Ilusi Pembenci Jokowi (Lucifer Effect Part 6)

Ilustrasi
Oleh : Hari
 
Ada seorang tokoh yang saking emosinya ingin menurunkan Presiden tega mengatakan begini: “Jadi saya menantang Pak Jokowi, mari kita bertanding secara fair. Mari kita duel secara gentle. Artinya apa, kita nggak usah jihad dengan fisik, menimbulkan bloodshed, tumpah darah, itu nanti ada masanya, kalau semua mentok saya kira itu perlu. Tapi itu masih jauh, masih ada cara lain, yaitu kita turunkan dengan demokrasi dan konstitusi,"
 
Belajar dari Milgram Experiment dan Stanford Prison Experiement, penyataan sang tokoh tersebut sangat berbahaya. Menurut Milgram Experiment, authority figure yang mengkampanyekan ajaran kekerasan bisa mengubah orang baik-baik menjadi amat jahat dan keji tanpa mereka menyadarinya. Stanford Prison Experiment pun mengatakan hal yang mirip. Enforced authoritarian measures berupa kata-kata ajakan kekerasan yang terus meneruskan dikampanyekan bisa mengubah orang yang awalnya tidak kepikiran untuk berbuat kekerasan tiba-tiba bisa melakukan tindakan yang keji tanpa mereka menyadarinya.
Belajar dari kedua eksperimen tersebut, hendaklah kita berhati-hati dalam menerima dan mencerna pesan yang disampaikan oleh authority figure yang berisi ajakan kekerasan. Karena kalau tidak berhati-hati, kita bisa terperosok ke dalam perbuatan yang keji dan melanggar ajaran agama, tanpa kita menyadarinya. Kisah pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib layak menjadi pelajaran berharga bagi kita. Bagaimana mungkin seorang Ibnu Muljam yang notabene adalah seorang ahli ibadah bisa berbuat sangat keji membunuh sang pemimpin ketika sang pemimpin yang sangat dibencinya itu sedang melaksanakan ibadah sholat subuh? Padahal kita tahu Ibnu Muljam adalah ahli ibadah dengan pengerahuan agama yang tidak sembarangan. Padahal kita tahu Ibnu Muljam juga seorang ahli ibadah yang tekun. Mengapa dia bisa terperosok sedemikian dalamnya sehingga membunuh dengan keji seorang pemimpin hanya karena perbedaan pemahaman agama? Mengapa demi membela agama seorang Ibnu Muljam justru melanggar ajaran agama?
 
Supaya tidak terperosok seperti Ibnu Muljam, hendaknya kita bersikap ekstra hati-hati dalam menerima pesan dari seorang authority figure dan atau enforced authotitarian measures yang berisi ajakan kekerasan. Jangan sampai sikap kita yang polos dimanfaarkan oleh kepentingan politik seorang authority figure yang tidak bertanggung jawab.
 
Sumber : Group Whatsapp
Tuesday, June 12, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: