Iman dan Ilmu

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Kita yang dapat karunia Allah SWT berkesempatan mendapatkan ilmu lewat berbagai program pendidikan memang patut bersyukur. Karena rupanya Allah SWT tidak meratakan karunia ilmu kepada semua manusia.

Dalam urusan memberi ilmu, rupanya caranya tidak seperti karunia lainnya seperti udara. Kalau udara, semua kita dikasih udara biar bisa bernafas, hirup oksigen, semua orang dikasih air biar bisa minum air dan menjalankan kehidupan, dikasih sinar matahari plus ultra violet. Ini adalah jenis karunia yang sifatnya general.

Tapi untuk nikmat berilmu, ternyata sifatnya rada ekslusif dan tidak semua kita bisa mendapatkannya secara gratis atau otomatis. Allah SWT ternyata rada pilih-pilih dalam urusan satu ini.

Tidak mentang-mentang kita ahli ibadah, sering berdzikir atau rajin baca Quran, lantas diberi ilmu. Kalau diberi pahala, jelas dan pasti diberi. Tapi urusan ilmu, itu lain cerita.

Ilmu yang dimaksud disini mencakup semua jenis ilmu, baik ilmu agama atau pun ilmu umum.

Penjelasannya ada termuat dalam ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir, afala ta'qilun, afala tatafakkrun, afala yanzhurun dan seterusnya.

Kuncinya ada dua, yaitu melakukan penelitian langsung atau mempelajari apa yang sudah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Intinya pada penelitian.

Dan yang namanya menuntut ilmu itu pada dasarnya melakukan penelitian. Dimana ketika ilmu-ilmu yang sudah ditemukan itu kemudian dibakukan, maka secara teknis diajarkan kepada generasi berikutnya lewat institusi pendidikan baik sekolah atau kampus.

Secara praktis dan sederhana, bersekolah itu salah satu upaya paling simpel dan sederhana untuk bisa mendapatkan ilmu. Kalau tidak mau sekolah, mana bisa dapat kesempatan. Sederhana saja sih dan seperti itulah sunnatullahnya.

Jangan sekali-sekali kita berpikir Allah SWT kasih ilmu lewat jalur alternatif macam ilmu ladunni. Lalu mengharapkan terjadi keajaiban-keajaiban tanpa ada usaha.

Berdoa agar diberi ilmu itu boleh-boleh saja, tapi tidak pernah ada orang tiba-tiba berilmu tanpa lewat proses belajar. Yang bisa begitu hanya para nabi dan rasul, karena mereka dikawal wahyu.

Tapi kita manusia biasa, kalau mau berilmu ya harus lewat proses belajar, sekolah, kuliah dan seterusnya.

Nah yang paling unik, tidak mentang-mentang seseorang beriman, lantas otomatis dapat ilmu. Sebaliknya, tidak mentang-mentang dia kafir, lantas jadi bodoh dan tidak berilmu.

Karena ilmu dan iman itu ternyata tidak selalu satu paket. Makanya kita bisa saksikan ada orang beriman tapi tidak berilmu, ada juga sebaliknya orang berilmu tapi tidak beriman.

Alhamdulillah, kita termasuk yang beruntung karena insyaallah dapat dua-duanya, selain beriman kita ini berilmu. Dan ini yang ideal. Jadilah orang beriman, tapi sekolah dong, kuliah dong, belajar dong, berilmu dong. Biar punya ilmu.

Jangan sampai jadi orang yang keempat, sudah tidak beriman tidak berilmu pula. Itu ruginya double.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Sunday, November 22, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: