Import ISIS

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Sedang rame sliwar-sliwer opini tentang 'kepulangan' para eks ISIS dari kamp Suriah. Ada yang tegas menolak, ada pula yang tegas setuju. Banyak juga yang 'abu-abu'. Ngomong A padahal maksudnya B. Terdengar C, tapi yang dimau dan dituju ternyata D. Mbulêt . . .

Seorang perempuan penduduk Bogor, Jawa Barat ngejek Risma. Namun kata para pembela itu cuma kritik. Padahal yang diomongkan bukan prestasi, hasill kerja bu Risma, tapi 'nyerang' pribadi. Dikatakan sebagai 'cebong'. Ingat saya 2 kali.

Dilaporkan ke polisi oleh Risma, si perempuan itu pun ditangkap. Orang sebelumnya garang di medsos, ber'jihad' katanya, tiba2 termehek-mehek jadi ayam.sayur. Merengek minta ampun. Suami dan anaknya pun maju atau dimajukan sebagai 'senjata'.

Bu Risma pun jadi melas. Jatuh kasihan. Berita terakhir bu Risma mencabut laporannya. Tak lama lagi perempuan iru segera bebas. Trik begini berulang kali terjadi. Dan selesai cukup dengan meterai 6000 rupiah.

Namun isi hati dan pikiran mereka siapa yang bisa tahu ? Langkah mereka berikutnya ? Wallahu'alam . . .

Coba juga baca2 komen seorang atau beberapa orang politikus.

Ada arogansi pejabat. Tak tahan kritik. Kalau tak tahan kritik jadi Ibu Rumah Tangga saja. Tindakan perempuan itu cuma wujud dari kesebalan terhadap pemerintah. Dan Risma memicunya . . .

Bu Risma pun dilaporkan ke Ombudsman. Namun ditolak karena si pelapor bukan obyek yang jadi korban. Jadi yang lapor orang lain yang ndak ada urusannya.

Setelah Bu Risma cabut laporan pun, disebut untung segera 'sadar' bukan bijaksana . . .

Apa yang bisa kita 'baca' disini ?

Kalau pejabat atau politikus hendak 'tebar pesona' dengan' bawa 'pulang' kembali eks ISIS ke Indonesia, coba di-pikir2 dulu.

Ndak akan panen simpatik, alih2 panen suara pada Pilkada atau Pilpres mendatang. Mereka dan kelompoknya ndak akan berubah jadi 'lurus' dan sadar. Mengerti dan paham bahwa sampeyan orang yang 'bijak' dan pengasih.

Kecuali, ya kecuali, para sampeyan memang simpatisan atau memang butuh suara 'mereka'. Seperti Pilpres yang baru lalu.

Saking pinginnya menang, kubu mana pun di tarik masuk, ndak pedul. Pokoknya asal bisa teriak dzalim, thogut, haram, kafir, dan kosa kata 'sarngi' lain. Bahkan pada kelompok orang yang lupa negeri ini punya Pancasila. Padahal khilafah ndak ada dalam kamus kita.

Semua disambut dan semua digandeng . . .

Sekali lagi lupakan eks ISIS yang ngaku2 warga negara Indonesia. Toh ndak ada buktinya. Lagipula ngurus 'yang sejenis' di dalam negeri saja, sampeyan sudah pontang-panting hampir tak berdaya. Kok malah mau nambahi personel dan amunisi.

Kecuali, sekali lagi kecuali, sampeyan memang bagian dari 'mereka', atau sebagai simpatisan, atau bermaksud selalu ada dalam posisi aman dan nyaman, sebagai 'sephia'. Jadi bisa kanan-kiri oke. Banyak kok yang begitu, ndak usah malu-malu.

Para musang yang berbulu domba, memang selalu begitu. Selalu ndak tahu dan ndak punya malu. Suka 'nyathèk', ndak tau balas budi . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

 

Monday, February 10, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: