Indonesia Bagi Gue

ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Jika lo mau pake cadar, burka, celana cingkrang atau gamis silahkan, gw gk perduli. Gw masih bisa terima, sama seperti gw menerima orang yg pakai jeans, T shirt, jas, rok mini, hot pants dll. Tapi jangan coba hilangkan kebaya, songket, baju bodo, jarik atau blangkon.

Silahkan juga kalau lu mau nari Oddisi, Taiko, Raqs baladi atau tari Zapin. Gw juga masih bisa terima seperti gw lihat orang nari Ballet, Ballroom Dance, Break Dance tapi jangan singkirkan tari Piring, Kecak, Tari Merak, Gambyong atau Kuda Lumping.

Setelah era kemerdekaan, diakui atau tidak, budaya barat masih mendominasi sebagian masyarakat terutama kalangan menengah keatas. Saat itu akan dianggap modern jika seseorang berpakaian ala Elvis Presley, potongan rambut ala Beatles dan hadir diacara dansa dansi.

Era orba gak jauh berbeda. Masuk diskotik, berpakaian ala aktor dan artis barat adalah modern. Berpakaian kebaya, surjan atau beskap dianggap kuno. Para remaja memilih jago main drum, piano, gitar daripada jago main angklung, selendro atau perkusi2 khas Nusantara yg banyak ragamnya.

Penjajahan budaya bukan baru saat ini terjadi, sudah dari pasca kemerdekaan. Para pejabat saat itu masih banyak yg berbicara bahasa Belanda. Selanjutnya pada era orde baru, akan dianggap modern jika bicara diselipi kosa kata atau kalimat berbahasa Inggris. Dan sekarang sekelompok orang merasa lebih agamis dan beriman jika berbahasa Arab. Sulit mencari hubungan berbahasa dgn keimanan seseorang, penjahat di Arab pun sudah pasti pakai bahasa Arab.

Indonesia bukan negara tertutup seperti Korea Utara. Selain negara terbuka, disini ada banyak suku dan budaya, sangat plural. Budaya nasional pun ada yg asalnya dari luar, semua budaya bisa masuk. Tidak ada yg bisa menghalangi, tidak boleh ada yg mendominasi dan tidak boleh ada yg memaksa satu budaya dengan membunuh budaya lainnya.

Jadi silahkan mengadopsi budaya luar jika bisa diterima oleh budaya lokal. Silahkan bergaya barat, bergaya oriental, bergaya Timur Tengah tapi ingat, jangan membunuh kebhinnekaan yg sudah menjadi dasar persatuan negeri ini.

Budaya asing boleh masuk tapi ideologi asing harus ditolak. Ideologi yg membunuh kebhinnekaan, ideologi yg hanya mewadahi satu kelompok. Ideologi Pancasila sudah sangat pas untuk negara yg pluralis ini, yg bisa menjadi sandaran bagi semua kelompok yg ada tanpa merasa mayoritas atau minoritas.

Jadi lu mau cadaran, cingkrangan monggo tapi jgn nyinyirin juga pakaian orang, apalagi sampai mau menyingkirkan nafas Nusantara. Tapi klw lo mau ganti Pancasila dgn ideologi import, berhadapan dengan gua.

~TYVa~

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Tuesday, November 5, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: