Idul Fitri bagi Bangsa Indonesia

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Idul Fitri atau Lebaran..., oleh bangsa Indonesia tidak dimaknai hanya sebagai sebagai hari raya ataupun hari kemenangan saja.

Idul Fitri adalah juga sebagai bentuk penguatan silaturrahim di antara keluarga..., tetangga..., dan masyarakat...; dengan saling memaafkan dari lubuk hati yang paling dalam.

Tradisi maaf-memaafkan ini..., tidak lepas dari makna Idul Fitri itu sendiri.

Kelapangan dada dalam makna ini turut mewarnai Idul Fitri..., sehingga masyarakat Indonesia menyebutnya Lebaran (asal kata lebar..., artinya lapang).

Tradisi saling berkunjung dan bersilaturrahim ini..., bahkan tidak terdapat pada umat Islam di negara lain.

Umat Islam di negara lain setelah menunaikan sholat Idul Fitri..., langsung beranjak ke rumah masing-masing...; dan hanya merayakannya dengan keluarga.

Berbeda dengan di Indonesia..., yang mampu menciptakan harmonisasi kehidupan untuk memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan kembali suci bersama masyarakat banyak.

Alasan kuatnya menyambung silaturrahim di momen Idul Fitri inilah..., yang turut menciptakan tradisi mudik menjelang lebaran tiba.

Tujuan mudik adalah untuk berkumpul bersama keluarga..., saudara..., dan handai taulan di kampung kelahiran.

Bahkan bagi yang belum sempat mudik menjelang lebaran..., mereka akan melakukannya setelah lebaran.

Untuk menyambut datangnya Idul Fitri ini..., berbagai macam kuliner dan makan khas juga dikreasikan oleh masyarakat muslim Indonesia.

Misalnya...: Opor ayam..., kupat (ketupat)..., kue lepat..., dan makanan-makanan khas lainnya.

Makanan khas tersebut juga bukan hanya sebatas makanan..., tetapi mempunyai filosofi dan makna yang sangat dalam.

Seperti kupat...; yang berarti 'ngaku lepat (Jawa)..., atau mengaku salah (Indonesia).

Mengakui segenap kekhilafan..., dosa..., dan kesalahan...; merupakan hakikat kembali pada kesucian sesuai esensi Idul Fitri.

Demikian juga halnya dengan meminta maaf dan memberi maaf..., yang harus menjadi kesadaran bersama untuk memaknai hakikat Idul Fitri.

Jadi.., Idul Fitri atau Lebaran ini menyatukan berbagai unsur...; yaitu...: nilai-nilai agama.., penguatan identitas bangsa..., penumbuhan tradisi..., dan budaya positif melalui silaturrahim..., serta peneguhan cinta tanah air.

Unsur-unsur tersebut di atas..., diejawantahkan melalui tradisi mudik ini.

Dengan kata lain..., muara dari hari kemenangan ini selain meningkatkan kesalehan transendental..., juga menguatkan kesalehan sosial sebagai tujuan utama manusia dalam beragama.

Kesalehan sosial ini akan membentuk keterbukaan pola pikir..., keluasan pandangan..., tenggang rasa..., dan toleransi terhadap seluruh umat manusia...; apapun suku..., etnis..., budaya..., ras..., dan agamanya.

Pada tahun ini..., karena Pandemi Corona..., mungkin banyak dari kita yang kehilangan momen ini.

Tapi tentunya kondisi ini tetap tidak mengecilkan hakikat lebaran..., karena semua itu sudah terpatri di hati kita yang paling dalam.

Selamat berlebaran..., maaf lahir dan batin...

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Monday, May 25, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: