Independent Observer, “Obor Rakyat” Versi Bahasa Inggris?

Ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Media social tiba-tiba diramaikan dengan munculnya Koran berbahasa Inggris, Independent Observer. Warga net membagikan headline utama media itu dengan foto 2 pasangan Capres yang bakal bertarung di Pilpres 2019 mendatang. Yang menjadikannya viral adalah topic utama berjudul “New Hope and Unfulfill  Promised” atau “Harapan baru versus Pengingkar Janji”. Tentu kita tahu yang dimaksud media itu.

New hope diasosiasikan pada pasangan Prabowo Sandi sementara Unfulfill Promised disematkan pada petahana. Koran ini ingin menempatkan bahwa Jokowi-Ma;ruf Amin adalah calon presiden yang tidak merealisasikan janji pada masa jabatannya. Sebuah penempatan analisis yang sangat dangkal dan mentah. Di edisi lain, mengajukan headline “Police and Politics” dengan karikatur bergambar Mendagri Cahyo Kumolo yang “mengatur” polisi dan politikus untuk membela Presiden. Atau edisi lainnya berjudul “Jokowi Broken Politicall Promises” atau Jokowi mengingkari janji-janji politiknya.

Dari 3 headline itu terlihat sangat diragukan positioning Independent Observer. Penulis yang coba mengeksplore tentang media itu kesulitan. Di saat media cetak juga membuat versi online, Independent Observer ini malah tidak ada websitenya. Ketika di googling malah muncul The Independent Observer, media berbasis Amerika Serikat yang tak ada hubungannya dengan Independent Observer. Muzani, Sekjen Partai Gerindra mengakui bahwa media itu diterbitkan oleh orang-orang dekat Prabowo. Otomatis dia membantah Independent Observer berafiliasi ke Gerindra. Penulis yang mencoba mencari di Toko Buku sekelas Gunung Mulia atau Gramedia, tidak menemukan.

Pun ketika penulis mencari tahu dari beberapa rekan jurnalis, siapa redaktur Independent Observer, jangankan tahu nama redaksinya, nama media itu saja baru tahu. Lantas mengapa mereka menggunakan edisi bahasa Inggris? Ada 3 alasan, pertama mereka mencoba merangkul kelas menengah pemilih Jokowi. Kedua, Tidak sembarang orang tahu dan faham apa yang mereka tulis sehingga dimasa mendatang tidak ada masalah. Ketiga, lebih mudah memainkan isu dan menghindari menyerang terbuka terutama pada Cawapres yang juga Ketua Umum MUI.

Media ini memperoleh ijin cetak 14 November 2017 dan edisi perdana meluncur Desember 2017. Terbit setiap minggu dan mengklaim tersebar diberbagai kota besar di Inonesia. Walaupun wartawan terikat dengan etika jurnalistik,  nampaknya Independent Observer mengabaikan itu. Selain tulisan tidak rapih, mereka tidak menggunakan data-data pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, PWI maupun AJI harus bersikap atas munculnya media ini. Mengapa? Pers sebagai pilar ke 4 Demokrasi harus tetap terjaga independensinya. Jangan teracuni atau terhegemoni oleh kepentingan pihak luar utamanya penguasa. Mengapa? Karena jika diabaikan akan merusak Pilpres 2019 mendatang. Kita tentu belum lupa bagaimana bulletin Obor Rakyat yang mampu mengobrak abrik serta menggerogoti Jokowi. Obor Rakyat memfitnah presiden sebagai komunis dan bukan warga asli Indonesia. Pun ibundanya bukan Ibu Noto, ibunda beliau saat ini. Isu-isu ini tidak mati dan tetap terpelihara di masyarakat. Bahkan dalam tayangan ILC akhir Agustus, Ratna Sarumpaet masih berharap Jokowi bersedia melakukan tes DNA guna memperoleh kepastian beliau anak siapa.

Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Nanik Deyang, Tengku Zulkarnain dan lainnya merupakan sebagian kecil yang masih percaya informasi yang disampaikan oleh Obor Rakyat. Padahal Ketua PPP, Romahurrmuzy mengatakan bahwa dirinya sempat ditawari jadi penanggungjawab media tersebut. Gus Romy akhirnya menolak tawaran karena informasi yang disampaikan Obor Rakyat masuk dalam kategori fitnah dan mengadu domba. Akankah Pilpres 2019 Independent Observer menjelma menjadi Obor Rakyat versi Bahasa Inggris. Penting bagi kita mewanti-wanti masyarakat untuk tidak percaya begitu saja informasi yang disebarkan secara fisik maupun elektronik. Nampaknya pertarungan Pilpres 2019 situasinya tidak berubah, penuh kebohongan dan serangan membabi buta pihak non petahana.

Sunday, September 2, 2018 - 03:00
Kategori Rubrik: