Indeks Keberlanjutan Pangan Indonesia Meningkat

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Lembaga riset dan analisis ekonomi internasional yakni The Economist Intelligent Unit (EIU) dan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN) Foundation merilis Indeks Keberlanjutan Pangan atau Food Sustainability Indeks (FSI).

Dalam hasil riset tersebut, Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-21 dalam Indeks Keberlanjutan Pangan.Capaian tersebut bisa diraih Indonesia bukan tanpa alasan tetapi berkat kerja keras berbagai pihak.

Prestasi itu di torehkan Indonesia dengan beberapa penilaian antara lain hasil produksi pertanian yang baik dan harga stabil. Riset FSI disusun dari 58 indikator yang mencakup empat aspek yakni secara keseluruhan (overall), pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), kehilangan atau penyusutan pangan dan limbah (food loss and waste) serta aspek gizi (nutritional challenges).

Secara keseluruhan, Indonesia berada di peringkat 21 dengan skor 50,77 dan berada di atas Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, dan India. Khusus untuk pertanian berkelanjutan, Indonesia bercokol di peringkat 16 dengan skor 53,87. Ranking tersebut didasarkan pada perhitungan ketersediaan sumber daya air yang melimpah, rendahnya dampak lingkungan sektor pertanian pada lahan, keanekaragaman hayati lingkungan, produktivitas lahan, serta mitigasi perubahan iklim. Dalam sektor tersebut, Indonesia berada di atas China, Amerika Serikat, dan India.

Sementara itu, dari aspek food loss and waste, Indonesia berada di peringkat 24 dengan skor 32,53. Pada aspek tersebut Indonesia termasuk dalam kategori dalam upaya mengatasi masalah kehilangan makanan (food loss). Selanjutnya aspek nutritional challenges, Indonesia bertengger di posisi 18 dengan skor 56,79. Indonesia dipandang mampu mengatasi masalah defisiensi micronutrient, prevalensi kelebihan gizi, kurang gizi, kelebihan gula, serta mampu membeli makanan segar.

Hasil FSI tersebut sangat positif karena Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk ke dalam 25 besar. Dampak prestasi ini bisa dilihat kasat mata pada saat Ramadhan dan Idul Fitri kemarin. Harga pangan stabil, dulu-dulu setiap hari raya Lebaran harga pangan bergolak.

Selain itu, dampaknya nyata dari indikator prestasi ini dapat juga dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan bahwa sektor pertanian pada kuartal pertama 2017 tumbuh 15,59 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data BPS, PDB sektor pertanian kuartal pertama 2017 juga meningkat 7,12 persen dibandingkan kuartal yang sama 2016, melebihi kenaikan PDB industri pengolahan 4,21 persen maupun PDB total Indonesia 5,01 persen. Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 13,59 persen, peringkat terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan 20,48 persen.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan
 
Sunday, March 25, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: