Ilusi Machoisme yang Menyedihkan

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Orang ini ingin mengesankan kegagahan, machoisme, maka ia memilih kuda sebagai tunggangannya. Meniru imajinasi jujungannya, Prabowo. Bedanya, ia melakukannya sesuai budget yang ada. Pengin gagah, tapi ngirit.

Maka ia memilih kuda kurus dan kecil. Dua pengawalnya juga kerempeng. Pandangannya nanar. Gayanya seadanya. Baju dorengnya kedodoran. Dan yang membedakan mereka berdua dengan tentara selazimnya adalah, lengan bajunya tidak digulung.

 

Orang ini mungkin sedang membayangkan jiwa korsa. Meski jelas tertulis di dadanya Kokam. Organisasi yang mungkin tak pernah diajari memegang senjata api. Mungkin hanya baris-berbaris, pamer foto di media sosial. Organisasi yang lahir belakangan dan serba tertinggal.

Saat orang lain sudah bertahun-tahun lampau bergumul dengan mayat dan amis darah, tiba-tiba ada ide brilian di antara mereka, "Aha! kita bikin organisasi para militer!"

Lalu sekarang, orang-orang culun itu dikumpulkan oleh sebuah cita-cita besar, untuk bisa main tentara-tentaraan. Dan digunakan untuk memberikan tekanan politik. Meski tampang mereka lucu, usaha mereka boleh juga. Setidaknya, dalam kumpulan ribuan, suara mereka cukup keras menggelegar.

Ini ironi yang menyedihkan. Dari organisasi yang jauh dari kesan kekerasan, orang-orang dengan ilusi machoisme paramiliter terlahir. Mereka seperti hendak menolak sejarah, hendak mengubah cara pandang pendahulu mereka. Bahwa ngurus pendidikan dan kesehatan saja tidak cukup. Generasi baru harus diberi kebanggaan main tentara-tentaraan.

Biar culun, kerempeng, tak pernah pegang senjata, tak mengapa. Yang penting teriakannya kenceng. Kalau makan nambah.

Orang ini adalah gambaran sempurna dari ketakseimbangan antara cita-cita dengan realita. Low budget, tapi ingin tampil gaya. Maka ketika Amien Rais dipanggil polisi, dengan arogansi ndesit, ia berkata, "(nanti) Kokam marah..."

Mungkin dalam bayangannya, Kokam itu menakutkan. Padahal kalau melihat foto ini orang-orang justru malah tertawa...

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Sunday, November 25, 2018 - 00:30
Kategori Rubrik: