Imsak

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

8 menit sebelum berbuka di 3 Ramadhan 1439 Hijriah

Saya menolak berbuka dengan penganan mewah. Kolak, cendol, es buah, adalah memori masa kecil. Di rangkaian berbuka 4 tahun terakhir, tak saya paksa diri atau menjadikan itu sebagai ritual. Puasa pun bukan event spesial di rumah kami. Jadi tak perlu ada yang diistimewakan.

Kalau cuma kacang goreng yang ada, saya berbuka dengan kacang goreng. Kalau cuma ubi rebus, ya itulah—lalu berlanjut dengan makan reguler seperti hari-hari biasa saat tak berpuasa. Puasa Islam, Puasa Yahudi, Puasa Pra-Paska, mendapat perlakuan sama, tak satu istimewa.

Tapi kemarin, seorang teman, yang dengannya saya sudah berbulan-bulan tak jumpa, mengajak bertemu di resto all you can eat. Dia beragama Katolik. Pk 17:30 ya, tanggap saya. Semula ia heran. Setelah tahu bahwa saya berpuasa, dia maklum.

Saya tiba pada pk 17:25. Dia sudah di sana. Meja kami dia penuhi dengan kolak, es buah, dan es teh manis. Saya terperanjat sekaligus merasa dihargai.

“Yuk makan,” ajaknya.
Saya menggeleng. “Hari ini Mahgrib jatuh pada pk 17:47.”
“Lu sudah converted ke Islam?” Dia terbelalak.
“Apa harus?”
“Kenapa musti berbuka tepat sesudah Mahgrib?”
Saya tersenyum.

Hari ini saya berpuasa Yahudi dan berpuasa Islam. Sebetulnya tak ada persoalan: sama-sama tidak makan. Persoalannya, Imsak jam berapa?

Dalam berpuasa Yahudi, jam Imsak saya adalah waktu matahari terbenam pada Jumat senja; jam berbuka juga pada waktu yang sama namun di Sabtu senja. Sementara dalam puasa Islam hari ini, jam imsak jatuh pada pk 04:25. Mana yang saya patuhi?

Kejadian ini baru pertama kali. Tahun-tahun sebelumnya saya tidak berpuasa Yahudi di bulan Ramadhan. Gak tahu kesambet apa, saya bertekad tak meninggalkan satu pun dari mereka pada tahun ini. Tapi, ya itulah, pagi tadi saya harus menaklukkan persoalan Imsak.

Puasa Yahudi yang saya jalani membolehkan minum air putih sebanyak saya mau di jam berpuasa. Puasa Islam memantangkan makan dan minum. Saya mengombinasikan dua aturan itu. Seseorang harus lebih cerdik daripada alam semesta, pikir saya.

Saya putuskan berhenti makan sejak pk 18:30 kemarin, namun masih berlanjut minum air putih. Lalu tadi pagi, sejak pk 04:20, saya putuskan berhenti minum. Sekarang, satu jam lagi saya akan berbuka puasa Islam sekaligus puasa Yahudi. Saya memuji kecerdasan saya.

Desember dua tahun lalu saya berada di Ankara. Itu malam Natal. Sepulang dari gereja saya mengunci diri di kamar. Anggota rombongan makan malam di resto hotel. Sebagian membuka botol Rakhi, araknya orang Turki. Mereka berucap selamat Natal kepada hanya sedikit dari kami. Jangan lupa, Turki adalah negara penting bagi kekristenan perdana. Tak cuma Antiokhia ada di sana, juga Nicea, kota yang darinya lahir kredo Iman Rasuli.

Pukul dua pagi, sesudah beribadah Natal secara pribadi, saya bergerak ke luar kamar, kepingin merokok. Turun melalui elevator, dengan cepat saya melangkah menuju backyard hotel. Dua petugas keamanan datang menyusul. Saya beri tanda pada mereka bahwa saya sedang tak mau ditemani. Mereka mundur.

Saya ambil gelas kecil, menaruhnya di bawah panci teh Turki, memutar kran, membiarkan air teh mengisi gelas hingga penuh, lalu melangkahkan kaki ke kedinginan winter. Sia-sia, saya tak sendiri. Di sana ada beberapa perokok. Saya mojok, dan sejenak kemudian menyesal: kenapa Cay, kenapa bukan red wine?

Saya terlihat asing bagi mereka. Dua orang datang mendekat. Kami bertukar-kata. Tahu bahwa saya dari Indonesia, mereka ingin menegaskan apa saya beragama Islam? Saya menggeleng dan menyebut Lutheran Christian. Mereka kaget. Yang lebih tua, agaknya berusia di sekitar enampuluhan, menjelaskan tentang islam.

Sepuluh menit habis. Cay sudah lama klaar. Teman lelaki itu bertanya apa saya butuh tambahan teh. Saya mengangguk. Dia berjalan ke dalam untuk mengambilnya. Si Tua tetap berkhotbah, terdengar bahkan semakin seru dengan bahasa Inggris sederhana dan Google Translate di selponnya.

Sebagian cerita itu pernah saya dengar saat duduk di Sekolah Dasar. Saya hapal banyak hal dari Islam, tak ragu mengenangnya dengan dada hangat. Satu lagu, yang sering muncul di RRI saat subuh puluhan tahun lalu, membuat saya tersenyum: …Allahuakbar, Allahuakbar, Allah, Allahuakabar”.

Pak Tua mengucap dua kalimat syahadat. Senyum saya mekar. Dia minta saya mengulanginya. Saya paham apa yang dia maksud. Tanpa ragu saya penuhi permintaan tersebut, mengucapkannya dengan takzim.

“Now you are Muslim,” serunya haru sambil memeluk saya.

“Sebagai bagian dari rahmatan lil alamin, ya, saya Muslim. Sebagai orang yang telah dibebaskan dari perbudakan konsep dosa, saya Kristen.”

“Tapi Anda sudah mengucap dua kalimat syahadat.”

“Betul. Apa yang keliru dengan itu? Saya bahkan pernah berdoa di Angkor Wat, di Pura Besakih, di banyak rumah ibadah lain.”

“Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat Anda sudah jadi Muslim.”

“No, dengan mengucap dua kalimat syahadat saya telah menjadi manusia, menjadi saudaramu, memahami penuh apa yang kau rasakan ketika menyerukannya sepenuh keagungan. Saya manusia merdeka, tidak punya pantangan apa-apa. Dan karena itu saya bersukacita senantiasa. Saya boleh bernyanyi lagu apa saja, berpentas dengan puisi siapa saja, mengucapkan kalimat apa saja tanpa harus mengubah agama saya. Kekristenan yang saya peluk membebaskan saya dari perhambaan. Di hadapan Allah, saya adalah partnerNya, kekasihNya, bukan hamba apalagi budakNya.”

Itulah juga yang saya ucap kepada teman Katolik saat berbuka puasa tepat ketika bedug terdengar berdentuman kemarin.

“Betul, gua gak beragama Islam sehingga jam mahgrib gak harus gua patuhi dalam berbuka Puasa. Namun gua memilih untuk merasakan apa yang para muslim rasakan ketika bedug ditumbur.”

Sejenak kemudian, dari pelantam, berhiruk bunyi beduk. Saya berucap, “Alhamdulillah”.

Sebelum menyendok kolak biji salak berselaput bubur sumsum, saya mendesah, “bismillahirrahmanirrahim”.

Agaknya terdengar sexy. Waitres di meja depan menoleh. Saya tersenyum. Dia datang menghampir. "Ada yang perlu saya tambahkan?"

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Sunday, May 20, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: