Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb dan Jokowi

Oleh : Tomi Lebang

Dari balik kaca mobil kepresidenan, Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb melambaikan tangan kepada Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Said Aqil Siradj, di pelataran kantor PBNU di kawasan Kramat, Jakarta, kemarin.

Sang Imam Besar datang ke Indonesia pekan ini dan meluruskan banyak hal, jika umat mau mendengar. Ia tokoh muslim paling berpengaruh di dunia, seperti tercantum dalam The Muslim 500: Ahmad Ath-Thayeb berada di peringkat pertama.

Imam Besar atau Grand Syaikh Al-Azhar adalah jabatan ulama Islam Sunni yang dihormati, sebagian umat menganggapnya sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam pemikiran Islam Sunni dan penerapan hukum Islam. Ia mengawasi Masjid Al-Azhar di Kairo dan tentu saja Universitas Al-Azhar, salah satu universitas tertua di dunia yang lulusannya bertebaran di Indonesia. Karena itulah, perlakuaan atas kedatangannya di Indonesia setara dengan perlakuan terhadap para kepala negara: ke mana-mana Ahmad Ath-Thayeb dalam pengawalan keamanan yang ketat oleh Paspampres.

Saat berkunjung ke PBNU kemarin, ia disambut penuh kegembiraan oleh Kiai Said Aqil Siradj dan jajaran pengurus organisasi Islam terbesar di Nusantara ini. Mereka berdialog, dalam Bahasa Arab yang diselingi gelak tawa, memberi petuah dan pencerahan, juga menjawab pertanyaan.

Kedatangannya di Indonesia, kata Ath-Thayeb menjawab pertanyaan: adalah untuk memperkuat Wasattiyat Islam – Islam jalan tengah, yang mendukung moderasi Islam, anti-ekstrimisme, anti-radikalisme.

Kata Syekh Ahmad Ath-Thayeb, kita perlu mengembangkan moderasi, yaitu pandangan yang berada di tengah-tengah, tanpa berusaha benar sendiri, apalagi terkait hal-hal sepele.

Ada banyak kelompok dalam Islam, dan karena itu janganlah saling bertikai, mengkafir-kafirkan orang lain. Satu (kelompok) mengatakan sayalah yang benar dan kamu salah sehingga darahmu halal. Penyebab umat Islam berperang di antaranya sesamanya, adalah karena kebodohan.

Ada yang bertanya pendapatnya tentang negara khilafah seperti yang dicita-citakan oleh Hizbuth Tahrir? Syekh Ahmad Ath-Thayeb menolak khilafah. Penolakan itulah suara terbanyak dari umat Islam sendiri. Ath-Thayeb juga menolak ajakan khilafah, hanya menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran sahaja.

Bisa jadi, ini berlatar pribadi Sang Imam Besar sendiri yang lahir di daerah wisata. Ia mengungkapkan sejak kecil sudah melihat kedatangan wisatawan dari aneka bangsa seperti Eropa, dll. Pendidikannya kemudian membentuk karakter toleran, ketika masuk Universitas Al-Azhar yang menerima segala mazhab dan aliran Islam. Seperti dikatakan Kiai Aqil Siradj, “di Al-Azhar itu, sholat dengan berbagai macam cara saja sah.”

Sumber : Facebook Tomi Lebang

Thursday, May 3, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: