsi 1.748.931 hektar.

Yang saya tahu, hanya 10 perusahaan saja, mampu menguasai perkebunan sawit seluas 2.535.495 hektar dan sementara, areal dengan luasan yang sama, harus dibagi untuk 1 juta kelompok perkebunan rakyat.

Yang saya tahu, si super kaya itu memiliki izin usaha pertambangan (IUP) rata-rata 3.245 hektar setiap IUP, sementara kebanyakan rakyat hanya diijinkan mengelola rata-rata hanya 3.2 ha setiap izin.

Yang saya tahu Indonesia sudah menjadi negara tertimpang keempat di dunia, di bawah Rusia, India, dan Thailand.

Semua itu sudah dan sedang berlangsung di negeri kita. Si kaya sudah dan akan terus semakin kaya jauh sebelum UU Cipta kerja di undangkan.

Dan lantas mereka yang tak sepakat UU ini menuduh pemerintahan Jokowi membuat UU ini khusus hanya untuk semakin memiskinkan mereka yang sudah miskin?

Yang saya tahu 6 tahun Jokowi memerintah, sepertinya jauh dari kata membelakangi rakyat. Semua pembangunan yang dia lakukan justru tentang keberpihakannya pada rakyat banyak.

Paling tidak, bukti bahwa tingkat kemiskinan Indonesia terus menurun dari 11,2 persen pada Maret 2015, menjadi 9,41 persen pada Maret 2019 tercatat dengan sangat jelas. Untuk pertama kalinya tingkat kemiskinan di Indonesia menjadi tinggal hanya 1 digit sepanjang sejarah negara ini berdiri.

Haruskah kita percaya atas dasar perasaan, sementara data sudah berbicara?

Yang saya tahu, dengan sangat detil kita dapat bercerita tentang semut di seberang lautan dan namun gajah di pelupuk mata tak tampak.

Kadang saya berpikir bahwa 1% penduduk kita yang menguasai 50% aset itulah yang kini sedang ketakutan. Hegemoni kekuasaan dan hukum yang selama ini mereka nikmati sedang direbut negara dan dibagi rata.

Waktu mereka untuk memanfaatkan celah kolusi yang selama ini selalu berjalan mulus dan sudah berlangsung lebih dari 50 tahun sudah mendekati habis.

Bukankah akhir-akhir ini kita semakin dibuat curiga bahwa mereka yang selalu teriak bahaya laten komunis, adalah mereka yang tahu bagaimana PKI sesungguhnya? Lantas kenapa kita tak curiga mereka yang berteriak kapitalis adalah yang itu-itu lagi?

Bukankah penguasaan mereka atas kekayaan dan aset negara sudah sangat menakutkan? Bukankah itu tentang siapa kapitalis? Trus kapitalis berteriak takut kepada kapitalis?

Mereka dengan kekayaannya mencoba mempengaruhi banyak pihak dengan berbagai isu. Apa yang tak bisa dilakukan oleh uang?

Yang saya tahu, saya deg-degan kalau akhir bulan uang tak kunjung masuk rekening sementara pemilik tagihan tak pernah sedetikpun terlambat datang.

Grounded atau di setrap oleh guru atau orang tua kita ketika kita dianggap layak menerimamya, pasti karena alasan logis. Tak mungkin kita dihukum orang tua kita selama 1 minggu tanpa pegang hp misalnya karena tak ada tujuan demi kebaikan kita. Demi kebaikan dan kemajuan kita, seringkali adalah makna grounded diberikan.

Tak terlalu berlebihan bahwa UU Ciptaker mungkin adalah cara Presiden memacu langkah kita menjadi semakin cepat karena tuntutan dunia. Presiden "gagal" dengan ajakan "Revolusi Mental" sejak 6 tahun yang lalu dan kini menggenjot UU Ciptaker adalah jeweran beliau agar kita semakin produktif.

"Emang apa sih arti revolusi mental?"

Kalau anda diminta Boss merakit mobil harus selesai dalam waktu 1 minggu dan anda tepat waktu, itu biasa saja. Itu karena anda digaji memang dengan kontrak seperti itu.

Menjadi hebat adalah ketika anda selesai tepat waktu plus tagihan operasional lebih sedikt dibanding orang lain. Anda selalu mencari cara kreatif mengurangi cost dalam hal pemakaian listrik pemakain alat bantu misalnya.

Sepintas tak ada sedikitpun keuntungan bagi anda, toh yang membayar semua tagihan itu perusahaan bukan? Namun bekerja dengan konsep kreatif dan efisien, meski secara tak langsung seolah hanya membuat untung perusahaan adalah salah satu cara membuat anda maju. Itulah makna sekilas tentang revolusi mental. Sesederhana itu.

Selalu ingin mencapai predikat excellent, akan membuat kita memotivasi diri terus dan terus dan pada akhirnya kita pula yang beruntung.

Hal-hal seperti itulah apa yang pernah ingin Presiden minta dari kita saat awal dia memerintah dan namun kita tak mampu membacanya.

Hal-hal seperti itulah yang kini juga telah menjadi budaya banyak negara maju. Ada usaha dan semangat lebih meski tak dituntut.

Di sanalah makna Indonesia hebat pernah menjadi angan-angan.

Haruskah kita hanya berangan? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. UU Cipta kerja adalah awal sempurna kita memaknai kalimat : "SUDAH SAATNYA!".
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Fanspage Karto Boogle

Thursday, October 22, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: