Iman

 
Oleh: Satria Dharma
Iman itu sebenarnya kata yang lain dari 'percaya' atau 'yakin'. Hanya saja kata ini lebih dikhususkan pada kepercayaan atau keyakinan dalam beragama. Tapi pada hakikatnya sama saja. Kalau Anda percaya bahwa jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan itu bisa menghindarkan Anda dari virus Corona itu juga Iman namanya. Hanya cantelannya yang berbeda. Pada dasarnya semua yang kita lakukan adalah karena iman.
Iman dalam keberagamaan itu sebenarnya jauh lebih sederhana ketimbang iman dalam sains. Mengapa? Karena dalam sains kita membutuhkan bukti atau tanda-tanda sebagai penguat sedangkan keberimanan dalam agama tidak perlu. Kita bahkan tidak perlu bukti sama sekali untuk percaya dan yakin untuk melakukannya. Kita bahkan bisa melakukannya meski kita tidak yakin manfaatnya. Tapi kita akan tetap melakukannya hanya karena orang yang kita imani atau percayai melakukannya. I do it because you do it.
 
Umar bin Khattab adalah sosok penganut agama yang sangat rasional. Beliau tidak segan mempertanyakan dan membantah hal dan tindakan yang menurutnya tidak logis meski itu dari Rasulullah atau dari sahabat yang lain. Sikapnya tentang ritual mencium batu Hajar Aswad sungguh menarik. Beliau berkata, "Demi Allah, aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah SAW menciumu, pasti aku tak akan menciummu."
Sikap beliau ini sangat menarik karena beliau tentunya tahu apa dasar dari sikap Rasulullah sehingga melakukan tindakan mencium batu tersebut yang nantinya akan menjadi dasar dari tindakan umatnya untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari.
"I do it because you do it, not because I believe in the power of the stone itself." Kira-kira begitulah...!
Karena iman dalam beragama itu lebih mudah dan sederhana maka orang yang beragama juga mayoritas adalah orang-orang yang berpikir sederhana. Orang-orang yang berpikir rumit dan selalu butuh bukti akan lebih sulit untuk beragama. We'll discuss about it later.
Pagi ini saya melakukan salat sunnah sebelum salat Subuh sedangkan Tara anak saya tidak. Mengapa? Karena seperti kebanyakan umat Islam saya juga percaya bahwa salat sunnah dua rakaat pahalanya lebih besar daripada dunia dan seisinya. Do I really believe it? Saya hanya bersikap seperti Umar r.a. Actually I do not really need 'dunia dan seluruh isinya' setiap pagi. Apa yang kumiliki saat ini sudah sangat saya syukuri. Tapi jika Rasulullah menyatakan demikian then I will do it, sebagai mana Umar r.a. juga mencium Hajar Aswad.
Sekian dulu ya... Capek juga nulis di HP. Saya sedang di desa saat ini dan tidak bisa bebas menulis seperti di depan komputer saya di Surabaya.
Tapi saya sungguh ingin mendengar pendapat Anda soal ini.
(Sumber: Facebook Satria Dharma)
Tuesday, July 14, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: