Indonesia akan Baik-Baik Saja

Oleh: Erizeli Bandaro
 
Kemarin saya teleconference dengan teman dari NY. Dia kagum dengan Indonesia bisa mengatasi COVID-19 dan sekaligus menjaga ekonomi tidak masuk jurang resesi, walau berada di tubir jurang. 
 
“ Mengapa kamu bisa simpulkan seperti itu.” Tanya saya.
 
 
“ Secara makro ekonomi Indonesia masih punya ruang untuk melakukan relaksasi. Rasio utang masih berkisar 30% dari PDB. Defisit  APBN masih berkisar 6%. Kalau rakyat Indonesia melalui DPR melakukan relaksasi rasio utang sampai 50% dari PDB, itu sudah bisa menahan penurunan output sampai tahun 2024. Apalagi kalau defisit APBN diperlebar sebesar 9% , makin longgar aja Indonesia bersilancar diatas badai resesi yang menghantam.  Bandingkan kami dan negara Eropa. Ruang untuk melakukan relaksasi sudah sulit. Karena rasio utang sudah diatas 100%. Defisit anggaran udah dua digit. Bahkan mau turunkan suku bunga udah engga mungkin. Karena bunga sudah mendekati 0%. “ 
 
“ Ya saya paham. Tahun depan kami akan genjot dana stimulus.  Dengan target pertumbuhan diatas 5%. Prioritas untuk penambahan belanja ketahanan pangan, pembangunan kawasan-kawasan industri yang didukung oleh infrastruktur, ICT agar konektivitas dari sisi teknologi digital bisa ditingkatkan dan dimeratakan seluruh Indonesia, pendidikan dan kesehatan terutama untuk penanganan Covid-19 pasca 2020 dan untuk dukungan terhadap biaya vaksin “ 
 
“ Ya itu sangat mungkin. Kalau saya lihat walau kwartal kedua terjadi kontraksi sebesar 5,2 % namun pada kwartal III akan  growth lagi karena adanya kesepakatan Bank Central dan Pemerintah untuk burden sharing program stimulus fiskal dan moneter. Mulai Agustus anggaran itu sudah cair secara meluas dan sistematis. Saya yakin di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia akhir tahun akan berada di zona positif meninggal negara lain. Indonesia akan tercatat tiga negara di dunia yang positif ekonominya."

" I hope so" 

"  Tetapi yang hebat adalah sikap rakyat Indonesia yang sabar menanti momentum  belanja stimulus. Mengapa ? Katanya.

 
“ Indonesia tidak pernah krisis. Yang krisis itu adalah pemerintah”
 
“ Mengapa kamu bilang begitu ? katanya bingung.
“ Kami percaya kepada pemeirntah, tetapi tidak tergantung kepada pemerintah. Tuhan tetaplah yang utama. Coba perhatikan, ketika tahun 1998 saat krisis ekonomi ASIA , kami Negara yang terpukul paling keras. Ketika itu, rasio utang terhadap PDB bahkan sudah mendekati 100 persen, tak beda dengan situasi Eropa dan Amerika Serikat saat ini. Di tambah lagi ketika itu , kami juga sedang menghadapi krisis politik dengan jatuhnya Soeharto. Di tengah situasi itu, kamipun terkena benca alam Tsunami dengan korban diatas 300,000 jiwa. Bayangkanlah bila ini terjadi di Eropa atau AS, krisis ekonomi datang, krisis politik juga mendera, bencana alam terburuk menimpa. Saya yakin Negara kalian akan hancur. “ Kata saya dengan santai. 
 
“ Oh i see. “ Mungkin dia baru menyadari bahwa pernah ada prahara lebih berat dibandingkan mereka kini.
 
“  Lantas bagaimana negara anda bisa keluar dari situasi terburuk itu ? Katanya dengan antusias ingin mengetahui lebih jauh.
 
“ Yang krisis itu pemerintah bukan rakyat. Kami rakyat tidak peduli soal krisis itu. Akibatnya para elite politik bisa berdamai satu sama lain untuk mengambil kebijakan yang cepat melalui penyelamatan perbankan dan dunia usaha sekaligus. Pemerintah atas dasar keputusan politisi menanggung semua hutang perbankan dan swasta itu dan selanjutnya akan menjadi beban rakyat selama lamanya lewat APBN.”
 
“Apakah itu semuanya ditanggung ? bagaimana dengan mereka yang menjarah perbankan ? Tanyanya
 
“ Ada yang diadili dan tak banyak yang dipenjara. Apa peduli kami.”
“ Mengapa rakyat Indonesia tidak marah ? Tanyanya bingung.
 
“  Apa peduli kami? Jawab saya singkat. “ Namun lihatlah hasilnya setelah itu, dunia usaha bangkit, perbankan tumbuh dengan percaya diri, kelompok menengah tumbuh cepat. APBN meningkat ratusan persen dibandingkan sebelum krisis, rasio hutang tinggal 30%.”
“ Apakah dengan situasi sekarang ini rakyat Indonesia mendapatkan kemakmuran? Tanyanya. 
 
“ Apa peduli kami soal kemakmuran. “ Jawab saya santai.
 
“ Ya. Dengan data yang saya berikan itu sudah cukup bukti bahwa rakyat Indonesia makmur. Katanya. 
 
“ Siapa yang peduli dengan angka statistic itu.”
 
“ Jadi apa yang rakyat Indonesia pedulikan? 
 
“ Kami juga tidak tahu apa yang kami pedulikan. Kami hanya berpikir hari ini dan bersyukur bahwa kami masih bisa bernafas menghirup udara pemberian Tuhan dan manikmati sinar matahari , yang keduanya gratis dari Tuhan. Soal makan, sedikit disyukuri banyak berbagi. Itu saja. “
 
“ Bagaimana soal masa depan ? Tanyanyaa cepat. 
 
“ Itulah masalah anda sebenarnya. Anda selalu memikirkan yang belum terjadi sementara hari ini anda hidup berkeluh kesah dan lupa mensyukuri. Padahal masih banyak rakyat di planet bumi ini yang mati kelapran, sakit tak terobati, rumah hancur terkena bencana. Jadi stop berkeluh kesah. Yang pasti di masa depan semua orang pasti mati.”Kata saya.
 
“Bagiamana agar hidup tidak berkeluh kesah seperti rakyat Indonesia yang dengan santai berkata Who care? . Tanyanya. 
 
“ Kini saatnya anda belajar dengan rakyat Indonesia yang religius sebagai pondasi negara Indonesia”
 
“ Tapi saya dengar ada sekelompok tokoh agama yang protes dan ingin menyelamatkan Indonesia “

 

“ Mereka kaum yang takut bokek, rakus dan sales agama. We don't care about them. Just ignore” 
 
" You bet you bro."
 
" See you then" 

(Sumber: www.erizeli.aboutbusiness.info)

Friday, August 7, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: