Impor Barang Dalam Dunia Islam Modern, Pertanyaan Untuk Prabowo

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Secara eksplisit dalam surat Quraisy tersebut kebiasaan orang Quraisy yang punya kebiasaan melakukan perjalanan (niaga), baik di musim dingin (syita') atau pun di musim panas (shaif).

لإيلاف قريش إيلافهم رحلة الشتاء والصيف

Salah satu versi tafsirannya bahwa mereka berdagang sudah go international, wilayahnya antar negeri dan bukan hanya jadi pemain lokal saja.

Meski komoditas produk asli Mekkah agak terbatas, tapi mereka tetap bisa membeli dari luar negeri (impor), serta juga menjualnya lagi (ekspor).

So, impor itu tidak masalah, bukan aib dan jangan dipahami sebagai kemunduran ekonomi. Impor bukan masalah asalkan juga diimbangi dengan ekspor juga.

Lebih menarik lagi, tidak semua yang mereka impor itu mereka pakai atau makan sendiri. Kadang suatu lomoditas diimpor untuk mereka jual (ekspor) lagi ke negeri lain.

Sampai hari ini jamaah umroh atau haji yang pulang bawa oleh-oleh dari tanah suci, selain air zamzam, kebanyakannya bukan produksi asli Saudi.

Di Saudi kita menemukan banyak produk yang diimpor dari Cina, Turki, Mesir, bahkan Eropa dan Amerika juga negara lainnya.

Pedagang kurma di Madinah pun mengaku bahwa tidak semua kurma yang dijualnya hasil dari kebun kurma lokal. Banyak kurma di pasar kurma Madinah yang diimpor dari negara lain, termasuk dari Eropa dan Amerika juga.

Wah . . .

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Thursday, November 8, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: