Idul Fitri dan NKRI

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Kelelahan atas besarnya energi bangsa ini yg terserap oleh kampanye pilpres, pencoblosan serentak yg diisi pengorbanan nyawa para pahlawan demokrasi, petugas TPS yg gugur jumlahnya nyaris 1.000, aparat kepolisian yg gugur, Ibu yg hamil dan harus melahirkan lbh awal. Dan deretan panjang kecelakaan, serta kelelahan fisik serta phsikis. Namun semua pengorbanan itu dibalas dgn suksesnya perhelatan pilpres yg paling rumit didunia.

Kelelahan diatas tdk berhenti disitu, ternyata hasil hitungan jd masalah besar. Salah satu paslon yg sujud duluan sampai 2 kali dgn klaim kemenangan diluar gelanggang, membuat suasana tegang. Bak laron terbang siang, lontaran tuduhan kecurangan tanpa ada berkas pembuktian, adalah sebuah drama kekonyolan yg dipamerkan tanpa ada perasaan, bahwa prilakunya me malukan sekaligus dijadikan bahan tertawaan, yg justru bs dipertanggung jawabkan, artinya yg ketawa punya dasar dan logika, sementara yg bilang menang malah tunggang langgang, karena semua yg dibilang ngarang.

 

Strategi bakar rumahnya ambil isinya, nyaris dicoba kali kedua, untung saja semua sudah bs dibaca arahnya kemana. Sehingga drama kolosal yg bisa melumat wilayah sosial bs ditangkal dan gagal total, walau sempat ada perusuh berutal mencoba membuat onar dalam skala luas nan ganas.

Dalam suasana ramadhan kita nyaris tak tahan godaan meladeni tekanan para demonstran yg di carter pakai ambulan, sekali lagi untung saja TNI - POLRI, cekatan penuh kesabaran dan akhirnya bisa mengendalikan, Jakarta terhindar dari pembakaran besar-besaran.

Narasi dan benang merah semua kejadian sdh terbaca sumbernya, taktik dan eksekusi penyelesaiannya ditangan Polisi, apakah mau dihabisi atau dgn jalan negosiasi, kelihatan sdg melihat kondisi dan kalkulasi mana resiko yg paling minim agar semua bisa diatasi.

Ramadhan penuh tekanan sudah dilewati, idul fitri hari ini baru kita jalani. Semua khotbah mengarah kepada hal yg mengajak agar kita selalu ramah tanpa marah-marah. Esensi fitri adalah suci dari terlahir kembali, semoga semua sadar diri sesuai dgn jati dirinya, tidak ada dalil hal yg dipaksakan bisa memerankan kebenaran, karena memaksa yg salah menjadi benar, ibarat ayam mengerami telur bebek, sama sama menetas, tapi anaknya bukan ayam, yg menetas ttp anak bebek.

Semoga kefitrian dari proses kesadaran akan sumber kebenaran bs membawa Indonesia berjalan sesuai fitrahnya, fitrah sebuah bangsa yg dilahirkan dari perjuangan, bukan hadiah yg diterima dari penjajah. Maka orang yg berjuanglah yg pantas menang, bukan pecundang yg maksa minta menang. 

Semoga dihari yg fitri ini semua hati diterangi, saling mengakui sesuai porsi dan bukti, dan semua pihak menundukkan hati dgn kesadaran tinggi, bahwa hasil dari semua kontestasi akan disumbangkan kepada ibu pertiwi.

Maafkan kami anak-anak negeri yg kadang lupa diri atau tak tau diri karena alfa dari introspeksi, smg idul fitri kali ini bs membuat kami sadar bhw kami hanya sebutir makhluk lemah yg menumpang tinggal di NKRI.

TERIMA KASIH KEPADA YG SDH MULAI MENGERTI, PILIHAN KITA BEDA, TAPI TAK PERLU DITANYA KEPADA IBU ANI.\

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, June 6, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: