Idul Fitri Paska Pilpres

ilustrasi

Oleh : Widhi Wedhaswara

Jamaah Al-Broadcast Medsosiyah

"Sebening embun
Seputih wine
Sebersih kenangan akan mantan."

Momentum Idul Fitri digunakan sebagian orang untuk bermaaf-maafan, kalau di Jawa sering dikenal tradisi “sungkem” yaitu duduk menghadap untuk meminta maaf kepada orang tua atau sanak keluarga lainnya, tradisi itu masih ada hingga sekarang. Seiring berkembangnya teknologi yang pesat, membuat sebagian orang ingin yang “praktis” nya saja, salah satunya adalah dengan mengirimkan ucapan maaf hanya dengan di broadcast via media sosial seperti Whatsapp, BBM , Line dan lain-lain.

Rata rata broadcast yang saya terima menunjukan bahwa minta maaf itu hanya sebagai formalitas karena momentum Idul Fithri, bukan berdasarkan niatan hati yang tulus untuk bermaaf-maafan.

Coba bayangkan ada dua orang yang telah bermusuhan sejak lama, tiba-tiba salah satu diantara mereka mengirimkan chat “Bro fulan taqaballahu minna wa minkum ya, maafin semua kesalahan-kesalahan gue ya” dan dijawab “Iya bro, taqaballahu yaa kariim, gua juga minta maaf atas kesalahan gua selama ini”

Mungkin kalimat nya sangat simpel, tidak indah dengan kalimat-kalimat ramadhan, namun memiliki makna yang sangat tulus untuk saling memaafkan, bisa jadi kita akan menangis apabila mendapat ucapan permintaan maaf yang tulus dari orang-orang yang pernah menzholimi kita atau telah lama kita benci. Tulus, itu kuncinya.

Belum lagi, ada pula yang akan memperdebatkan antara dalil minal aidin dengan larangannya, bid'ah dan lain - lain. Lagipula, dalam merayakan Idulfitri, sejatinya agama enggak pernah memberi anjuran apapun soal maaf dan memaafkan orang lain. Sebab, makna Idulfitri jauh lebih spiritual dari itu, yakni mengembalikan diri ke jalan Allah SWT.

Jadi, antara kita dan Allah saja pun sudah cukup. Tapi, mengucap maaf pun bukan berarti salah. Demi memelihara hubungan baik antar sesama manusia (Habluminannas), hal itu jelas sangat baik, Asal tidak memanfaatkan dengan mencoba menghubungi mantan dengan alasan silaturahmi.

Sumber :Widhi Wedhaswara
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr NU

Friday, May 31, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: