Indahnya Hadiah Buku Tafsir Al Misbah

Ilustrasi

Oleh : Fawaizul Umam

"Ayah tahu Kyai Quraish Shihab?" tanya anak keduaku, suatu ketika.
Aku menggeleng. Dahiku mengernyit.
"Itu lho yang nulis kitab Tafsir al-Mishbah..."
Spontan aku terkekeh. Geli, karena ia menyebut sang mufassir Prof. Dr. M. Quraish Shihab dg sapaan ta'zhim "kyai". Sapaan yang tak lazim buat beliau.

 

"Terus kenapa?" tanyaku.
"Belakangan ini aku sering baca kitab tafsirnya itu. Di perpustakaan sekolah, setiap kali istirahat atau pas ustadz tak hadir..." Matanya berbinar, mengerjap. Ia bilang, sudah masuk jilid kedua. Syukur diam-diam menggenangi hatiku. 
"Bagus?" pancingku.
Ia mengangguk, berulang. Di sekolah maupun di pondok ia mengaji sejumlah kitab tafsir klasik. Namun, katanya, al-Mishbah tidak termasuk. "Tapi, sayang sekali, kitab-kitab besar seperti itu hanya boleh dibaca di tempat, tak bisa dipinjam."

 

Aku berusaha memahami kecewanya.
"Di rumah, Ayah punya?"
Aku menggeleng. Sejumlah buku karya Prof Quraish aku memang punya, relatif lengkap. "Membumikan al-Qur'an" adalah yang pertama kukoleksi, sejak awal 1990an. Seingatku, tinggal beberapa yang belum kupunya, termasuk Tafsir al-Mishbah itu.
"Jika semester pertama ini aku ranking 1, Ayah mau membelikanku sebagai hadiah?"
"Yang jilid keberapa?"
"Semuanya, Yah. 15 jilid..." 

Aku tersenyum. Seteguk ludah tak sengaja tertelan. Anggukanku beberapa saat kemudian menggerakkan bibirnya berucap "terima kasih". Senyumnya mengembang.
Belakangan, ia benar-benar ranking 1. Itu tahun pertamanya di MMA Tambak Beras, kelas 2, sebuah sekolah khusus keagamaan, sederajat SLTA kelas 10. Sialnya, aku lupa dengan janjiku dan ia juga tak mengingatkanku. Tapi, setiap kali sambang, ia masih saja rajin bercerita dan mengajakku diskusi tentang hasil bacanya atas al-Mishbah. Ia juga sempat mengkonfirmasi label syiah, liberal, dll yang dituduhkan kpd Prof Quraish... dan alhamdulillah ia sendiri tak percaya.

Di semester berikutnya, ranking 1 kembali ia raih. Celakanya, aku masih saja lupa dan ia tak menagih. Aku hanya menghadiahinya pelukan hangat dan usapan lembut di kepala... 
Dan aku tetap saja lupa, bahkan hingga beberapa bulan lalu saat ia bercerita dengan raut muka masygul: perpustakaan untuk sementara ditutup, sedang direhab. "Padahal aku sudah masuk jilid keempat," keluhnya. 

Memasuki tahun kedua, aku tak jua ingat sampai kemudian "kegagalan" menghampirinya pada semester gasal tempo hari. Rankingnya melorot ke urutan 3. Aku tak sedih, juga tak marah. Sok bijak, aku justru menghiburnya untuk tetap semangat. Yang membuatku terpukul ialah cara dia memberitahuku tentang kegagalan itu...
"Ayah tidak usah membelikanku kitab al-Mishbah. Gak jadi aku minta hadiah...," suaranya seperti tercekat di ujung telpon.
"Kenapa?"

 

Hening. Kurapikan ingatan tentang hadiah yang dia maksud. Aku mengulang tanya. Lama, tak ada jawaban.
"Maaf ya, Yah. Rankingku semester ini turun. Ayah gak usah belikan dah. Biar aku baca di perpustakaan saja. Sekarang sudah selesai direhab kok, sudah dibuka..."
Hatiku remuk. Rasa bersalah membekapku. Permintaan anakku sederhana, minta dihadiahi kitab kesukaannya untuk capaian prestasi ranking 1 dua semester berturut-turut. Kala itu, aku sudah bertekad untuk segera membelikannya. Sayang, lagi-lagi aku lupa. Kesibukan yang mengepung hari-hari meraibkan ingatan itu...
Hingga hari Selasa kemarin istri menelpon.

 

"Yah, jika smpean punya duit lebih, tolong belikan anak-e kitab Tafsir al-Mishbah. Arek-e pas sambangan tempo hari titip duit ke aku 800 ribu. Hasil nyisihkan uang jajane utk beli kitab itu, tapi jangan bilang-bilang Ayah jare..."
Aku terdiam. Rasa bersalah membuncah. Terbayang wajah anak keduaku itu. Teringat tingkah lucunya, juga cita-citanya yang sedari kecil berubah-ubah: penebang pohon, penjaga pantai, penjaga palang pintu kereta, masinis, pengusaha, guru karate, dokter, polisi, hansip, dll. Begitu masuk MTs dan tinggal di pesantren tahfizh, ia berhenti bicara cita-cita. Jika ditanya, ia selalu menjawab hanya bercita-cita pingin menghadiahi mahkota indah untuk aku dan ibunya kelak di hari berbangkit...

 

"Yah, kok diam sih? Smpean pernah janji ta mau belikan areke?"
"Ya. Nanti kubelikan. Duite simpen baik2. Saat sambang lagi nanti, kembalikan ke areke..."
Sorenya, aku langsung ke toko buku. Membeli kitab yang setahun lebih diidamkan anakku dan terlupakan olehku.
Malamnya, kuminta ke istriku, bila anakku telpon, bilang kalau yang dijanjikan Ayah sudah terbeli.
Dan seharian ini sudah empat kali dia menelponku hanya untuk bilang "Terima kasih ya, Yah. Terima kasih..."

 

Pada telpon keempat kalinya menjelang Maghrib tadi iseng kutanya cita-citanya.
"Mufassir," jawabnya tegas. "Seperti Kyai Quraish Shihab. Doakan ya, Yah..."
Mataku mendadak basah, berkaca-kaca. Kuaminkan berulang-ulang... (sahabats, tolong bantu diaminkan ya? Swun!)

Semoga Allah swt mengabulkan cita besarnya itu dan memuliakan Prof Dr M Quraish Shihab yang telah menginspirasi anakku mengubah cita-citanya...

---------
There are no perfect fathers but a father will always love perfectly.

#TafsirAlmishbah
#KyaiQuraishShihab
#AhmadWadudAlumam
#MMATambakBeras

Sumber : Status Facebook 

Friday, February 23, 2018 - 23:30
Kategori Rubrik: