Ibuku, Jiwa Ragaku

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Ibuku orang yang pendiam. Seperti lazimnya pola parenting zaman dulu, ibuk memang lebih banyak berperan dalam perinthilan hidup kami anak2nya sehari-hari. Bapak memposisikan diri sebagai pengayom yang berwibawa, lazimnya bapak zaman old.

Seperti perempuan Jawa pada umumnya, Ibuku mencintai kami (bapakku, aku dan adek2ku) dalam diam, dalam lakunya, bukan mulutnya. Kepatuhan perempuan Jawa yang bahkan rela menunggu dalam lapar, saat bapak harus pulang larut malam, demi makan malam bersama bapakku.

Ibuku adalah penghitung yang cermat. Walo seusngguhnya kami tak kekurangan, bapak berpenghasilan sangat baik. Bapak menyekolahkan kami dengan baik di sekolah yang sangat baik. Tapi saat tiba masanya kami bertiga kuliah bareng (aku hanya berselang setahun dan 3 tahun dgn dua adekku) dan bapak sudah sedho, ibuk tidak kesulitan (atau aku tak tau) membiayai kuliah di 3 kota untuk kami. Hasil dari cermat berhemat selama belasan tahun. Yang membuatku sebagai anak lelaki satu2nya gengsi, sehingga berjuang mencari beasiswa atau usaha sampingan selama kuliah. Walo ibuk sangat bisa membiayaiku

Iya, aku dibesarkan dalam kasih sayang ibuk yang "sangat Jawa". Kasih yang amat dalam walo tak diucapkan. Itu mempengaruhi tekadku kelak, mengenai pola relasi suami istri dan anak2nya

Yang kuingat dari "cinta tak terucapkan" itu HANYA dua hal, tapi sangat berbekas. Yang membuatku melakukan sesuatu bertahun kemudian

Satu.. Saat ibuk rela berganti bus dan angkot 6x, demi hanya mengantar 2 potong bajuku ke Magelang, saat anaknya bersiap memasuki sekolah berasrama. Sembari memberi tahu bahwa bapak pindah ke Banda Aceh dan ibuk beserta adek2 akan segera menyusul.

Berita yang sedikit membuatku, anak 15 tahun, gentar dan drop (Mendadak sekali, pikirku. Mungkin bapak ngga mau membuat konsenku trpecah saat seleksi akhir). Karena merasa Aceh itu jauuuh sekali. Dan aku tak bisa mengontak keluarga selama 3 bulan pendidikan dasar. Ibuk memelukku cukup lama, lalu pulang ke Semarang dengan rute yang sama, berganti moda 6x.

Kedua adalah 4 tahun kemudian, saat bapak saangat drop 5 bulan dari pulang ibadah haji (dimana di Mekah pun harus memakai kursi roda) dan harus masuk ICU. Ibuk tak bercerita sampe 2 minggu kemudian ibuk menginap di sekitar ICU setiap saat. Hanya beralas tikar, yang nampaknya membuat ibuk sempat terserang TB, kemudian.

Saya tak berdaya di Bogor, ngga punya duit dan malu minta uang ke ibuk untuk pulang. Sampe setelah minggu kelima, akhirnya aku diminta pulang dgn segera. (Yang di cerita lain kepulanganku yg tergesa itu harus membuatku bertarung dengan preman Pulogadung, di cerita lain). Bapak sedho dan sampe bertahun kemudian aku baru bisa mengerti kenapa cinta diciptakan Tuhan untuk para perempuan kepada suaminya, termasuk ibuku.

Jadi setelah aku mulai mengarungi dunia usaha, 12 tahun lalu, aku berpikir keras bagaimana caranya bisa mempunyai unit usaha di Semarang dan sekitarnya. 2008 sampai sekarang dan insya Allah seterusnya, keinginanku terkabul. Jadi aku punya alasan untuk pulang ke Semarang sebulan atau 40 hari sekali. Bertemu ibuk. Mengantarnya belanja ke pasar Jerakah atau Ngaliyan. Atau apapun. Dan mendengar cerita2nya juga mengunjungi kuliner klangenan ibu dan bapak berpuluh tahun lalu.

Yah begitulah

Selamat Hari Ibu

Sembah sujud untuk ibuku dan untuk ibu panjenengan, sedulur semua, di seluruh dunia

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Friday, December 22, 2017 - 15:45
Kategori Rubrik: