Iklan "Rokok Membunuhmu" Perlahan Bunuh Petani Tembakau dan Buruh Pabrik Rokok

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU"..., hadir Melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012.

Spirit PP tersebut menghancurkan industri kretek nasional..., untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris..., dan BAT..., dan lain-lain.

Kampanye " ROKOK MEMBUNUHMU" di Sponsori oleh Bloomberg Initiative..., sebuah lembaga yang berkedudukan di Amerika Serikat.

Bloomberg Initiative mengumumkan..., bahwa lembaga itu mensponsori (membiayai) ilmuwan..., kaum profesional..., lembaga penelitian...; lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya.

Juga termasuk mensponsori lembaga keagamaan..., agar membuat fatwa haram atas rokok.

Maka jelas..., bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.

Banyak pihak dipengaruhi dengan duit....; para pejabat di Departemen..., tingkat menteri..., di bawah menteri..., gubernur..., bawahannya..., bupati atau wali kota dan bawahan mereka...; semua menjadi korban yang berbahagia..., karena limpahan duit yang tak sedikit jumlahnya untuk masing-masing pihak.

Mereka menjadi korban kecil..., karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok..., yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.

Tapi apa artinya hati nurani di jaman edan ini dibanding duit melimpah....?

Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri..., demi duit.

Ada juga Gerakan Anti Rokok demi kesehatan lingkungan.

Tapi tak tahukah mereka..., bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek....?

Kretek kita sangat khas.

Dan di negeri orang bule..., kretek kita menghantam telak perdagangan rokok putih mereka.

Kretek unggul...., dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.

Berbeda dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro..., dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang.

Setelah penelitian belasan tahun..., salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah..., bahwa asap rokok memang mengandung zat merugikan..., namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.

Lebih jauh lagi..., teori Prof Sutiman menyatakan..., bahwa rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit..., bukan di lapangan.

Jadi..., asal ada pasien mengidap kanker..., dan kebetulan dia merokok..., serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.

Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien..., semisal 'asupan' polusi asap kendaraan..., konsumsi MSG..., dan sebagainya diabaikan.

Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.

Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut..., menjadi cukup jelas lah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia.

Banyak tokoh nasional yang perokok kretek..., tetapi tetap bugar dan produktif hingga usia senja.

Sebut saja misalnya Haji Agus Salim..., mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan..., penulis besar Pramoedya Ananta Toer..., master menggambar Pak Tino Sidin..., tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar..., dan masih banyak contoh lain.

Mengapa Industri kretek menjadi sasaran Amerika...?.

Karena Industri ini sudah memberikan sumbangan berharga bagi struktur ekonomi Indonesia.

Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal...:

1. Tumbuh berkembang dan bertahan lebih dari satu abad..., tanpa ketergantungan modal pada negara.

2. Menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal.

3. Terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir..., dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung.

4. Industri melayani 93% pasar lokal.

Dengan karakter sekokoh itu..., tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional.

Kekuatan inilah yang diincar neo-kolonialis gaya baru..., yang ingin menguasai industri rokok..., tapi dengan mematahkan ketangguhan industri kretek Indonesia.

Caranya..., ya lewat kampanye anti rokok: ROKOK MEMBUNUHMU.

Jadi yang senang merokok..., ya silahkan merokok aja...; apalagi kabar kenaikan cukai rokok itu ternyata hoax.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Sunday, October 6, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: