Indahnya Keragaman: Catatan Perjalanan dari Saudi Sampai Amerika

Oleh: Satria Dharma
 

“People take different roads seeking fulfillment and happiness. Just because they are not on your road does not mean they are lost.”(Dalai Lama)

Buku ke tujuh yang saya baca pada tahun 2017 ini adalah catatan perjalanan Sumanto AlQurtuby dari Saudi Arabia sampai ke Amerika yang berjudul “Indahnya Keragaman”. Buku setebal 328 halaman dan diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia pada November 2016 ini begitu menariknya sehingga sulit rasanya melepaskannya dari tangan.

 

Kebetulan seharian kemarin saya tidak punya acara samasekali dan malas keluar rumah sehingga tanpa terasa buku ini langsung habis saya nikmati. Saya sudah menikmati buku Sumanto AlQurtuby yang lain, yaitu “Berguru ke Kyai Bule” yang juga sangat menarik sehingga rasanya saya ingin memborongnya dan membagi-bagikannya pada teman-teman, khususnya yang masih berpandangan konservatif dan ortodoks dalam memahami agama.

Sekedar informasi, Sumanto AlQurtuby adalah anak modin desa di Batang Jawa Tengah yang kini menjadi staf pengajar Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research Committee in Social Sciences di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Ia sendiri adalah seorang PhD dari Boston University dan juga Senior Scholar di Middle East Institute, National University of Singapore. Hidupnya sebagai mahasiswa dan dosen membuatnya berkelana dari satu kampus ke kampus lain dan dari satu negara ke negara lain.

Buku petualangan ini mengajak kita untuk melanglang buana ke berbagai negara dan masyarakat untuk menyelami keragaman tradisi dan budaya, menikmati indahnya persahabatan antarbangsa, mengapresiasi kemajemukan agama, menghormati perbedaan keyakinan umat manusia, serta menghargai warna-warni kehidupan masyarakat dari Saudi Arabia hingga Amerika. Buku ini juga bercerita tentang sosok-sosok hebat yang ia temui dalam perjalanan hidupnya yang sangat dikaguminya.

Sebagai seorang ahli antropologi yang hidupnya menjadi dosen di berbagai kampus dunia, Sumanto mampu menguraikan berbagai pandangannya tentang keragaman budaya dengan sangat menarik. Buku ini sangat perlu dibaca oleh para dosen agar mendapatkan pencerahan dan perspektif yang lain dalam tugas mengajarnya agar mampu memberikan nuansa baru dalam pembelajarannya di kampus.

Pengalaman hidupnya yang begitu berwarna-warni memang pada akhirnya membuat Sumanto menjadi seorang pluralis yang memahami betapa kayanya keragaman dalam budaya dan agama di dunia ini. Ini membuatnya masygul melihat berbagai bentuk intoleransi dan kejumudan. Ia melihat perlunya pembaharuan dalam dinamika pemahaman agama masyarakat.

Menurut Sumanto, di mana-mana dan pada agama apa pun para pembaharu agama menghadapi problem pelik tidak hanya menyangkut masyarakat sebagai “kekuatan kultural”tetapi juga negara sebagai “kekuatan politik” plus lembaga-lembaga keagamaan sebagai pemegang “lisensi teologis”. Setiap upaya pembaharuan agama selalu dihadang oleh setidaknya tiga blok ini. Dalam Islam, misalnya, gagasan-gagasan liberal-progresif juga seperti membentur karang: ke atas dihadapkan pada kekuatan politik pragmatis-oportunis yang sering “main mata” dengan kelompok Islam tertentu demi menyelamatkan sumber-sumber ekonomi kekuasaan, ke samping dihadang oleh lembaga-lembaga keislaman penjaga moral, kesalehan, dan kemurnian Islam yang selalu mengatasnamakan Tuhan dan keotentikan Islam dalam setiap gerak geriknya, sementara ke bawah dihadapkan pada realitas masyarakat muslim yang belum dan tak kunjung “melek agama” : masyarakat Islam yang masih gemar memburu surga dan mengoleksi pahala. Lebih parah lagi, sebagian umat Islam di Indonesia menganggap apa yang dipraktikkan oleh orang Arab adalah cerminan dari wajah Islam yang otentik. Bagi mereka “budaya Arab” adalah “ajaran Islam” itu sendiri.

Sumanto berharap agar buku ini bisa menjadi kritik bagi sebagian umat Islam dan kaum muslim Indonesia khususnya yang menilai umat Kristen dan bangsa Amerika sebagai kumpulan orang-orang yang membenci ajaran dan umat Islam. Pengalamannya berkelana dan hidup bersama umat Nasrani di AS justru menunjukkan sebaliknya.
Pernah ia tinggal pada seorang Mennonite (sekte dalam agama Kristen) yang saleh dan membantunya begitu tulus tanpa mengharapkan imbalan sehingga ia bertanya,”Kenapa Anda mau berbuat baik kepada saya yang Muslim?”
“Karena Yesus telah mengajari kami untuk mencintai sesama manusia.,”jawabnya spontan. Yesus mengajarkan “Cintailah musuh-musuhmu!” Jika terhadap musuh saja kita disuruh mencintai, apalagi dengan kawan dan saudara.

Kebaikan dan keburukan jelaslah bukan monopoli pengikut agama tertentu, negara tertentu, etnis tertentu, dan seterusnya, melainkan seuatu yang sifatnya universal yang bisa terjadi di umat mana pun, di agama mana pun, dan di negara mana pun. Demikianlah pesan kuat yang ingin disampaikan oleh buku ini.

Terus terang saya beberapa kali mbrebes mili dan tidak mampu menahan keharuan ketika membaca beberapa bagian dari kisah dalam buku ini karena begitu menyentuh. Saya harus berhenti membaca beberapa saat untuk menenangkan hati saya. Saya meratap dalam hati membayangkan saudara-saudaraku sesama muslim di Indonesia yang harus saling bermusuhan hanya karena urusan pilkada. Jangankan mencintai musuh, bahkan saudaranya sendiri pun jika perlu dicap munafik, kafir, dan kalau perlu tidak disholatkan jika meninggal hanya karena perbedaan pandangan politik. Alangkah besarnya kebencian yang diungkapkan kepada sesama saudara hanya karena ketidakmampuan melihat keragaman dalam pemahaman bermasyarakat, bernegara, dan beragama.

Seandainya saja mereka membaca buku Sumanto AlQurtuby yang sangat indah ini…!

Surabaya, 25 Pebruari 2017

 

(Sumber: Status Facebook Satria Dharma)

Saturday, February 25, 2017 - 23:30
Kategori Rubrik: