IJTIMA Ulama Jilid 2 Itu Dagelan Karena Putus Asa Dengan Prabowo

Oleh: Inas N Zubir (Ketua Fraksi Hanura DPR-RI)

Hasil Ijtima Ulama II Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF)‎ yang mendukung Prabowo-Sandiaga dalam Pilpres 2019, sampai saat ini terus bergema. Banyak yang ikut merapat dalam satu barisan. Ada juga yang memilih bersebarangan arah dan mendukung pasangan Joko Widodo dan Maruf Amin. 

Kongkow-kongkow ulama dan tokoh nasional Jilid 2 yang berlangsung pada hari minggu, tanggal 16 September menjadi pertunjukan dagelan yang menggelikan pasalnya adalah ketika kewibawaan ijtima ulama jilid 1 tidak diindahkan oleh Prabowo, karena usulan cawapres mereka yakni Salim Asegaf dan UAS hanya dipandang sebelah mata oleh Prabowo, dimana Prabowo malahan lebih nyaman memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres-nya bahkan telah mendaftar secara resmi ke KPU, maka dengan terpaksa mereka membuat keputusan tentang cawapres yang disesuaikan dengan selera Prabowo yakni Sandiaga Uno. Pertunjukan dagelan ini-pun menyisakan pertanyaan besar dari masyarakat yakni, apakah ini merupakan keputusan atau keputus-asaan?!

Masyarat jangan terkecoh dengan istilah “Ijtima” ulama yang samasekali tidak ada kaitan-nya dengan fiqih dalam ajaran Islam, karena Ijtima berasal dari bahasa Arab dimana dapat berarti “kumpul” atau “kumpul-kumpul” atau dalam bahasa gaulnya adalah “kongkow-kongkow”, jadi ijtima ulama dan tokoh nasional artinya kongkow-kongkow ulama dan tokoh nasional.

Kongkow-kongkow ulama dan tokoh nasional tersebut yang hanya dihadiri sekian puluh ulama dan beberapa gelintir tokoh nasional yang tidak semuanya muslim, tidak boleh mengatas namakan ulama dan umat Islam seluruh Indonesia,_ karena mereka adalah bagian dari strategi pemenangan kubu capres Prabowo Subianto dengan maksud dan tujuan untuk mencuri perhatian umat Islam dengan mengatas namakan agama yang sudah dipolitisasi jelang pilpres 2019.

Oleh karena itu, sekian puluh ulama yang hadir dalam Ijtima tersebut tentunya juga bukan mewakili jutaan ulama yang ada di Indonesia dan mereka tidak boleh mengatas namakan ulama seuruh Indonesia, pasalnya adalah institusi ulama yang diakui oleh umat Islam dan ulama Indonesia adalah Majelis Ulama Indonesia(MUI).

Kongkow-kongkow ulama dan tokoh nasional Jilid 2 yang berlangsung pada hari minggu, tanggal 16 September menjadi pertunjukan dagelan yang menggelikan pasalnya adalah ketika kewibawaan ijtima ulama jilid 1 tidak diindahkan oleh Prabowo, karena usulan cawapres mereka yakni Salim Asegaf dan UAS hanya dipandang sebelah mata oleh Prabowo, dimana Prabowo malahan lebih nyaman memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres-nya bahkan telah mendaftar secara resmi ke KPU, maka dengan terpaksa mereka membuat keputusan tentang cawapres yang disesuaikan dengan selera Prabowo yakni Sandiaga Uno. Pertunjukan dagelan ini-pun menyisakan pertanyaan besar dari masyarakat yakni, apakah ini merupakan keputusan atau keputus-asaan?!

Selain itu, kongkow-kongkow ulama dan tokoh nasional jilid 2 menelurkan pakta integritas, dimana salah satu point-nya meminta Prabowo untuk merehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rijieq Shihab (HRS), padahal semua kasus pidana HRS sudah di SP3-kan oleh Kepolisian, jadi terkesan lucu permintaan mereka tersebut,  lalu mengapa pula harus meminta hak-hak-nya HRS dipulihan?!

Lha...!?
 Bukankah tidak ada hak-hak HRS yang disandera oleh pemerintah?! 
Apa iya HRS tahanan politik yang melarikan diri?!

Justru point dari pakta integritas tersebut, malahan menjadi dugaan yang memunculkan pertanyaan besar, mengapa HRS tidak mau pulang ke Indonesia, padahal seluruh kasus pidana-nya sudah dihentikan penyelidikan-nya? 
 Apakah ada sesuatu atau seseorang yang membuat HRS enggan/ogah untuk pulang?!
Ini kan sama artinya bahwa yang menahan HRS belum bisa pulang, adalah persoalan pribadi HRS sendiri!_

Atau...

HRS memang sudah ingin mngganti identitas menjadi Bang Toyib!?

Sadhu

Tuesday, September 18, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: