Ilmu Islam Di Televisi

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Salah satu penyumbang semakin kaburnya ilmu keislaman di tengah umat Islam menurut saya adalah televisi.

Hampir semua tv nasional punya 'jasa' dalam membuat bias pemahaman agama dan ilmu keislaman. Sayangnya hal itu terjadinya bukan lewat tayangan hiburan atau berita, tetapi justru lewat tayangan keagamaan.

Kok bisa?

Kalau tayangan umum, baik hiburan atau berita, sejak awal tidak menamakan diri sebagai tayangan agama. Kontennya mau bagus atau merusak hinggatidak sesuai norma dan susila, silahkan ribut lah dengan KPI.

Masalahnya justru ada di dalam tayangan agama. Karena sejak awal menyatakan diri sebagai tayangan agama atau religi. Tapi isinya justru bias kemana-mana.

1. Nara Sumber

Yang paling bermasalah dalam tayangan agama justru nara sumber. Mereka inilah biang kerok dan sumber utama kesalahan.

Biasanya mereka masuk tv tanpa latar belakang pendidikan ilmi syariah yang mumpuni. Sebagian besarnya tidak bisa bahasa Arab. Tidak bisa menunjukkan literatur asli, kecuali hanya berdasarkan searching di Google.

Kadang motivator jadi ustadz. Kadang tukang parenting jadi ustadz, terus pelawak, badut, pemain lenong, pemain sinetron dan semuanya. Menjadi ustadz mendadak cuma disebabkan karena dijadikan ustadz oleh TV.

Saya malah pernah tiba-tiba dipaksa jadi 'pakar hadits' oleh TVRI. Sekenanya saja mereka kasih nama. Tiba-tiba di bumper layar TVRI nama saya dicantumkan dan ada keterangan : Ahmad Sarwat / Pakar Hadits.

Astaghfirullah . . .

Kalau ketahuan sama guru saya, bisa mejret nih.

2. Produser Program Religi

Biang kerok yang lain adalah para produser acara keagamaan. Mereka nyaris tidak ada satu pun yang pernah punya latar belakang pendidikan agama dan ilmu keislaman.

Kalau pun satu dua ada yang pernah kuliah agama, paling cuma S1. Itu pun bikin konten acara keagamaan yang sama sekali tidak pernah dipelajari di kampusnya.

Kuliah S1 bidang bahasa arab, tapi bikin konten tentang ilmu ushul fiqih. Nah itu kan ngalor sama ngidul. Ujung-ujungnya kembali ke Google lagi.

Jadi ini mirip makan kuliner khas Betawi, tapi yang masak orang Afrika gitu. Yang seumur-umur belum pernah merasakan nikmatnya gabus pucung. Eh tiba-tiba dengan pedenya buka rumah makan betawi.

Yang tidak ikhlas itu saya sebagai orang betawi. Mau bisnis rumah makan silahkan saja, tapi kalau gak kenal kuliner betawi asli original, jangan bawa-bawa nama Betawi dong. Gak bisa terima nih.

Maka sikap saya terhadap tayangan keagamaan di TV yang biasanya di pagi hari itu mirip yang dilakukan guru saya, Prof. DR. Said Agiel Al-Munawar. Ganti channel cartoon network saja malah lebih baik.

Maksudnya biar tidak sakit di telinga mendengar ilmu keislaman diajarkan oleh orang yang tidak paham ilmunya. Biar hati nggak panas dan jadi tersinggung. Kita nonton kartun saja.

Mau belajar ilmu keislaman?

Jangan belajar daei TV. Datangi para ulama beneran yang memang ilmunya ilmu sungguhan. Jangan ngaji sama ustadz tv, kalau tidak jelas latar belakang disiplin ilmunya.

Ciri untuk mengenalinya mudah kok, bahan ceramahnya itu pasti tidak ada di kitab. Itu cuma hasil googling atau ngarang-ngarang sendiri. Cuma diselipin ayat atau hadits biar terkesan itu ilmu keislaman.

Tidak jelas ceramahnya itu masuk disiplin ilmu keislaman yang mana? Lebih parah lagi, yang nulis naskah siapa? Ternyata anonime. Mana daftar pustakanya? Pasti tidak bisa jawab, ya memang nggak ada.

Lha naskah sampah kayak gitu kok tayang nasional? Ditonton berjuta pemirsa pula.

Sampai dimana pertanggung-jawaban ilmiyahnya. Lalu pada kebakaran jenggot nggak bisa jawab.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat,Lc.MA

 

Friday, November 30, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: