Iffat dan Sejarah Sekolah Perempuan di Arab

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Sejak kapan perempuan di Arab Saudi diperbolehkan untuk sekolah formal? Dimanapun di dunia ini, perempuan selalu terlambat masuk sekolah formal. Jangankan di Arab Saudi, di Amerika Serikat pun, baru belakangan perempuan bisa mengenyam pendidikan formal, meskipun laki-laki sudah menikmatinya selama berabad-abad. Maka tak heran jika sejarah mencatat banyak sekali sarjana dan tokoh lelaki tetapi hanya sejumput saja yang perempuan. 

Hal itu bisa dimaklumi karena kaum lelakilah yang mengatur, mendominasi, dan mengontrol produksi kebudayaan, termasuk dunia pendidikan dan sekolahan. Kaum lelaki–apapun agama dan etnis mereka–merasa sebagai “lelananging jagat” yang mengendalikan dunia sementara perempuan mereka anggap sebagai “makhluk lemah”: komplemen dan pendamping laki saja yang urusan utamanya hanya seputar dapur (masak), sumur (nyuci), kasur (ngencuk). Jadi, tak perlu sekolah. 

 

Dulu, di Arab Saudi, sebagaimana di negara lain, juga begitu. Sekolah dan pendidikan formal hanya untuk kaum lelaki. Sementara perempuan cukup belajar membaca Al-Qur’an di rumah. Di Arab Saudi, sekolah formal independen untuk perempuan baru berdiri pada tahun 1955. Di kawasan Arab Teluk, Bahrain yang dianggap cukup lama memiliki sekolah perempuan, yaitu sejak 1919 saat pertama kali berdiri sekolah (madrasah) perempuan bernama Al-Hidayah al-Khalifiyah. 

Untuk Arab Saudi, tokoh penting yang memprakarsai pendidikan dan sekolah formal untuk perempuan adalah Iffat Al Thunayyan (1916–2000), gadis campuran Arab-Turki, yang juga istri mendiang Raja Faisal. Iffat adalah sosok perempuan pendidik (educator) dan guru yang moderat dan modern. Anak-anaknya semua didikan kampus di Amerika maupun Inggris: Harvard, Princeton, Georgetown, Cranwell, Sandhurst. 

Pada tahun 1943, Iffat membuka “girls section” di sebuah sekolah lelaki di Taif, meskipun hanya berumur sekitar empat tahun saja karena terkendala oleh banyak hal, termasuk serbuan dari sekelompok klerik konservatif yang tidak setuju adanya sekolah perempuan. 

Baru pada tahun 1955, Iffat berhasil mendirikan sebuah sekolah perempuan otonom bernama Madrasah Darul Hannan di Jedah. Saat pertama kali dibuka, ada 15 anak-anak perempuan yang menjadi siswi sekolah, termasuk putrinya. Setahun kemudian, tahun 1956, Iffat mendonasikan tanah dan uang untuk mendirikan sebuah panti asuhan khusus untuk perempuan yatim-piatu yang juga dilengkapi dengan sarana pendidikan. 

Sebetulnya sejumlah sarjana Indonesia yang bermukim di Makah, baik laki maupun perempuan, juga turut memprakarsai pendirian sekolah perempuan di Arab Saudi. Misalnya Bu Nyai Khairiyah (putri pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan istri Kiai Abdullah Muhaimin Lasem) pada tahun 1940an pernah mendirikan sekolah informal untuk perempuan di Makah bernama Madrasah Khuttab al-Banat. Kelak pada tahun 1957, Syeikh Yasin Padang dan istrinya Bu Nyai Siti Aminah juga mendirikan sekolah untuk perempuan bernama Madrasah Ibtidaiyah lil Banat (didirikan oleh Syaikh Yasin) da Jam’iyyah Khairiyah (dirikan oleh Bu Nyai Siti Aminah untuk mengenang almarhuman Nyai Khairiyah tersebut). 

Kemudian, pada tahun 1960, Iffat juga memprakarsai pendirian sebuah perguruan tinggi untuk perempuan di Riyad yang diberi nama Kulliyat al-Banat. Pada 1970an, ia untuk pertama kalinya dalam sejarah Saudi, mendirikan sebuah “community college” untuk perempuan. Kemudian pada tahun 1999, beberapa bulan sebelum wafat, ia memprakarsai pendirian sebuah universitas khusus untuk perempuan bernama Iffat (atau Effat) University yang didirikan disamping Madrasah Darul Hannan yang ia dirikan dulu. Effat University adalah kampus swasta pertama untuk perempuan yang didirikan di bawah payung King Faisal Charitable Foundation. 

Iffat bukan hanya tokoh penting di balik reformasi pendidikan perempuan di Arab Saudi. Ia juga tokoh penting di balik gerakan emansipasi perempuan di Arab Saudi. Tercatat pada tahun 1967, Iffat mendirikan sebuah organisasi bernama Nahdlah al-Saudiyyah yang bertujuan untuk mendidik dan mengentaskan kaum perempuan buta huruf di Saudi. 

Maka, jika sejak beberapa tahun terakhir ada gerakan masif emansipasi perempuan di Arab Saudi, maka bisa dikatakan itu berakar dari gagasan dan contoh nyata yang dilakukan Putri Iffat ini yang memiliki motto: “Didiklah dirimu! Seorang ibu, jika dididik dan dipersiapkan dengan baik, bisa menjadi sebuah sekolah dalam dirinya.” 

Keterangan: foto di bawah ini adalah para siswi SMU Madrasah Darul Hannan di Jedah. Foto ini diambil tahun 1980. 

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Saturday, January 11, 2020 - 05:15
Kategori Rubrik: